
Elsifa menghidupkan ponsel miliknya. Beberapa notif masuk. Nomor pribadi tanpa nama mendominasi,El tak mengingat siapa pemilik nomor tersebut. Maka dia biarkan begitu saja dan segera menghapus notifikasi yang dianggapnya tidak penting itu.
"banyak sekali panggilan masuk dari indo ?"
"Rendra ?,ada apa sampai dia berkali-kali mencoba menghubungi ku ?" celotehnya sendiri.
Disisi lain,di kamar yang saling bersebelahan.
Sandy sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk di dalam kamarnya. Menjadikan lengan sebagai bantalnya,menatap lurus ke langit-langit kamar. Terlintas bayangan kejadian masa lalu saat dia terus membuntuti Elsifa tanpa gadis kecil itu sadari. Sandy benar-benar menyukai gadis itu,gadis cilik yang selalu ceria.
Dua sudut bibir Sandy melebar ke samping membentuk sebuah senyuman. Tidak menyangka selama ini ternyata dia sudah sedekat itu dengan gadis yang menjadi pujaan hatinya.
"apa dia masih mengingat anak laki-laki yang selalu menempel dengan ibunya dulu?"
__ADS_1
"apa dia masih mengingat anak laki-laki dengan ibunya yang membuat bekas luka permanen di lengan sebelah kanannya dulu ?"
begitulah kira-kira monolog Sandy.
Tok tok tok
"Sandy ,Sandy !!" teriak seseorang dari luar kamarnya.
Sandy yang baru akan memejamkan mata pun segera turun dari ranjangnya untuk membuka pintu,dia sudah tau kalau itu adalah Elsifa.
"maaf,tapi bolehkah aku meminjam chargermu ? entah,aku lupa tak membawanya atau tertinggal di suatu tempat ? El sedikit menyesal dengan ekspresi lelaki didepannya.
Sandy tak banyak bicara segera masuk ke dalam kamarnya,tapi kemudian keluar lagi setelah beberapa saat dengan membawa charger ponsel miliknya untuk diberikan pada Elsifa yang akan meminjamnya.
__ADS_1
"ini,pakailah saja dulu,kebetulan aku sudah mengisi penuh batere ponsel ku" ucap Sandy seraya menyerahkan charger pada Elsifa.
"oke,kalau begitu selamat tidur" Sandy masih berdiri di tempatnya sementara Elsifa sudah masuk ke dalam kamarnya.
Sandy menggelengkan kepala melihat tingkah gadis yang baru mendapat status jandanya beberapa hari yang lalu. Ya,Elsifa adalah seorang janda karena sudah bercerai dari mantan suaminya,tapi biarpun begitu selama statusnya sebagai istrinya Danu dulu,tak sekalipun Danu pernah menyentuhnya,apalagi sampai lepas perawan.
Hari masih cukup gelap,mereka tidur bersama di tempat yang berbeda. Suasana kota Paris yang sedikit lebih dingin memaksa mereka memakai baju hangat selama tidur tak lupa selimut yang semakin menghangatkan tidur mereka. Dalam beberapa menit saja Elsifa langsung terlelap dan segera terbang ke alam mimpinya. Lain halnya dengan Sandy yang justru tak lagi dapat memejamkan mata padahal sudah berkali-kali pria itu menguap,tanda kalau ia memang sangat mengantuk karena lelah.Tapi entah kenapa walau terus berusaha memejamkan mata tetap saja ia tak bisa terlelap.
Dibelahan bumi lain.
Marina yang tak terima dengan pernyataan Elsifa beberapa hari yang lalu dengan mengatakan kalau putri kesayangannya Amalia tidak laku makanya harus dijodohkan dengan sepupunya sendiri yaitu Danuarta. Dia marah besar dan tengah merencanakan sesuatu untuk mencelakakan mantan istri Danu tersebut.
"jadi bagaimana,apa kalian setuju dengan penawaranku ?" Marina keluar dari kamarnya dan menemui dua orang lelaki yang punya banyak hutang judi di tempatnya.
__ADS_1
Dua orang itu saling tatap satu sama lain untuk menanyakan keputusan yang harus mereka ambil. Untuk beberapa saat keduanya hanya terdiam dengan kepala yang menunduk takut untuk menatap mata Marina yang terlihat judes. Mereka hendak menolak,karena hal yang ditawarkan oleh wanita itu adalah tindakan kriminal,tapi mereka juga takut kalau Marina akan berbuat nekat yang mengancam keselamatan keluarga mereka.
"baik,saya setuju" jawab mereka hampir bersamaan dan langsung saling lempar pandang. Marina pun tersenyum puas dengan seringai licik.