
"aku mencium percobaan penipuan disini" bisik Alvaro ketika melewati Maria yang sedang duduk di kursi dalam sebuah klub.
Wanita yang tak lagi muda itu sepertinya sedang menunggu seseorang yang akan datang menemuinya,karena dia terlihat berulang kali menengok ke arah pintu masuk klub. Alvaro duduk begitu saja di depan Maria,lalu memesan minuman dengan kadar alkohol rendah pada barista yang sedang bertugas.Dengan ketrampilannya,barista tersebut cekatan membuatkan minuman yang dipesan oleh pelanggannya. Maria hanya melirik sekilas pada Alvaro karena mungkin wanita tersebut tak mendengar ucapan boss muda yang kini duduk di sebelahnya.
"sepertinya anda sedang menunggu seseorang madam ?" tanya Alvaro sedikit berteriak karena dentuman musik DJ yang menggema di ruangan dengan pencahayaan minim tersebut.
Maria menajamkan pendengarannya saat Alvaro mengulang pertanyaan padanya dengan memperhatikan gerak bibir lelaki muda di depannya. Maria bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Alvaro lalu membisikkan sesuatu.
"bukan urusan anda anak muda" bisiknya
"dan lagi,panggil saya bunda !" tambahnya lagi.
Alvaro tersenyum kecut,satu sudut bibirnya tertarik ke samping,sedang yang lainnya tetap berada di tempat.
"apakah anda memantaskan diri anda dengan panggilan bunda,sementara perilaku anda sama sekali tak mencerminkan sikap seorang bunda" sindir Alvaro.
Maria menautkan kedua bulu-bulu diatas matanya,bermaksud ingin menanyakan apa maksud dari kalimat yang diucapkan oleh pemuda tersebut. Tapi seolah wanita itu sudah merasa tersindir sehingga ia memilih meninggalkan Alvaro lalu pergi begitu saja.
Disisi lain,Elsifa sedang menemui kedua orang tuanya yang sengaja datang untuk menemuinya.
__ADS_1
"mama,papa " seru Elsifa sembari memeluk bergantian kedua orang tua itu.
"apa kau masih menganggap kami sebagai orang tuamu setelah kamu bertemu dengan keluarga kandungmu ? " mata Santi kini sudah berkaca-kaca.
Elsifa memeluk wanita yang selama ini ia panggil mama,membuat genangan air yang sudah berada di kelopak matanya tak lagi dapat tertahan karena El yang membisikkan sesuatu.
"sampai kapanpun mama tetaplah mamaku,apapun yang terjadi mama tetaplah mamaku,tak akan mengubah apapun" bisiknya.
Santi semakin mempererat pelukannya pada gadis yang dari beberapa puluh tahun yang lalu ia angkat anak. Menatap lekat gadis kecil yang sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang mempunyai wajah yang cantik jelita dengan segala kelebihan yang dimiliki.
Mereka larut dalam sebuah perasaan haru.
"nomor tak dikenal ?" dahi lelaki itu bertaut
Santi menoleh ke arah suaminya karena suaminya itu tak juga mengangkat panggilan teleponnya.
"dari siapa pa,kok gak diangkat ?" tanya Santi heran
"siapa tau penting pa" El ikut menimpali
__ADS_1
Ardi pun menuruti dan menjawab telepon.
"halo" jawabnya mengangkat telepon
tak terdengar suara dari seberang telepon,hanya terlihat wajah Ardi yang seolah bertanya-tanya setelah ia mengakhiri telepon.
"kenapa pa ?" wajah Santi semakin terheran heran ketika Ardi terlihat memijit dahinya menggunakan jari-jarinya.
"Haditama" gumam Ardi masih terdengar oleh istri dan anaknya
"siapa Haditama,pa ?" Santi ingin tau
"entahlah,tapi baru saja ada yang mengaku keluarga Haditama dan ingin bertemu dengan kita" jawab Ardi masih memegang dahinya
"kita diundang dalam acara makan malam besok" tambahnya
"makan malam ? kita ? papa,mama,sama Elsifa juga ?" Santi ingin memastikan
"entah,yang jelas kita diundang untuk makan malam" Ardi menjelaskan.
__ADS_1