Hanya Istri Di Atas Kertas

Hanya Istri Di Atas Kertas
Diatas Kertas #94


__ADS_3

Matahari bersinar terik,semangat di dada seorang pria bermarga Hadinata berkobar sempurna bak api obor yang menyala di tengah kegelapan.


Alvaro begitu bersemangat setelah mengetahui titik keberadaan saudara kembar yang dinyatakan hilang semenjak 2 bulan terlewat. Bahkan pria itu sampai melupakan makan siangnya karena ingin segera mendapatkan informasi mengenai keberadaan Elsifa juga Sandy.


"kita langsung pulang ke rumah saja pak !" perintah Alvaro pada supirnya.


Jawaban singkat diberikan oleh supir tanpa banyak tanya lagi. Dalam hatinya memang ingin bertanya kok tidak balik ke kantor,tapi ia merasa sepertinya itu bukan urusannya. Yang terpenting,ia menjalankan tugasnya mengantar kemanapun sang majikan akan bepergian tanpa banyak tanya ataupun alasan.


Sementara itu,Diana yang merasa bosan berada di rumah sudah bersiap pergi ke kantor Alvaro. Mobil sudah disiapkan oleh sopir,hanya tinggal menunggu perintah saja kendaraan mesin beroda 4 itu akan siap meluncur di jalanan. Tapi kemudian ponsel milik Diana berbunyi. Ada sebuah panggilan masuk dari nomer asing.


"ha-lo" Diana menjawab dengan terbata karena merasa ragu.


"sayang,kenapa kamu bicara terbata-bata gitu,ada apa denganmu,kamu baik-baik saja kan ?" itu ternyata Alvaro yang menelpon menggunakan ponsel si sopir.


"aku kira siapa,ternyata kamu,kenapa ganti nomer gak kasih tau lebih dulu ?"


"bukan,aku pinjam ponsel pak Budi. Karena ponsel ku lowbat lupa cas tadi"


"oh,kamu ada di kantor kan ?"


Terdengar suara pintu gerbang terbuka tapi Diana tak menyadarinya,Alvaro turun dari mobil dan melenggang masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan sambungan telepon sudah diputuskan oleh Alvaro.


"halo,halo, kok mati sih ?" Diana merasa jengkel karena Alvaro yang tiba-tiba mematikan sambungan telepon mereka.


Kemudian tanpa di duga,sebuah tangan kekar nan lembut menyergap Diana yang sedang mengerucutkan bibirnya sampai beberapa centi (agak lebay gpp ya...),membuat Diana terkejut dan sedikit berteriak.


"ahh"

__ADS_1


Alvaro meletakkan kepalanya di ceruk leher Diana lalu menghembuskan nafas dari hidung yang hangat menerpa sisi telinganya.


"hay sayangku,istriku tercinta"


Diana membuka mata yang sempat terpejam karena gelayar aneh yang selalu dirasakan ketika mendapat sentuhan di area sensitifnya selain di bagian intimnya.


"kamu kok ke rumah,emangnya gak kerja ?" tanyanya pada Alvaro yang kini mulai menciumi leher Diana yang sudah menjadi candu tersendiri bagi Alvaro.


Alvaro tak menjawab pertanyaan Diana malah melancarkan serangan ciumannya yang semakin menuntut,untuk beberapa saat keduanya terhanyut dalam situasi yang memabukkan. Sampai pagutan bibir diantara mereka harus terhenti karena ponsel Alvaro yang terus bergetar. Ada sebuah pesan masuk.


Tiket pesawat keberangkatan sore ini sudah siap


Alvaro tersenyum sesaat dan meletakkan ponsel kembali ke dalam saku jas yang ia kenakan,lalu kembali melanjutkan aksinya sambil menggendong Diana menuju kamar mereka tanpa melepas sedikitpun ciuman yang penuh hasrat itu. Diana tak mengelak ataupun menolak,karena jujur saja ia juga merindukan sentuhan hangat dari suaminya karena sudah 2 hari berturut-turut Alvaro sibuk di kantornya.


Disebuah kantor,


"maaf nona ada perlu dengan siapa ?" tanya seorang resepsionis pada Amelia yang baru saja masuk.


"maaf nona,orang luar tidak bisa sembarangan masuk ke kantor ini tanpa seizin pimpinan kantor yaitu pak Danu"


"aku kan sudah bilang,aku ini calon istrinya boss kalian"


"tapi bu,maaf"


terjadi perdebatan diantara keduanya. Resepsionis bersitegang bertahan dengan peraturan yang berlaku di kantor. Sedangkan Amelia bersikeras masuk dengan mengedepankan titel "calon istri". Amelia bahkan mengancam akan memecat resepsionis itu kalau ia tak diizinkan masuk ke kantor.


"maaf,ini ada apa ?" tanya Rendra yang siang itu datang ke kantor Danu,disampingnya ada seorang wanita dengan perut yang membuncit,siapa lagi kalau bukan Hanifa. Istri Rendra yang tengah hamil tua.

__ADS_1


Amelia menatap Rendra dan Hanifa dengan tajam. Dia seperti mengenal dua orang itu tetapi entah dimana. Untuk kemudian dia dengan bangga memperkenalkan diri sebagai calon istri kepada Rendra dan juga istrinya.


"sekarang kembalilah ke meja kalian masing-masing,biar ibu ini aku yang urus" Rendra memerintahkan para karyawan yang berdiri melihat keributan akibat perdebatan antara Amelia dan resepsionis tadi.


Para karyawan pun langsung membubarkan diri dan kembali bekerja di meja masing-masing sesuai departemen mereka. Satpam yang tadi hendak melerai pun juga turut kembali berjaga di depan.


"mari ikut saya ke lobi kantor,bu...." Rendra mengajak Amelia ke lobi kantor


"jangan sembarangan panggil aku ibu,aku belum punya anak" Amelia enggan dipanggil dengan titel ibu.


"oh ya,maaf kalau begitu bu..maksud saya nona. Tapi memang gaya berpakaian anda dan riasan wajah anda terlihat seperti wanita dewasa" sindir Rendra ingin mengatakan kalau wajah Amelia terlihat tua di umurnya yang bahkan diperkirakan belum mencapai kepala 3.


Amelia mendengus kesal mendengar perkataan Rendra. Dalam hati dia mengumpati lelaki asing yang tiba-tiba hadir di kantor.


"silakan duduk nona ! sayang,kamu bisa tunggu sebentar kan ?" Rendra mempersilakan Amelia duduk di ruang lobi lalu beralih meminta izin Hanifa untuk menyelesaikan masalah dengan Amelia.


Hanifa menurut saja dan ikut duduk di bangku yang berbeda dengan Amelia disamping Rendra duduk.


"sebenarnya siapa anda dan ada keperluan apa nona ini datang ke kantor ini lalu membuat keributan dengan mengaku sebagai calon istri dari pimpinan kantor ini ?" tanya Rendra yang melihat Amelia sudah meletakkan tubuhnya duduk diatas bangku sambil menyilangkan kakinya secara bertumpuk.


Amelia bersikeras mengaku sebagai calon istri Danu kepada Rendra,entah Amelia yang tak tahu siapa yang sedang dia hadapi,atau dia yang tak tahu malu mengaku-ngaku. Benar-benar harga diri seorang Amelia sudah jatuh dihadapan Rendra dan juga Hanifa saat ini juga. Karena sejak bangkit dari keterpurukannya bercerai dari Elsifa,Danu memutuskan menutup pintu hatinya untuk gadis atau wanita manapun,sisa hidupnya hanya untuk membahagiakan orang-orang yang ia sayangi, yaitu Joseph satu-satunya orang tua yang masih ia miliki dan Elda anak yang diadopsinya sejak usia 2 tahun dari sebuah panti sosial.


...****************...


Jelang sore hari,matahari mulai tergelincir dari peraduannya. Elsifa dan Sandy duduk di atas batang pohon yang sangat besar menatap pemandangan tenggelamnya matahari dibalik jajaran gunung yang menjulang tinggi.


"dulu,aku selalu ingin menikmati pemandangan ini dengan orang yang tulus mencintaiku" ucap Elsifa disela kekagumannya menatap langit sore yang berwarna jingga.

__ADS_1


"lalu,apa kah sudah terwujud keinginan itu ?" timpal Sandy


"entahlah,rasanya hati ini sudah mati karena lelaki itu" jawab Elsifa malas


__ADS_2