
Semua orang tengah berkumpul di depan ruang operasi, mereka memandang cemas ruangan operasi yang tertutup. Mulut mereka terus komat-kamit melantunkan doa, jangan lupakan mata mereka yang terpejam.
Gelisah menyelimuti mereka, pun dengan ketakutan yang mengepung. Rasanya seperti sebuah kebahagiaan sebelum bencana itu hadir. Mereka tak menyangka hal ini akan terjadi, pesta pernikahan Darren dan Nata hancur sudah.
"Om tenang, ya. Istri Om pasti baik-baik aja," tutur Lina dengan wajah khawatir.
"Argghhh!" teriak pria itu frustasi.
"Kita tunggu Dokter keluar dari ruangan," ucap Refan menatap iba sahabatnya.
Semua orang di sana memandangnya iba. Mereka tak tahu harus berujar bagaimana agar pria itu tenang, nyatanya tetap saja tak akan berhasil.
"Gi—gimana bisa?" ujar seorang pria dengan terbata-bata.
"Istri gua kenapa?!" sambungnya berteriak.
Salah satu di antara mereka segera menenangkan pria tersebut. Mereka paham kecemasan yang dirasakan oleh pria tersebut. Di hari yang bahagia ini, mereka semua justru dibuat terkejut.
"Om tenang, ya?" ucap Alika dengan raut wajah cemasnya.
Pria itu mengabaikan Alika membuat Alika menghembuskan napasnya kasar. Dia menoleh ke samping saat merasakan sebuah tangan besar menggenggam tangan mungilnya, dia Refan.
"Kamu duduk dulu, ya. Saya enggak mau kamu kecapean," titah Refan.
"Tapi—"
"Jangan bantah!" potong Refan.
Alika menghembuskan napasnya kasar. Dengan cepat dirinya mendudukkan diri di salah satu kursi. Dia memandang pintu ruang operasi dengan cemas. Namun, tiba-tiba saja kepalanya tertarik ke dada bidang seseorang. Tanpa bertanya pun dia tahu siapa pelakunya.
"Cellyn ke mana?!" tanya Darren kebingungan.
"Tad—"
"Keluarga pasien," potong seorang Dokter.
Mereka mengalihkan atensi mereka pada Dokter yang tengah berdiri di ambang pintu operasi. Di sana, Cellyn berdiri dengan wajah lelahnya, lebih tepatnya wajah takut. Dia memandang seluruh orang yang dikenali, tatapnnya berakhir pada Devan untuk sesaat.
"Kondisi pasien memburuk, kandungannya melemah. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata pasien menderita gagal ginjal. Sepertinya penyakit ini baru menggerogoti pasien, karena itu juga pasien sepertinya bersikap santai. Namun ..., sayangnya kandungan pasien melemah, mau tidak mau janinnya harus lahir saat ini juga," jelas Cellyn dengan sekali tarikan napas.
Semua orang memandang tak percaya, terutama pria yang berdiri di ujung sana. Dia bahkan langsung menghampiri Cellyn dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi.
"Cellyn, Om mohon selamatin istri Om," pintanya dengan nada lirih.
Cellyn terdiam, dia tak langsung menjawab. Perasaan perempuan itu tak enak. "Saya usahakan ya, Om." Dia menatap Devan dengan iba.
"Kalau begitu saya masuk kembali. Jangan lupa panjatkan doa dan yakin semua akan baik-baik aja," sambung Cellyn lantas berlalu.
"Mas ...," lirih Nata.
Wanita itu merasa lelah, perutnya pun terasa kram sekarang.
"Capek? Duduk dulu, ya," balas Darren sembari menuntun Nata untuk duduk di samping Alika.
Yesha yang melihat itu segera melangkahkan kakinya menjauh. Perempuan itu berjalan seorang diri menuju kantin rumah sakit. Dia berniat membelikan semua orang minum dan roti untuk kedua sahabatnya. Ini sudah waktunya makan malam, dia yakin sahabatnya itu kelaparan.
"Kalau beliin Nata sama Alika doang, yang lain kasihan," gumam Yesha sembari mengambil roti.
"Semua aja deh," putusnya.
...***...
__ADS_1
"Semuanya sudah siap, Dok."
Salah satu Dokter mengangguk. Dirinya dengan cepat memeriksa kondisi pasien. Wajahnya amat serius, tetapi itu tidak berselang lama karena sebuah suara yang berasal dari perut seorang Dokter.
"Dokter Cellyn laper?"
"Hehehe ... Dokter Nisya peka," balas Cellyn dengan cengirannya.
Semua yang ada di ruangan tersebut terkekeh. Ini bukanlah pemandangan baru, Dokter ataupun Suster pasti akan melontarkan candaan. Ini bertujuan agar pasien tidak tegang begitu juga dengan Dokter dan Suster yang menangani.
"Kita lakuin operasi sekarang," ujar Nisya serius.
"Dok ... Kemungkinan mereka berdua selamat kecil," cicit Cellyn.
Nisya menghela napas kasar. Dia paham akan ketakutan yang dirasakan sahabat sekaligus partner kerjanya itu. Nisya tahu Cellyn tak ingin mengecewakan siapa pun di sini.
"Saya tahu, tapi akan saya usahakan. Kita mulai operasinya sekarang," sahut Nisya dengan tatapan mengarah pada Hima sepenuhnya.
Hima, wanita itu tiba-tiba saja pingsan. Tentu saja pesta yang tadinya penuh canda tawa itu berubah menjadi suram. Jatuhnya Hima secara tiba-tiba mengundang berbagai pertanyaan dalam benak mereka, terutama Devan.
Gagal ginjal, penyakit yang dideritanya sebulan belakangan ini. Kandungan dirinya yang mulai melemah, karena banyaknya faktor membuat kondisi Hima semakin memburuk. Wanita itu tidak sama sekali memberitahukannya pada siapa pun. Dia tak mau membuat semua orang khawatir.
Untuk Yana, gadis kecil itu sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dirinya dibuat terkejut dengan kondisi sang Ibu, bahkan tangisnya tak mampu mereda.
...***...
Sudah dua jam proses operasi itu berlangsung, tetapi Dokter tak juga keluar dari ruangan tersebut. Mereka memandang cemas, perasaan takut itu menggerogoti mereka.
"Kamu capek?" tanya Leon pada Yesha.
Pria itu tahu perempuan di sampingnya itu tengah menahan kantuk.
"Enggak."
Dia menggeleng. "Jangan, tunggu dokternya dulu. Aku numpang tidur di bahu kamu," balas Yesha.
Leon menggeleng. Dia membawa perempuan itu pangkuannya, menyenderkan kepala Yesha pada dadanya.
Lina yang melihat itu mendelik kesal.
Lagi panik gitu malah bucin, mana gua kek kambing congek lagi. Semua pada punya pasangan, batin Lina kesal.
Sedangkan, di dalam sana seorang bayi laki-laki baru saja lahir. Suara tangisannya membuat semua orang di ruangan operasi menghela napas lega.
Suara tangis yang nyaring tersebut membuat orang-orang yang berada di luar ruangan tersenyum senang. Mereka saling pandang lantas melempar senyum bahagia. Yana yang tertidur pun dibuat terbangun.
"Adek udah lahir, Sayang." Devan mencium seluruh wajah Yana membuat gadis kecil itu memandangnya tak percaya.
"Papa selius?!" pekik Yana senang.
"Hm, serius banget."
Kembali lagi ke dalam ruangan. Suasana yang tadinya mencair mendadak kembali tegang, karena bunyi nyaring mesin EKG. Seluruh Dokter dan Suster saling pandang.
"Dok, jantung pasien melemah!" teriak salah satu Suster.
Deg!
Cellyn dan Nisya saling pandang, raut wajah mereka sangat jelas menggambarkan ketakutan. Keduanya menghela napas sebelum akhirnya mendekati Hima.
Dapat keduanya lihat Hima tengah berusaha tetap membuka matanya. Cellyn yang melihat itu segera mengecek denyut nadi Hima, perempuan itu takut, takut mengecewakan.
__ADS_1
"Jantung pasien berhenti berdetak, Dok," ucap seorang Suster.
"Siapkan alat pacu jantung!" tegas Nisya.
Suasana ruang operasi kembali tegang. Bulir-bulir keringat yang membasahi wajah petugas medis pertanda mereka telah lelah.
Jantung Hima kembali berdetak meski lemah. Wanita itu menggapai tangan Cellyn yang berada di sebelahnya.
"Pa—panggil se—semua or—orang," lirih Hima dengan wajah pucatnya.
"Sus, tolong panggil keluarga pasien," pinta Nisya saat melihat sahabatnya terpaku.
"Sayang." Devan berlari menuju Hima.
Dipeluknya dengan erat istrinya, dia mencium Hima dengan lembut. "Makasih, makasih udah bertahan," ujar Devan sembari menangis.
"A—aku mau kamu nikah sama Cellyn."
Ucapan bernada lirih itu berhasil membuat semuanya membeku, terutama Cellyn. Perempuan itu menggeleng dengan keras, dia tak akan pernah mau menjadi seorang madu.
"Tante jangan aneh-aneh!" tegas Cellyn.
"Him, lo—"
"Penghulunya udah dateng. Aku mohon kamu nikah sama Cellyn."
Devan terdiam, dia memandang wajah memohon Hima. Pandangannya tertuju pada semua orang, dia tak tahu harus apa.
"Sayang ...," panggil Hima dengan lemah.
"Oo—oke," putus Devan membuat semuanya terkejut.
Cellyn memandang Devan tak terima. "Om!" sentaknya.
"Saya mohon, Cell," lirih Hima.
"Sah!"
Suara bernada pelan itu menjadi tanda resminya hubungan Celly dan Devan. Di sana Hima mengulas senyum manisnya, dia menggapai tangan Cellyn.
"Jaga Devan dan anak saya, ya."
Tit ... Tit ... Tit ....
Semua orang dibuat membeku dengan suara nyaring tersebut. Senyum terakhir yang Hima berikan seolah tak akan dia berikan lagi.
Cellyn yang tersadar lebih dahulu, segera memeriksa kondisi Hima. Dia menghela napasnya kasar, perempuan itu memejamkan matanya. Air matanya luruh begitu saja, Nisya terdiam. Dia dan Cellyn sudah menduga ini akan terjadi.
Air mata mereka luruh, mereka paham arti dari suara yang berbunyi dengan nyaring itu. Devan melemas, sedangkan Yana memandang semuanya tak paham. Namun, hati anak itu berdenyut sakit.
"Mama buka matana," gumamnya dengan tatapan sepenuhnya berada pada Hima.
"Suster, tolong dicatat," pinta Cellyn lirih.
"Pasien atas nama Hima Brawirya menghembuskan napas terakhirnya pada selasa, 26 Juli 2022, pukul 23.00 WIB di rumah sakit Bintara Hospital," sambungnya dengan pelan.
"Sayang, bangun. Bangun, ya? Kita rawat anak kita bareng. Plis, Sayang."
"Mama, janan tinggalin Yana."
"Him, candaan lo enggak lucu."
__ADS_1
Kisahnya habis di sini, kisah antara Devan dan Hima. Kisah yang berawal dengan indah, berakhir dengan pahit. Terima kasih telah hadir dalam hidup seorang Devan Brawirya.