
Elsifa menoleh ke belakang. Sepertinya terjadi kecelakaan hebat di sebuah perempatan yang baru saja dia lewati. Tak lama berselang jalanan langsung ramai dengan orang² yang ingin menyaksikan kecelakaan tersebut. El terkejut karena suara benturan terdengar cukup keras.
Kini El telah sampai di rumahnya,hp miliknya berdering ketika ia hampir menyentuh gagang pintu. Gadis itu beralih mengambil hp dari dalam tasnya. Melihat nama Adam yang menghubunginya,El mengerutkan dahi.
"ada apa Adam menghubungiku ?" terheran,karena baru siang tadi mereka tidak berjumpa.
El mengambil sebuah kartu akses dari dalam tasnya. Kartu yang digunakan sebagai pengganti kunci manual untuk rumahnya .Memasuki rumahnya,El meletakkan tasnya di atas meja,lalu mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari kecil yang sengaja diletakkan disudut ruangan. Dalam berapa kali teguk botol tersebut berubah kosong. Ia pun meletakkan botol bekas ditempat sampah non organik.
Hp nya masih terus saja berbunyi,El mengabaikan panggilan tersebut tapi dia juga merasa penasaran untuk mengetahui maksud Adam menghubunginya. Hingga pada panggilan entah ke berapa kalinya,akhirnya El menjawab panggilan telepon dari saudara sepupunya tersebut.
"Halo...." El tak melanjutkan kalimatnya ketika mendengar isak tangis dari seberang telepon. Dijauhkan benda berbentuk pipih dari telinganya,dilihatnya lagi identitas pemanggil.
__ADS_1
Kemudian ditempelkannya lagi alat komunikasi tersebut pada telinganya. Suara isak tangis yang tadi didengarnya sudah tak ada. El pun berfikir kalau Adam sedang mengerjainya.
"kau mengerjaiku ? " tanyanya pada Adam yang entah apakah masih ada dalam panggilan tersebut.
"apa maksudmu ?,aku sedang berduka" ucap Adam dengan nada terisak.
El membelalakkan mata mendengar nada bicara Adam. Cukup lucu menurutnya,hingga ia lepas kendali dan mulai terbahak bahak. Tapi tak lama tawanya terhenti ketika ia menyadari sesuatu.
Sadar kesalahannya menertawakan musibah orang lain,El pun meminta maaf pada Adam. Tapi anehnya Adam menolak permintaan maafnya,membuat dirinya menjadi bingung oleh sikap Adam.
...****************...
__ADS_1
Danu masih saja larut dalam kegalauannya. Dia sadar ada sebuah kerinduan yang dirasakannya terhadap Elsifa,tetapi dia tak cukup nyali untuk memastikan apakah dirinya masih pantas mendapat maaf dari istrinya. Danu fikir dirinya bahkan tak layak merindukan wanita yang dulu tak dianggapnya sebagai istri.
Di dalam kamar yang dulu dipakai oleh Elsifa,Danu merebahkan tubuhnya di atas kasur dimana El biasa tidur hanya berteman sebuah guling panjang dan selimut yang cukup nyaman. Di atas tempat tidur terpajang foto pernikahannya dengan Elsifa. Rasa bersalah terhadap istrinya semakin besar.
Danu bangun dari rebahan,kini ia duduk di tepi ranjang. Dibukanya laci kecil yang ada di samping ranjang tersebut. Ia menemukan sebuah buku harian dengan nama Elsifa Danuarta,gabungan nama antara Elsifa dengan namanya.
Dibukanya buku harian tersebut lalu dibaca satu demi satu lembar kecil halaman yang berisi curahan hati si pemilik. Terdapat sebuah harapan besar yang ditulis oleh Elsifa.
Kalau sudah takdirku,tak mengapa jika aku bukan satu satunya dalam rumah tangga ini,hanya satu harapanku mendapat kasih sayang dengan porsi yang sama dari lelaki yang menjadi suamiku.
Lembar berikutnya ditemukannya lagi sebuah tulisan yang semakin membuatnya merasa bersalah terhadap Elsifa.
__ADS_1
Mas,aku harap suatu hari nanti kamu menyadari keberadaanku. Aku juga istri yang ingin mendapat sentuhan kasih sayang dari seorang suami. Aku bukan hanya istri diatas kertas.