Hanya Istri Di Atas Kertas

Hanya Istri Di Atas Kertas
Diatas Kertas #86


__ADS_3

Dari hari ke hari Elsifa dan Sandy semakin dekat.Tak dipungkiri Elsifa selalu merasa nyaman saat berada di dekat lelaki yang merupakan asisten saudara kembarnya. Pun dengan Sandy yang memang sudah berjanji akan menjadi penjaga Elsifa sejak dirinya menyadari kalau gadis itu adalah malaikat kecil yang selama ini dicarinya.


Malam ini mereka berdua akan kembali pulang setelah lebih dari sepekan berlibur ke negeri menara eiffel.


"sebelum pulang ke tanah air aku ingin kita berfoto bersama di tepi danau" pinta Sandy pada Elsifa.


Tak diduga,ternyata Elsifa juga ingin hal yang sama. Maka dengan bantuan seorang fotografer jalanan yang memang kebetulan banyak menjajakan jasa mereka pada wisatawan yang datang,Elsifa dan Sandy berpose dengan banyak gaya.


Setelah puas berfoto-foto untuk kenang-kenangan bersama,keduanya memutuskan kembali ke penginapan sebelum nantinya perjalanan panjang yang harus mereka tempuh untuk sampai di Indonesia lagi.


...****************...


"bu Maria,ada telepon untuk anda" panggil seorang petugas pada Maria yang sedang menyibukkan diri dengan meronce ( merangkai manik-manik kecil menjadi kalung atau aksesoris lainnya ).


Wanita itu menyudahi kegiatannya lalu bergegas ke tempat telepon.

__ADS_1


"halo" sapa Maria sedikit takut karena sudah 2 malam dirinya mendapatkan mimpi buruk tentang putrinya,Cintya.


Hening,tak ada lagi kata yang terucap. Hanya butiran bening yang tiba-tiba mengalir deras membasahi pipi wanita yang mendekam dipenjara karena berurusan dengan Alvaro.


Gagang telepon yang tadi dipegang pun terjatuh menjuntai hampir membentur permukaan lantai. Pandangannya kini kosong,kemudian wanita itu menangis tersedu sambil menjambak rambutnya sendiri. Petugas segera mendatangi Maria dan mencoba menenangkannya.


"Cintya,gak mungkin "


"kamu jangan ninggalin mama nak"


"mama yakin,itu bukan kamu"


Maria terus saja meracau tak tentu,sepertinya berita yang baru ia dapatkan membuatnya terguncang.


Siang hari,Maria dengan dikawal ketat oleh petugas kepolisian mendatangi rumah sakit. Setelah menemui seorang petugas yang menjadi penanggungjawab,Maria diarahkan ke ruang jenasah.

__ADS_1


Seorang lelaki berseragam biru memakai masker di wajahnya dan tangan yang terbungkus sarung berbahan latex mengarahkan Maria pada satu jenasah yang baru masuk dini hari tadi.


Jenasah tersebut ditutupi kain putih dari ujung kepala hingga ke kaki,di jempol kaki terdapat identitas si mayat.


"ini jenasah yang bernama Cintya" ucap petugas tersebut menunjukkan pada Maria.


Maria menggeleng keras,tak percaya kalau itu adalah putrinya. Wanita itu bersikeras kalau mayat yang ada di depannya bukanlah Cintya,melainkan orang lain yang memiliki wajah mirip dengan putri tunggalnya itu.


Tubuh Maria melemah,ia berteriak dan menangis sejadi-jadinya setelah memberanikan diri membuka kain yang menutupi bagian wajah mayat yang teridentifikasi sebagai Cintya.


Diwaktu yang sama,Amelia dan Marina datang ke rumah sakit. Tujuan mereka tak lain adalah melihat keadaan Maria yang terpuruk karena mendapati Cintya yang sudah meregang nyawa. Dengan berjalan mengendap dan sesekali bersembunyi di balik pilar,Amelia melihat Maria yang berjalan lemas dengan kepala yang terus menunduk lemas.


"toss ma?!" Amelia sudah mengangkat telapak tangannya mengajak Marina melakukan toss.


Marina menepukkan telapak tangannya,mereka berdua pun toss bersama lalu keduanya tertawa puas dalam diam. Setelahnya,ibu dan anak yang sama-sama gila harta itu pun berjalan meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2