
Ira Ariana,nama yang dipilih gadis itu. Bukan tanpa alasan. Karena nama tersebut terdengar cukup familiar dan pasaran. Selain itu memang Elsifa yang memang fans dari penyanyi solo kelahiran Amerika Serikat yaitu Ariana Grande.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang dari 30 menit,taksi yang membawa Elsifa telah sampai di kediaman Joseph. Sebelum turun dari taksi,El memberikan selembar uang untuk ongkos kepada driver. Memasang kacamata hitam di matanya,membetulkan penampilannya dengan berkaca sebentar di kaca spion yang menggantung di bagian depan mobil.
"maaf,sebentar ya pak ?" ucapnya meminta izin mendapat anggukan tanda mengiyakan.
Setelah memastikan penyamarannya sempurna,gadis itu pun turun dari taksi. Menatap ke arah sebuah rumah besar yang pernah beberapa kali disambanginya dulu. Dari mulai luar halaman sampai ke dalam rumah sudah berjejer puluhan buket bunga ucapan Turut Berduka Cita dari berbagai pihak.
"Selamat siang,tuan Joseph. Saya turut berbela sungkawa atas kepergian mami Dahlia " ucap El berbisik di dekat Joseph yang tampak menundukkan kepalanya di dekat jenasah sang istri. Ayah dari 2 anak lelaki itu tak bergeming sedikitpun,masih terus menatap pada tubuh Dahlia yang kini sudah terbujur kaku ditutupi selembar kain panjang dari kepala hingga ujung kaki.
__ADS_1
Elsifa membatin lega setelah memindai sekitar tak nampak Danu disana,tapi dia juga terheran. Bagaimana bisa anak kebanggaan Dahlia itu tidak datang disaat seperti ini ? Apa tidak ada yang memberi kabar ? apa masalah pekerjaan lebih penting ? Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Elsifa seorang.
Setelah mengucapkan duka pada Joseph,wanita itu pun hendak menemui Hanifa yang nampak sedang sibuk menemani Rendra menyalami tamu yang datang memberi ucapan duka dan sedikit memberi semangat untuk tidak berlarut larut dalam duka.
Elsifa memanggil seorang pelayan yang baru saja selesai menuangkan minuman akan kembali masuk ke dapur. Tanpa curiga sedikitpun pelayan itu menghampirinya.
"aku butuh bantuanmu,katakan pada istri tuan Rendra kalau aku ingin berbincang sebentar,aku tunggu di taman samping" pelayan pun segera melaksanakan perintah Elsifa dan menyampaikannya pada Hanifa.
Danu menangis meraung di atas makam wanita yang selama ini merawat dan menyayanginya sepenuh hatinya. Penyesalan ia rasakan tatkala ia menyadari kebodohannya mencari pelampiasan disaat kondisi sang ibu yang sedang buruk. Dari kejauhan,seorang lelaki menyembunyikan tubuhnya di balik pohon terus mengamati gerak-gerik Danu.
__ADS_1
"bagaimana kalau kau tahu siapa sebenarnya wanita yang sedang kau tangisi itu ? apa kau masih bisa memaafkan dirimu sendiri ?" ucapnya terus memperhatikan Danu yang tampak sesenggukan memeluk nisan Dahlia.
Pria misterius itu pun memilih pergi dari sana,tapi ia urungkan niat karena dari kejauhan nampak rombongan mobil memasuki kawasan pemakaman. Satu persatu mobil yang berjumlah 5 unit itu berhenti. Keluar beberapa orang berpakaian serba hitam dari masing-masing mobil.
"bukankah itu keluarga Hadinata ?" tangannya tanpa sadar menunjuk pada mobil terdepan.
Alvaro berjalan dengan gagah mendekat ke arah makam Dahlia. Dia melihat seorang laki-laki yang tampak terpuruk dan begitu kehilangan sosok yang sangat dicintainya yang kini sudah berada dalam tanah. Danu bahkan tak menyadari kehadiran Alvaro disana.
Selesai menabur bunga dan berdoa diatas makam Dahlia,Alvaro mulai membuka suara.
__ADS_1
"ikhlaskan kepergiannya,tak ada guna terus menerus menangisi kepergiannya" sontak saja Danu mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.
"memang sudah seharusnya banyak yang merasa kehilangan wanita ini,dia sudah banyak berjasa untukmu" usai mengucapkan itu Alvaro dan rombongannya pergi meninggalkan makam.