
Kabar meninggalnya Cintya terdengar juga sampai di telinga Alvaro. Pria itu baru mengetahui kalau ternyata Cintya adalah putri kandung dari musuh besarnya. Maria yang sedari dulu terus gigih berusaha membuat perusahaan yang dibangun oleh mendiang ayahnya bangkrut. Alvaro turut berduka,tetapi lebih kepada Cintya,gadis yang dikenalnya tak banyak tingkah,bahkan gadis itu dikenal berperangai cukup baik dan menyenangkan.
"sayang,kamu mau ke kantor pakai pakaian serba hitam gitu ?" tanya Diana yang heran melihat penampilan suaminya yang mengenakan setelan serba hitam dari atas hingga bawahannya.
Alvaro mengatakan ada teman kuliahnya dulu saat di luar negeri yang meninggal,dan sebelum pergi ke kantor ia mau menyempatkan diri mengunjungi makam temannya itu lebih dulu. Diana pun mengiyakan. Wanita itu pun sedikit terkejut mendengarnya.
"kasihan sekali nasibnya" komentarnya sambil membenahi posisi dasi Alvaro.
...****************...
__ADS_1
Elsifa dan Sandy sudah selesai berkemas. Semua koper sudah mereka letakkan di depan kamar,tinggal menunggu petugas yang akan membantu mereka untuk membawakan barang bawaan mereka sampai ke halaman depan penginapan.
"silakan anda berdua turun lebih dulu,barang-barang anda akan aman bersama kami" ucap lelaki berseragam penginapan membungkuk hormat mempersilakan dua orang tamunya untuk turun ke lantai dasar lebih dulu.
Keduanya pun menurut saja,lalu bergegas turun dengan menaiki lift yang tersedia. Sandy menekan tombol turun di depan lift. Tak lama kemudian pintu lift terbuka,tampak beberapa orang keluar dari lift,Sandy dan Elsifa berdiam sejenak membiarkan mereka yang keluar lebih dulu baru mereka berdua akan masuk ke dalam lift.
Tingggg,pintu lift pun tertutup otomatis setelah keduanya memasuki lift. Dalam ruangan berukuran 2x2 meter tersebut hanya mereka berdua saja,suasana hening. Elsifa yang terus saja asyik memandang keluar,sementara Sandy berkali-kali mencuri pandang pada Elsifa.
"bo*** sekali kalian,hanya menunggu dan menunggu saja,cari yang bener" umpat Marina mengatai dua lelaki di depannya.
__ADS_1
Mendengar dirinya dikatai yang tidak-tidak sebenarnya mereka tidak terima. Tapi karena merasa saat ini mereka tak berdaya,jadi mau tak mau mereka pun hanya menelan umpatan itu mentah-mentah tanpa bisa mengelak atau bahkan melawan pun.
Tak sampai disitu saja,keduanya bahkan sempat disiram dengan air saat mengatakan kalau pengintaian mereka hampir ketahuan oleh keamanan yang ditugaskan menjaga rumah Alvaro.
Rupanya Marina sendiri juga belum mengetahui kalau Elsifa tidak berada di tempat,targetnya itu masih berada di luar negeri sedang menikmati liburannya sebelum kembali beraktifitas di kampusnya.
Setelah menunggu hampir 1 jam di loby penginapan,jemputan untuk El juga Sandy akhirnya datang. Lagi-lagi Tom yang datang menggantikan ayahnya. Pemuda itu mengatakan kalau kondisi ayahnya sudah cukup membaik tapi belum kuat beraktifitas berat.
Segera setelah memasukkan barang-barang tuannya ke dalam bagasi,pemuda yang baru berusia 20 tahunan itu pun menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang setir kemudi. Dan setelah memastikan semuanya siap serta tidak ada yang tertinggal barulah Tom menyalakan mesin mobil lalu segera melajukannya di jalanan kota Paris untuk menuju bandara. Sepanjang jalan menuju bandara yang terlihat hanya hamparan salju yang meluas di sepanjang jalan menutupi jalanan,menutupi rerimbunan semak bunga. Banyak anak-anak bermain salju dengan riangnya. Tanpa sadar Elsifa teringat perkataan Danu yang berkeinginan membina rumah tangga yang lebih baik dan memiliki anak dari dirinya.
__ADS_1
Elsifa menggelengkan kepalanya,mengusir bayangan Danu yang tak sengaja muncul di kepalanya. Baginya sudah seharusnya dia melupakan mantan suaminya itu. Berkali-kali Elsifa menutup mata lalu meyakinkan dirinya bahwa keputusan yang sudah diambil tidak untuk disesali. Sandy yang melihat Elsifa sedikit bertingkah aneh pun hanya sedikit heran tapi hanya mendiamkannya tanpa ingin menanyakannya langsung pada yang bersangkutan.