
Hoek! Hoek! Hoek!
Sebuah suara yang berasal dari kamar mandi itu sedikit memancing orang luar untuk mengetahui apa yang terjadi. Mengingat ruangan itu sangat kecil, orang di luar sana tentu akan mendengar segala keributan ataupun suara dari dalam sana.
Dia keluar dari ruangan itu dengan sedikit kesusahan, tentu saja itu karena tubuhnya yang melemas. Seorang wanita paruh baya menghampiri dirinya dengan raut wajah panik. Dia tersenyum kikuk, karena ulahnya yang berisik di pagi hari membuat orang menjadi terganggu.
"Neng Nata gak apa-apa?" tanyanya dengan raut cemas.
"Enggak, Bu. Nata cuman masuk angin aja kok," balasnya dengan senyum manis.
Wanita itu menghela napasnya panjang. "Bagus deh, Neng. Kalau gitu Ibu balik ke rumah dulu, ya."
Nata mengangguk singkat. Dia menghembuskan napasnya kasar setelah wanita itu keluar. Nata menatap tanggal pada layar ponselnya, ketakutannya semakin besar. Dia takut terjadi sesuatu pada dirinya kelak.
"Gak mungkin aku hamil, 'kan? Nanti aku harus cek ke Dokter," gumam wanita itu.
Nata tanpa sengaja melihat jam dinding yang mengantung di kamarnya. Matanya membulat sempurna, dirinya terlambat datang ke kantor. Darren pasti akan memarahinya karenq datang terlambat. Wanita itu dengan segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Sialan, aku terlambat!" pekiknya sembari berlari ke kamar mandi.
Setelah tiga puluh menit dirinya membersihkan badannya, butuh tiga puluh menit lagi untuk dirinya bersiap. Setelah semuanya siap, Nata segera pergi ke kantornya. Butuh satu jam waktu yang Nata tempuh agar tiba di kantor mengingat jakarta sangat macet terutama pagi dan sore.
Nata berlari sepanjang lobby kantor, tanpa dirinya sadari dia memegang perutnya saat berlari. Beberapa pasang mata menatapnya heran, tetapi Nata tak memperdulikan itu. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah dengan cepat tiba di ruangannya. Tubuh Nata membeku saat melihat Darren berdiri di ruangannya, pria itu menatap Nata dengan tajam. Nata memandang Darren dengan takut-takut, wanita itu menghembuskan napasnya kasar sebelum akhirnya melangkah dengan ragu.
Setibanya di hadapan Darren, wanita itu segera menundukkan kepalanya. Dirinya takut dengan tatapan tajam milik atasannya. Nata meremas jemarinya guna menghilangkan kegugupannya dan semua itu tak luput dari tatapan tajam milik Darren.
"Kenapa kamu telat?" tanya Darren.
"Ma—maaf, Pak," sahut Nata dengan nada lemah.
"Saya tanya kenapa kamu telat bukan nyuruh kamu minta maaf! Kamu gak paham bahasa Indonesia, ha?!" bentak Darren.
Tubuh Nata terlonjak mendengar bentakan dari Darren. Matanya memanas, bahunya bergetar hebat. Dia sudah mencoba untuk menahan air matanya, tetapi semuanya sia-sia saat bulir kristal itu membasahi pipinya. Darren yang melihat sekretarisnya itu menangis seketika merasa panik, dia dengan cepat melangkah mendekati Nata.
__ADS_1
"Kamu kenapa nangis?" tanyanya dengan nada panik.
"Hiks ... Bapak jahat udah bentak saya hiks ...," jawab Nata dengan tangis yang masih belum menghilang.
Darren menghela napasnya kasar, dirinya segera menarik Nata ke dalam pelukannya. "Maafin saya, ya? Sssttt ... jangan nangis," ucapnya sembari menghapus air mata Nata.
Nata menganggukan kepalanya pelan, wanita itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Darren. Nata mendongak, dia menatap Darren dengan tatapan sayunya. Dirinya takut, takut jika dia memang hamil dan Darren tak mau menerima anak itu.
"Kenapa, hm?" tanya Darren.
"Saya mau kerja setengah hari untuk hari ini, boleh?"
Darren menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?"
"Saya ada urusan."
"Urusan apa?" tanya Darren lagi.
"Jawab yang jelas, Natalia Defana!" titah Darren dengan tegas.
Nata melepaskan pelukannya, dia menatap Darren ragu lantas menundukkan kepalanya. "Sa—saya, saya mau ke Dokter Kandungan untuk membutikkan apakah saya hamil atau tidak. Kalau em—emang saya hamil dan Bapak tidak mau ber—" Ucapan Nata harus terpotong karena Darren yang tiba-tiba menciumnya dengan ganas.
"Kamu pikir saya pengecut, ha?! Kenapa bisa kamu mikir demikian?!" hardik Darren, pria itu menggeram kesal saat melihat Nata ketakutan.
"Kita ke rumah sakit sekarang!"
Setelah menempuh setengah jam perjalanan menuju rumah sakit, akhirnya mereka tiba juga di rumah sakit. Darren menggengam tangan Nata dengan cukup erat, sedangkan Nata menundukkan kepalanya. Perempuan itu merasa takut dengan kenyataan yang harus dirinya terima nanti. Langkah mereka terhenti saat Cellyn dan Nisya menghampiri keduanya.
"Loh, Papa sama Tante Nata ngapain di sini?" tanya Cellyn dengan raut wajah bingung.
"Eh, Sayang. Huft ... Papa mau ngecek kamu bakal punya Adek atau gak," jawab Darren dengan santai membuat Nata meringgis.
Cellyn dan Nisya saling pandang, mereka mencoba memahami ucapan Darren. Cellyn melirik Nata yang tertunduk, dia dapat merasakan ketakutan wanita itu dengan jelas. "Maksud Papa?"
__ADS_1
Jangan bilang—
"Nata kemungkinan hamil, tapi biar tahu lebih pasti kita harus cek, 'kan?" jawab Darren membuat Cellyn membulatkan matanya.
"Papa sama Tante Nata?" Cellyn kehabisan kata-katanya, dirinya tak habis pikir dengan sang Ayah yang terlihat begitu santai.
"Pak," lirih Nata.
"Ssttt ... Tenang ya? Kita cek sekarang, kamu jangan takut gitu." Darren mengecup kening Nata singkat, pemandangan yang jelas membuat Cellyn dan Nisya terkejut.
"Ekhm ... Kalau gitu mari ikut saya, biar saya periksa apakah mbaknya benar hamil atau tidak," sela Nisya dengan senyumannya.
Darren mengangguk singkat, dirinya mengandeng tangan Nata mengikuti langkah Nisya. Di belakang mereka ada Cellyn yang masih memandang kosong, dirinya dibuat terkejut dengan perbuatan ayahnya sendiri. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya dirinya tersadar dan segera mengikuti langkah ayahnya untuk ke ruangan Nisya.
"Seperti yang kalian lihat, di sana terdapat janin yang masih dalam masa pertumbuhan. Usianya sekitar tiga minggu dan di trimester awal tentu kandungan akan sangat lemah. Jadi, tolong dijaga ya," jelas Nisya.
Nata memandang tak percaya pada layar monitor di hadapannya, dia memandang Darren yang justru menampilkan raut wajah datarnya. Sedangkan, Cellyn dibuat terperangah, dia tak menyangka hubungan ayahnya dan sekretarisnya begitu jauh. Dia pikir hubungan mereka tak lebih dari rekan kerja.
"Kamu kenapa, Cell?" bisik Nisya.
"Aa—aku bakal punya Adik? Serius?" tanyanya tak percaya.
"Iya," jawab Nisya seadanya.
Nata memandang kosong layar monitor itu, dia takut. Perasaan takutnya begitu besar, dirinya ragu Darren akan mau mengakui anak tersebut sebagai anaknya. Cellyn yang tak sengaja melihat tatapan kosong Nata segera menyikut lengan Nisya agar Nisya ikut melihatnya.
"Ah, ya. Selama masa kehamilan harap Ibu tidak kecapekan, banyak pikiran apalagi setres ya. Pola makannya juga tolong dijaga," celetuk Nisya membuat Nata tersadar begitu juga dengan Darren.
Darren memeluk Nata dengan erat, dirinya mengecup seluruh wajah Nata tanpa memperdulikan Cellyn dan Nisya yang melongo.
"Kita bakal nikah secepatnya. Makasih, Sayang."
Wow ... Aku bakal punya Ibu tiri?"
__ADS_1