
Diana terbaring di ranjang pasien,karena mulai hari ini dia harus bed rest sebelum melaksanakan aborsi. Walaupun berat,tapi keputusan tersebut terpaksa diambil Alvaro karena tak ingin sampai istrinya kenapa-napa.
Butiran air berwarna transparan terus mengalir dari sudut netranya. Masih tak terima jika harus kehilangan calon buah hati yang sudah hadir di dalam kandungannya. Alvaro hanya bisa berbesar hati dan terus membujuk istrinya itu dengan mengatakan masih ada kesempatan lain.
"sudah sayang,kamu jangan menangis terus,tak baik buat kesehatanmu !" Alvaro masih berusaha untuk menenangkan istrinya.
Tetapi Diana masih terus larut dalam kesedihannya. Kalau bisa memilih,dia lebih memilih untuk mati bersama janin yang dikandungnya daripada harus membunuh makhluk kecil tak berdosa itu. Tapi sayangnya Alvaro tak memberikan pilihan itu karena tak mau terjadi sesuatu yang dapat membahayakan nyawa wanita yang sudah bergelar nyonya Alvaro itu.
...****************...
"gila,kamu bener - bener gila" umpat seorang pria setelah mendengar pernyataan Lucas
__ADS_1
Sebelumnya, Gerry menghubungi Lucas untuk mengajaknya ke rumah Marina bersama. Dan Lucas mengiyakan. Segera pria yang mencari nafkah dengan menjadi pengemudi ojek online itu mempercepat acara makan siangnya dan bergegas untuk menemui Marina di kediamannya.
Dalam waktu beberapa menit sepiring menu nasi pecel lengkap dengan segala lauk-pauknya sudah berpindah ke dalam perut pria berkulit putih bersih itu. Ia hendak keluar dari rumah makan itu,tapi langkahnya terhenti karena seseorang yang memanggilnya.
"hey bro,buru-buru amat sich, ada orderan ?" tanya pria yang juga berprofesi sama dengannya.
Melirik waktu yang masih cukup lama untuk berangkat menemui Marina ia pun pasrah saat tangannya ditarik oleh rekan seprofesinya itu.
Lalu ia pun menunggu di kursinya dimana Lucas sudah mengambil sebotol teh dingin untuk ditenggaknya. Sambil menunggu pesanan nasi pecelnya datang,ia pun mulai mengobrol dengan Lucas.
Dimulai dari obrolan ringan seputar orderan penumpang yang dari hari ke hari semakin sepi,maupun jasa pengantaran yang justru semakin ramai. Sampai pada saat Lucas mulai berbicara serius tentang tawaran Marina untuk pelunasan hutangnya. Pria itu langsung mengatai temannya itu.
__ADS_1
...----------------...
Jam makan siang sudah berakhir,Danu masih belum beranjak dari kesibukannya di depan laptop. Mencocokkan antara laporan keuangan secara otomatis di sistem perusahaan dengan laporan keuangan yang tadi diserahkan oleh karyawannya.
Matanya dengan jeli menelisik satu persatu deretan angka di depan matanya. Sampai melupakan waktu makan siangnya,bahkan suara ponselnya yang berkali-kali berdering tak digubrisnya.
Pria yang sudah kedua kalinya bergelar duda itu terus fokus dengan pekerjaannya. Selain untuk menemukan siapa yang sudah berlaku curang dalam perusahaan miliknya,ia juga gila kerja karena ingin melupakan kesedihannya karena perceraiannya dengan Elsifa.
Sementara itu,Elsifa tengah menikmati dinginnya malam kota Paris. Dengan memakai baju berlapis-lapis,jaket tebal berbulu di bagian lehernya,kaki jenjangnya yang tertutup oleh celana tebal berbahan katun yang hangat,wanita itu berjalan seorang diri untuk mencari kesenangannya.
Tanpa dia sadari,Sandy terus mengekor di belakangnya. Dengan sabar,pria itu mengikuti kemanapun saudari atasannya melangkahkan kaki. Melelahkan memang,tapi Sandy sendiri tak bisa banyak protes dengan perintah Alvaro yang mempercayakan keamanan Elsifa padanya.
__ADS_1