
Alika menghembuskan napasnya kasar. Dia dan Refan saat ini tengah mempersiapkan pernikahan mereka yang sempat tertunda, karena Alika yang harus ke Prancis untuk memeriksa restorannya yang di ambang kebangkrutan. Karena hal itu juga Refan dan Alika harus menjalin hubungan jarak jauh selama dua minggu.
Refan dibuat uring-uringan karena harus berjauhan dengan tunangan sekaligus calon istrinya. Laki-laki itu benar-benar sudah terjatuh dan terjerat dalam pesona seorang Alika, dia berhasil dibuat luluh tanpa Alika perlu melakukan apa pun. Refan terjerat oleh sikap Alika yang berbeda dari perempuan yang sering kali dia temui, Refan akui Alika dan para sahabatnya itu memang berbeda.
Jika Refan uring-uringan karena jauh dari Alika, maka perempuan itu dibuat pusing oleh tingkah tunangan sekaligus calon suaminya. Bagaimana tidak uring-uringan jika setiap saat Refan akan menghubungi Alika dan merengek bertanya kapan Alika akan kembali ke Indonesia. Sungguh, Alika tak habis pikir dengan perubahan sikap Refan, Refan yang dia kenal cuek, dingin, dan tak berperasaan, berubah begitu saja menjadi sosok anak kecil yang akan menangis jika keinginannya tak dituruti.
"Sayang," panggil Refan membuat Alika menghela napas.
Lihatlah Refan bahkan tak mengizinkan Alika jauh darinya. Perempuan itu kembali menghela napas lantas menghampiri Refan yang tengah berada di toko perhiasan, mereka saat ini akan membeli cincin untuk pernikahan mereka.
"Kenapa? Aku tadi liat kalung doang di sana," cetus Alika.
Refan tak menyahuti, pria itu justru memeluk Alika dengan erat dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Alika sembari memberikan ciuman basah pada leher jenjang milik Alika. Alika mendesah pasrah, melarang Refan sama saja tidak akan membuahkan hasil. Pria itu terlalu keras kepala.
"Kenapa, hm?" tanya Alika sembari mengusap rambut dengan lembut.
Refan menggelengkan kepalanya, dia justru menggigit leher Alika dengan gemas. Alika meringgis pelan, sudah biasa lehernya ini menjadi bahan keganasan dari seorang Refano Alaskar. Alika menatap pegawai di toko emas tersebut yang pura-pura tak melihat kegiatan mereka, Alika sejujurnya malu. Namun, percuma saja mencegah Refan, tak akan membuahkan hasil.
...***...
Seorang wanita memandang ponsel di genggemannya dengan raut wajah tak percaya. Baru saja sebuah nomor asing mengirimkan sebuah foto, foto yang berhasil menghancurkan hatinya. Wanita itu menutup mulutnya tak percaya, pecah sudah bulir bening itu. Sosok yang selama ini dia puja layaknya Dewa ternyata menghianati dirinya.
Hancur, hancur dunia seorang Natalia Defana. Wanita yang tengah mengandung itu berhasil dibuat hancur oleh suaminya, Darren. Nata yang menaruh kepercayaan penuh pada seorang Darren Aryan Gautama, tetapi Darren justru dengan sengaja bermain api. Bukan lagi perselingkuhan biasa, tetapi Darren telah berhubungan badan dengan kekasih gelapnya.
Nata mengusap air matanya dengan kasar, lantas dia bangkit dari duduknya. Wanita itu berjalan keluar kamar dengan raut penuh amarah dan tangan yang menggepal. Dia menuruni tangga dengan perlahan, saat di ujung tangga, dapat dia lihat Darren dan mertuanya tengah berbincang. Nata berjalan menghampiri mereka dengan penuh amarah.
__ADS_1
Plak!
Suara tamparan itu menggema, ketiga orang dengan usia yang berbeda-beda itu memandang Nata dengan terkejut. Darren memandang istrinya tak percaya sembari memegang pipinya yang terasa kebas, sedangkan Alisha dan Thofid memandang tak percaya apa yang dilakukan Nata. Nata adalah wanita lemah lembut yang selama ini mereka kenal, sangat tidak mungkin Nata bermain tangan.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Thofid bingung.
Dia terkekeh sinis. "Tanya sama anak Ayah, tanya sama dia. Apa yang dia lakuin di belakang aku. Masih pantaskah anak Ayah aku puja layaknya dewa?" Sahutan bernada sinis dari Nata itu membuat Alisha dan Thofid kebingungan, tetapi berbeda dengan Darren yang langsung mengerti ke mana arah pembicaraan Nata.
"Sayang—"
"Stop it! Jangan memanggil saya dengan kata-kata yang sama yang Anda gunakan untuk memanggil selingkuhan Anda. Bagaimana percintaan kalian di atas ranjang dengan lampu yang dimatikan, hm? Bukankah sangat romantis, Tuan Darren Aryan Gautama yang terhormat?" potong Nata sembari menaikkan tangannya pertanda Darren tak perlu melanjutkan ucapannya.
Alisha dan Thofid memandang Darren tak percaya, mereka tak habis pikir dengan kelakuan Darren. Alisha memandang suaminya dengan tajam, kejadiannya di masa lalu terulang pada Nata.
"Kamu selingkuh? Bunda pernah bilang sama kamu, jangan sampai melakukan perselingkuhan. Kamu malah selingkuh?" sentak Alisha memandang Darren kecewa.
"Saya mau kita bercerai," putus Nata membuat Darren dan yang lainnya terkejut.
"Enggak, aku enggak mau!" sergah Darren.
Dia terkekeh. "Saya tidak peduli." Nata berjalan menjauhi Darren dan yang lainnya.
"Ini kesalahan kamu, jadi terima konsekuensinya. Ayah enggak nyangka kamu akan jadi sebejat ini. Nata kurang apa sampai kamu mendua?" Thofid menghembuskan napasnya kasar sembari memandang sang anak dengan kecewa.
"Enggak, Yah! Nata enggak ada kurangnya," berang Darren.
__ADS_1
"Hm, terserah kamu aja. Bunda sama Ayah udah terlanjur kecewa." Alisha dan Thofid berjalan meninggalkan Darren seorang diri.
Darren memukul mendudukkan dirinya di sofa, pria itu memukul meja yang ada di hadapannya dengan cukup keras lantas menjambak rambutnya frustasi.
"Argghhhh!"
...***...
Via saat ini tengah berada di salah satu kedai es krim bersama Vena, kedua perempuan itu memang layaknya kembar, sulit dipisahkan. Bersahabat sejak lama membuat mereka hafal kebiasaan masing-masing, bahkan mereka sudah layaknya saudari bukan sahabat.
Saat ini keduanya tengah menikmati es krim kesukaan mereka, Via yang suka es krim coklat dan Vena yang menyukai es krim matcha. Celoteh dan canda tawa pun menyapa keduanya, tawa yang berhasil membuat beberapa pasang mata melirik mereka.
"Siang-siang gini emang enak sih makan es krim," ucap Via sembari memasukkan es krim ke mulutnya.
"Apalagi ditemenin sama ayang, beuh halu itu namanya," balas Vena dengan tawa kecilnya.
Via mengeplak tangan Vena dengan keras. "Sok-sokan ngomongin ayang, cowok yang demen lo aja enggak peka-peka," ketus Via membuat Vena mendelik.
"Itu mah enggak ada harapan lagi, Vi." Nada penuh putus asa yang keluar dari mulut Vena membuat Via terbahak sembari memukul meja dengan pelan.
"Seneng, seneng liat sahabatnya galau," cecar Vena sembari melirik Via sinis.
Via menghentikan tawanya, perempuan itu bersandar pada punggung kursi. Dia tengah sibuk mengontrol napasnya, setelah dirasa napasnya kembali teratur, dia menatap Vena. Tatapan penuh keseriusan membuat Vena menatap sahabatnya itu heran, tetapi tak berselang lama. Perempuan itu berubah menjadi semakin kesal karena ucapan Via.
"Makanya lo sadar diri, lo kayak gembel," goda Via.
__ADS_1
"VIAAA!" berang Vena.