Hanya Istri Di Atas Kertas

Hanya Istri Di Atas Kertas
Diatas kertas #85


__ADS_3

Maria terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal seperti ikan yang kehabisan nafas karena terlalu lama berada di daratan. Keringatnya bercucuran membasahi seluruh wajahnya,seorang tahanan yang berada dalam ruangan yang sama menghampirinya dan mencoba menenangkannya.


"tenang ,ini minumlah dulu biar kamu sedikit lega !" segelas air terulur. Maria menerima dengan tangan yang sedikit gemetar kemudian segera meminumnya hingga tandas. Ia kemudian meletakkan gelas kosong tersebut di lantai dekat dinding sel penjara.


Wanita itu sudah mulai tenang dan bisa menguasai diri. Nafasnya juga sudah mulai berhembus normal,tetapi tak dapat dipungkiri kalau dalam hatinya masih merasakan sebuah firasat buruk yang entah apa. Maria mencoba mengusir perasaan itu dengan mencoba untuk memejamkan mata kembali.


Disisi lain,suara tawa menggema di sebuah kamar kecil.


"hahahahaha, bagus. aku puas mendengarnya" serunya kesenangan karena mendapat kabar yang membuatnya merasa puas.


"terima kasih,sayangku. anak buahmu benar-benar bisa diandalkan,emuach" Amelia memberikan kecupan di bibir teman kencannya,atau lebih tepatnya adalah pelanggannya yang langsung dibalas dengan sedikit lum***n.


Tiba-tiba ponsel milik Amelia berbunyi,layar ponsel yang nyala mati berkali-kali menandakan ada telepon masuk di ponsel miliknya. Terpaksa ia menyudahi dulu kegiatannya dan beralih menerima telepon tersebut. Dengan malas ia mengangkat telepon yang ternyata dari mamanya.

__ADS_1


"hmm,ada apa ma ?" jawabnya malas.


"hmm,aku sudah tau,sudah ya. aku lagi kasih servis nih,udah mama jangan ganggu aku kalau gak ada hal yang penting,oke ? bye" wanita muda itu lalu menutup teleponnya sepihak kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


Disisi lain,Marina hanya bisa menghela nafas panjang karena sikap putrinya yang sangat susah diatur. Walaupun bukan anak sendiri,tapi Marina sudah sangat memanjakan Amelia melebihi anak sendiri. Semua karena hutang budinya pada orang tua Amelia di masa lalu.


Kita tinggalkan tokoh figuran kita. Beralih ke kehidupan Danu.


Hari sudah beranjak malam,sinar jingga mentari sore beranjak menghilang tergantikan remang cahaya rembulan bertaburkan bintang yang gemerlapan. Danu duduk termenung seorang diri di balkon kamarnya.


"apa kau tau,aku sangat hancur saat ini"


"aku merasakan jauh lebih sakit dari yang kau rasakan saat kita masih bersama dulu"

__ADS_1


"jika dulu banyak orang yang mendukungmu,tapi aku merasakan segala kepahitan ini seorang diri"


"aku benar-benar putus asa,hahhhhh"


gumaman Danu diakhiri dengan hembusan kasar menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa di balkon kamarnya.


Enggan beranjak dari posisinya,memandangi hamparan bintang yang saling berkedip di langit malam yang cerah. Tapi tak demikian dengan suasana hatinya. Dimanapun dan kapanpun waktunya hatinya selalu diliputi rasa penyesalan yang teramat dalam,rasa penyesalan yang teramat terlambat untuk disadari. Ketika pintu maaf sudah tak mungkin lagi terbuka untuknya.


Sayup-sayup terdengar irama musik malam yang dinyanyikan oleh para serangga kecil,diselingi hembusan angin yang menerpa dedaunan di pohon-pohon yang rimbun. Dengan perasaan yang masih berkecamuk,pria itu tertidur di sofa dengan beratapkan langit malam yang temaram.


Dalam waktu sekejap Danu sudah memasuki alam mimpi. Dimimpinya ia bertemu dengan Dahlia,wanita yang baru saja meninggalkannya dengan sejuta penyesalan dalam hatinya.


"mami,jangan pergi dulu !!" igaunya.

__ADS_1


Tangannya terulur seolah menggapai sesuatu,tapi kemudian tangan yang terulur itu jatuh dengan sendirinya.


__ADS_2