
Alika memandang malas Refan yang kini sudah berada di restoran, pria itu tidak seorang diri melainkan dengan Leon, sahabatnya. Baru saja semalam mereka bertunangan dan sekarang Refan justru sudah mengatur hidupnya. Ingin rasanya Alika mencekik Refan, tetapi seketika dia ciut melihat tatapan tajam milik pria itu.
Saat ini, mereka tengah berada di ruangan Alika. Refan dan Leon sedari tadi memperhatikan Alika yang tengah sibuk memeriksa dokumen, walau harus tertunda karena kehadiran mereka. Raut wajah perempuan itu sangat serius membuat Refan gemas sendiri.
"Lik?" panggil Leon.
Dia mendongak. "Kenapa?" sahut Alika.
"Yesha itu kayak gimana anaknya?" tanya Leon.
Refan memandang sahabatnya. "Lu beneran suka dia?"
Alika yang mendengar itu segera meletakkan pulpennya di meja, dia memandang Leon dengan intens. Ada banyak yang menyukai sahabatnya itu, tetapi baru sekarang ada yang berani bertanya padanya. Biasanya mereka akan langsung mundur begitu saja jika Alika mengertaknya.
"Kenapa? Lu suka sahabat gua?" tanya Alkka yang dibalas anggukan oleh Leon.
"Yesha itu tipe yang susah didapetin, kalau udah berhasil dapetin hatinya, dia bakal jadi bucin banget. Ya walau bucin, logika dia tetep jalan," imbuh Alika.
Leon yang mendengar itu menyandarkan tubuhnya pada penyangga kursi. Dia menghela napasnya kasar, awalnya memang berniat mempermainkan Yesha. Namun, Yesha terlalu sulit untuk dijadikan mainan, perempuan itu mempunyai daya tarik yang selalu berhasil membuatnya ingin mengenal Yesha lebih jauh.
"Hari ini dia ketemu clien di sini, samperin aja," ujar Alika.
"Huh oke! Gua di luar aja, kalian silakan berduaan," cetus Leon membuat Alika mendelik.
"Gak tau diuntung!" hardik perempuan itu.
Refan tersenyum tipis melihat kelakuan tunangannya itu. Dia berjalan mendekati Alika membuat perempuan itu merasa was-was. Alika tak mengerti akan dirinya yang selalu salah tingkah dan mati gaya jika di hadapkan dengan sosok Refan.
Refan mengangkat tubuh Alika membuat perempuan itu berada di pangkuannya, sedangkan Alika menahan napasnya. Jantungnya berdetak tak karuan berada di posisi ini, dirinya merasa tak nyaman. Baru saja dia ingin bangkit dari duduknya, tetapi Refan justru menahan pinggangnya. Alika berdesis, dirinya dibuat salah tingkah oleh tunangannya.
"Kenapa, hm?" tanya Refan dengan nada dingin.
"Kenapa Papa jodohin gua sama cowok dingin kayak lu sih?!" sungut Alika.
"Kamu belum pernah saya bucinin, makanya bilang gitu." Pria itu berujar sembari merapikan anak rambut milik Alika.
"Dih, Refan ih!" rengek Alika, jantungnya benar-benar dibuat tak aman oleh pria di hadapannya.
__ADS_1
"Baper eh?" ejek Refan.
Alika menghembuskan napasnya. Wajahnya bersemu, dia melirik Refan sekilas. Tanpa aba-aba perempuan itu memeluk Refan dengan erat membuat pria itu terkekeh geli akan tingkah tunangannya.
...***...
Darren memandangi pria paruh baya di hadapannya dengan intens. Perasaan pria itu bercampur aduk sekarang, senang, sedih, kecewa, dan marah. Dirinya hampir saja kehilangan sang anak karena tingkah mertuanya itu. Jika, saja Cellyn sama seperti perempuan di luar sana, mungkin nasibnya akan buruk karena kakeknya sendiri.
Toni Teraxco, pria itu hanya bisa menyesali perbuatannya. Akibat perbuatannya, dia harus mendekam di dalam penjara. Dirinya selalu dihantui karena telah membunuh istrinya sendiri, sosok wanita yang selalu sabar menghadapi dirinya. Andai waktu bisa dia putar, dia tidak akan melakukan hal bodoh dalam hidup.
"Papa apa kabar?" tanya Darren.
Lidah Toni rasanya kelu, dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan Darren dengan jawaban apa. Dadanya bahkan berdesir kala Darren masih memanggilnya dengan sebutan Papa setelah semua yang dia lakukan pada menantu dan cucunya. Toni merasa malu sendiri dengan kelakuannya.
"Ba—baik," sahutnya sedikit terputus.
Dia menaikkan satu alisnya. "Papa gak bohong, 'kan?" tanya Darren dengan tatapan tak percaya.
"Iya."
"Cellyn akhir-akhir ini sibuk, dia gak bisa ke sini. Mungkin nanti dia bakal ke sini setelah kerjaannya beres," jelas Darren.
"Gak papa, saya paham."
Toni terbatuk kecil membuat atensi Darren teralih sepenuhnya pada mertuanya. Toni ingin menanyakan sesuatu, tetapi sedari tadi Darren sibuk memeriksa ponselnya. Pria paruh baya itu tak tahu pesan siapa yang menantunya itu tunggu.
"Papa kenapa?"
"Kamu lagi deket sama cewek lain?"
...***...
Yesha memandang wanita di hadapannya dengan serius. Siang ini, dirinya memiliki temu janji dengan salah satu kliennya. Dapat Yesha tebak, dia akan menangani masalah perceraian lagi. Perempuan itu sudah hafal dengan banyaknya kasus yang dia tangani selama menjadi pengacara. Para perempuan selalu saja menjadikan dirinya pengacara untuk menghadapi kasus perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga.
Meski tatapan Yesha terkesan santai dan tenang, tetapi di dalam hati perempuan itu tengah menilai penampilan wanita di hadapannya. Dia terdiam sejenak, keningnya mengkerut menandakan dia tak tengah berpikir keras.
Masa iya sih? batin Yesha.
__ADS_1
"Jadi, apa ada yang bisa saya bantu?"
Wanita itu mengangguk pelan. "Iya, saya mau cerai sama suami saya," jawab wanita itu yakit.
Alis Yesha menyatu, perempuan itu memandang wanita di hadapannya dengan intens. "Cerai? Tapi anda tidak bisa cerai dalam kondisi hamil, Nyonya Brawirya," ungkap Yesha dengan mimik wajah serius.
Iya, perempuan itu Hima Brawirya. Sesuai perkataannya, dia meminta cerai pada Devan. Namun, hingga detik ini dirinya tak juga mendapatkan surai cerai dari Devan. Mau tidak mau dia yang harus menggugat cerai Devan. Apa hatinya ikhlas? Tentu saja tidak, tetapi dirinya tidak ingin Devan terpaksa menetap dengannya.
Rasa cintanya untuk Devan jelas belum berubah meski pria itu telah menyakitinya. Dia selalu kalah oleh rasa cintanya itu. Namun, sekarang kondisinya berbeda, Devan telah menaruh hati pada perempuan lain. Hima tak bisa mempertahankan pernikahannya lagi
"Tap-"
Cup!
"Hai, Baby."
Ucapan Hima harus terpotong karena seseorang yang tiba-tiba datang dan mencium pipi Yesha. Wanita hamil itu membulatkan matanya, dirinya sangat kenal dengan pria yang kini mendudukkan dirinya di samping Yesha. Hima melirik Yesha yang tengah memandang pria itu kesal.
"Leon," gumam Hima.
Leon yang mendengar itu menoleh ke arah Hima, raut wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. Dia memandang Yesha dan Hima bergantian, segala pertanyaan menghantui pikirannya. Dia jelas ingat jika istri dari sahabatnya itu menuntut cerai.
"Loh Hima? Kamu?"
"Iya, aku cerai sama Mas Devan."
"Kamu yakin?" tanya Leon yang dibalas anggukan oleh Hima.
Yesha yang merasa diabaikan, menghembuskan napasnya kasar. "Ekhm," dehamnya.
"Eh, aduh maaf. Aku lupa sama kamu," cetus Leon dengan raut wajah bersalah.
Yesha mengabaikan itu, dirinya memandang Hima serius. "Seperti yang saya katakan tadi, kalian tidak bisa bercerai jika Nyonya hamil," jelas Yesha dengan tegas.
Leon mengangguk setuju. "Pikirin yang mateng, jangan sampe lu nyesel. Devan gak bener-bener cinta sama anak si Darren."
Darren? Itu bos si Nata, 'kan? Ada masalah apasih sebenarnya?
__ADS_1