
" kenapa kau baru mengatakannya sekarang,lalu bagaimana kondisinya ?" Alvaro marah karena asistennya itu tak langsung mengatakan tentang kecelakaan yang menimpa saudara kembarnya.
Sandy hanya menunduk merasa bersalah. Memang sudah seharusnya dia langsung mengabari perihal keadaan Elsifa. Beruntung Elsifa sudah sadarkan diri.
"nona sudah sadarkan diri,tadi saya sempat menemui dan memastikan keadaannya sebelum pergi ke kantor" sahutnya jujur.
"kau handle semua pekerjaanku hari ini,aku akan menemani Elsifa di rumah sakit hari ini" Alvaro meraih jas nya yang disampirkan di kursi kebesaran miliknya,kemudian segera lenyap di balik pintu. Sementara Sandy hanya bisa menghela nafas karena langkah boss nya yang terlampau cepat.
"hahhhh,padahal hari ini aku harus ke kantor polisi" keluhnya berjalan lemas meninggalkan ruangan Alvaro.
Alvaro dengan langkah panjangnya berjalan menuju keluar kantornya,sepanjang jalan para karyawan menyapanya dengan penuh hormat dan juga rasa kagum mereka. Tak jarang karyawan perempuan yang acap kali menelan kecewa ketika atasan tempat mereka mencari nafkah yang terbilang sangat tampan dan berwibawa itu memutuskan meminang seorang gadis biasa teman kuliahnya dulu.
"sungguh gadis yang beruntung" begitulah ucapan para gadis yang memuja Alvaro dulu.
Kini Alvaro sudah sampai di rumah sakit,pria itu segera menanyakan kepada resepsionis dimana ruang perawatan Elsifa. Kebetulan ada seorang perawat yang akan ke kamar inap Elsifa.
__ADS_1
"maaf tuan,kebetulan saya akan menuju kamar pasien tersebut,mari saya antarkan anda kesana !" ajak perempuan muda berbaju perawat tersebut dengan ramah.
Alvaro mengangguk lalu pergi mengikuti langkah perawat setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada resepsionis yang ia tanyai. Perawat itu berjalan ke arah lift lalu menekan tombol naik.
"apa saudari ku ada di lantai atas ? " tanyanya pada si perawat.
"tadi pagi ada yang meminta pada kami agar pasien dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih layak " jawab perawat tersebut.
Tingggg,pintu lift pun terbuka. Alvaro masuk setelah perawat masuk lebih dulu. Didalam lift,dia bertemu seseorang.
"yah,tuan Danuarta " Alvaro menjabat tangan Danu.
"sedang apa anda disini,apakah ada yang sakit ?" tanya Alvaro sekedar basa-basi,sebenarnya dirinya tak begitu suka berbasa-basi.
"ya,mami saya dirawat di sini karena kondisinya yang terus menurun" jawab Danu yang masih belum tahu kalau Dahlia drop karena belum bisa terima kalau Danu ternyata bukan anak kandungnya.
__ADS_1
"bagaimana dengan anda,sepertinya kalau untuk check up kesehatan ini bukan waktu yang tepat." tambah Danu menanyakan tujuan koleganya ke rumah sakit di akhir minggu begini.
drrrrrt ~~ drrrrrt ~~ drrrrrt
"maaf,saya terima telepon dulu " Danu lebih menepi.
Diwaktu bersamaan pintu lift terbuka,Alvaro keluar bersama perawat tadi,disusul kemudian ternyata Danu juga keluar dari lift.
"terserah kau saja,tapi ingat jangan ajak dia anakku makan seafood !!" omel Danu pada seseorang di telepon.
Alvaro yang masih barusan mendengar apa yang diucapkan Danu jadi bertanya dalam hati
" anak ?"
Kini Alvaro sudah berada dalam ruang perawatan saudara kembarnya. Dirinya tampak syok melihat keadaan Elsifa yang terbaring lemas dengan kepala yang dibalut perban dan terdapat beberapa luka di bagian tangan dan kaki gadis yang sekarang berprofesi sebagai dosen muda itu. Alvaro mendekat ke brankar adik kembarannya itu dan menatap sayu gadis yang terbaring di sana. Tangan Alvaro meremat jarinya kuat mengingat ucapan Sandy yang mengatakan orang terakhir yang dihubungi oleh Elsifa adalah Danu,mereka janji temu di cafe Alamanda tepat jam 8 malam.
__ADS_1