
Hari demi hari berlalu,Alvaro masih saja mengerjakan apa yang ditugaskan oleh Alvaro walau dia sendiri sempat bingung untuk apa semua itu ?
"pak,saya sudah selesaikan semua" lapor Sandy pada Alvaro melalui sambungan telepon.
Alvaro sedang berada di sebuah butik bersama dengan Diana dan juga Elsifa. Dengan dalih menemani istrinya mencari rekomendasi gaun pengantin untuk sebuah acara festival.
"sebenarnya acaranya kapan sih,terus juga ngapain harus aku yang ngepass gaunnya,nanti dikira orang aku yang mau nikah" gerutu Elsifa tapi tetap mau fitting gaun yang dipilihkan Diana.
Diana tersenyum dan sedikit melirik pada suaminya.
"kali ini aja aku minta tolong,yang mau ikutan fashion ini kan temenku,kebetulan postur tubuh kalian sama,tapi sekarang ini posisinya dia lagi di luar negeri,kalau nunggu dia ntar gak keburu,pliss ya ?" pinta Diana merayu sambil merapatkan kedua telapak tangannya di dada.
2 jam berlalu,Elsifa sudah merasa lelah dengan permintaan iparnya. Diana juga sudah membayar beberapa gaun yang tadi sempat dicoba oleh kembaran iparnya. Mereka lalu keluar dari butik dan hendak ke sebuah restoran untuk makan siang bersama.
Sebuah mobil berhenti tepat di depan butik,Sandy keluar dari mobil tersenyum dan menunduk hormat pada Alvaro dan istri juga Elsifa. Kemudian Alvaro dan Diana duduk di bangku belakang,Elsifa duduk di depan samping kemudi. Ada semacam rasa canggung diantara Elsifa juga Sandy.
Alvaro dan istrinya yang melihat gelagat tersebut saling merekahkan senyuman satu sama lain. Sepertinya kejutan besar yang tengah dipersiapkannya akan sukses besar. Sementara 2 orang yang duduk di bangku depan tidak saling bicara dengan fikiran mereka masing-masing.
"kalian kenapa diam saja,apa ada masalah ?" pancing Alvaro
"gak"
jawab Elsifa dan Sandy bersamaan.
Elsifa mengalihkan pandangan dari ponselnya sekejap melirik ke sosok pria disampingnya. Pun Sandy yang juga sempat melirik pada Elsifa lalu kembali fokus pada setir kemudinya.
"aku lihat kalian berdua agak canggung,apa ada sesuatu ?" goda Diana menambahkan.
__ADS_1
Sandy dan Elsifa saling menatap,dalam beberapa detik netra mereka saling bertemu,kemudian kembali memalingkan pandangan mereka.
"hanya sedikit lelah" jawab keduanya bersamaan tapi Sandy menggunakan kata saya sebagai bentuk hormatnya.
Sampailah mereka di sebuah restoran yang menyajikan menu masakan eropa. Alvaro,Diana,dan Elsifa turun lebih dulu setelah Sandy berhenti tepat di depan tempat makan tersebut. Ia lebih dulu memarkirkan kendaraan roda empat sebelum ikut menyusul masuk dengan ketiga orang tadi.
Didalam restoran ternyata meja nya ditata per pasangan yaitu 2 kursi tiap meja. Alvaro lebih dulu memilih satu meja yang letaknya paling ujung untuknya duduk bersama sang istri.
"kenapa harus kesini sih ?" Elsifa kesal dan akhirnya duduk di sebuah kursi kosong yang letaknya tak jauh dari pintu masuk.
Tak lama kemudian Sandy masuk ke dalam restoran. Rupanya semua meja sudah terisi oleh pengunjung,dia juga melihat meja atasannya sudah dihampiri oleh seorang pelayan yang mencatat pesanan Alvaro dan Diana. Walau agak canggung,pada akhirnya Sandy memutuskan duduk di tempat yang sama dengan Elsifa.
"cari kurs...."
"maaf,tapi semua meja sudah terisi"
...****************...
"Pak Danu,hari ini kita ada meeting dengan Hadinata Corporation " Siska,sekretaris Danu mengingatkan agenda meeting.
Danu hanya menjawab dengan deheman singkat berlalu masuk ke dalam ruangannya. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas kursi sofa,menatap langit-langit ruangan sambil menghembuskan nafas besar ke udara.
Dia terngiang-ngiang kata-kata Alvaro yang mengatakan bahwa Elsifa sudah menemukan seseorang yang tepat. Sungguh,seketika itu juga hati seorang Danuarta terasa remuk
bagaikan sebuah piring yang dihantam batu lalu pecah berkeping-keping. Tak dapat dipungkiri kalau dirinya masih sangat berharap bisa bersatu dengan Elsifa dalam ikrar pernikahan. Tapi,harapan hanya tinggal angan,luka yang ditorehkannya dulu terlanjur membekas dalam hati wanita itu.
"Siska,ayo berangkat sekarang !" ajak Danu pada sekretarisnya untuk ke perusahaan yang dipimpin oleh Alvaro dengan jajaran direksi dan pemegang saham yang sebagian besar masih dalam hubungan kekerabatan dari garis keturunan sang ayah.
__ADS_1
Perempuan bertubuh sintal dengan dada yang tampak menyembul itu segera beranjak dari aktifitas kerjanya,menyambar tas miliknya lalu bergegas berlari menyusul Danu si boss yang sudah lebih dulu pergi dengan langkah lebar.
Tak tak tak
Suara sepatu hak tinggi yang dipakai oleh Siska berbunyi nyaring di lorong kantor yang nampak sunyi karena semua karyawan fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing. Menyusul atasan yang sudah masuk ke dalam mobil.
Tak butuh waktu lama,mobil yang membawa Danu,Siska dan seorang supir tiba di lokasi tujuan. Sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi dengan nama yang terpampang jelas sangat besar HADINATA di bagian atasnya lalu tulisan Corporation di bagian bawah dengan ukuran huruf lebih kecil.
Supir menghentikan mobilnya didepan loby utama perusahaan. Danu turun dari mobil lalu merapikan jas yang ia kenakan,disusul Siska yang berdiri di belakang atasannya. Dengan langkah yang mantab Danu mengarahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan tersebut.
...****************...
Sandy tiba di sebuah hotel,dia datang atas perintah Alvaro. Hotel yang selama beberapa hari ini selalu ia kunjungi karena harus mempersiapkan tempat untuk pagelaran pesta yang entah pesta apa atas perintah Alvaro. Dengan diantar oleh seorang karyawan hotel ia melangkah menuju sebuah ruangan yang dikatakan Alvaro berada di paling ujung.
Sandy mengucapkan terima kasih pada karyawan tersebut lalu masuk ke dalam sambil membawa 2 paper bag di tangannya.
"ini seperti sebuah kamar pengantin" gumam Sandy menatap pemandangan di depannya.
Sebuah kamar hotel yang banyak bertaburan kelopak bunga mawar dengan aroma wewangian yang lembut. Diatas ranjang ada 2 ekor angsa yang saling bertautan kepala membentuk hati yang terbentuk dari handuk berwarna putih bersih.
Beberapa detik kemudian Sandy tersadar dari lamunannya. Ia meletakkan paper bag yang dibawanya di atas ranjang lalu segera keluar dari kamar tersebut. Dia pun berjalan menyusuri lorong hendak keluar dari hotel. Lantas bergegas ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya. Tiba di area parkir,tiba-tiba saja Sandy tumbang dan langsung tak sadarkan diri.
Dilain tempat,Elsifa tengah kesal karena Alvaro yang tiba-tiba menjodohkannya dengan seorang pria yang tak dikenalnya. Mereka bahkan langsung menikah. Alvaro bersikeras bahwa pilihannya tidak akan salah,dan pasti bisa memberi kebahagiaan seperti yang selama ini Elsifa idamkan. Namun tidak demikian dengan Elsifa yang merasa Alvaro merebut kebebasannya.
"apa kau menunggu Sandy yang datang melamarmu ?" tanya Alvaro tiba-tiba.
Tanpa sadar Elsifa menganggukkan kepala membenarkan ucapan kembarannya. Diana tersenyum lalu memeluk Elsifa yang kini merasa malu hingga pipinya bersemu merah.
__ADS_1
"bawa dia kemari !" Alvaro menghubungi seseorang melalui telepon.