
Hari beranjak pagi,matahari menerangi dunia dengan sinarnya yang menghangatkan. Alvaro terbangun dari tidurnya karena merasa silau dengan sinar matahari yang menyala dengan terang hingga tembus ke dalam tenda tempatnya beristirahat. Ia lalu duduk dan segera meminum air yang selalu ada di dekat tempatnya tidur. Kemudian melipat selimut lalu membuka tenda dan keluar dari persembunyiannya.
Ternyata diluar sudah agak ramai,beberapa orang sudah nampak sibuk dengan kegiatan mereka. Ada yang menyeduh kopi,ada yang tampak meregangkan otot dan melakukan senam ringan,ada pula yang hanya duduk santai saja. Mereka melemparkan senyuman pada Alvaro yang ikut duduk-duduk di antara mereka.
"pagi pak,nyenyak tidurnya semalam ?"sapa seorang anggota tim berkulit putih pada Alvaro.
Alvaro menjawab dengan anggukan dan senyuman kecil. Lalu bangkit dari duduknya.
"yah,sangat nyenyak"
"sebaiknya kalian bersiap,karena kita akan mulai menyisir hutan setelah ini"
" 1jam dari sekarang !"
ucap Alvaro lalu beranjak dari tempatnya dan kembali ke tendanya. Pria itu segera merapikan alas tidur dalam tenda lalu bertindak cepat merobohkan tendanya.
Setelah kain tendanya terlipat,dan tiang-tiang kecil penyangga sudah terkumpul jadi satu. Alvaro meraih sebuah kotak berwarna hitam dan merah yang berisi roti lalu mengambil satu untuknya dan membagikan pada semua orang yang ada disana,tak lupa membagikan sekotak susu yang sengaja dibawanya.
Ditempat lain,Elsifa merasa bersalah karena sudah membuat lengan Sandy sakit karena tak bisa bebas bergerak semalam. Ia terus meminta maaf pada Sandy sambil menangis sesegukan. Bahkan saat Sandy sudah menyuruhnya menghentikan tangisannya,Elsifa masih saja menangis walau tak bersuara.
"baiklah,apa kau akan terus menangis seharian penuh ?" Sandy sudah tak tahan karena Elsifa masih terisak.
El tak menjawab,dia berhenti menangis karena tak ingin membuat lelaki dihadapannya semakin kesal padanya.
"baiklah,aku akan pergi mencari makanan dulu,kamu mau ikut atau dirumah saja ?" tanya Sandy memberi pilihan. Dengan cepat El menjawab kalau dia ikut mencari persediaan makanan.
Akhirnya mereka berdua pun meninggalkan rumah pohon yang baru dibangun oleh Sandy beberapa hari yang lalu dan mulai mencari buah-buahan yang tumbuh liar di hutan untuk mereka makan bersama.
Di lain tempat,Alvaro dan tim penyelamat sudah mulai bergerak menelusuri kawasan hutan yang masih sangat terjaga kealamiannya. Mungkin hutan tersebut adalah kawasan hutan lindung. Tim dibagi menjadi beberapa kelompok yang bergerak dengan arah yang berbeda. Masing-masing tim terdiri antara 3-5 orang yang dibekali alat komunikasi khusus untuk saling berbagi informasi kalau mereka menemukan apa yang mereka cari atau menemukan jejak yang bisa membantu dalam pencarian mereka.
__ADS_1
Alvaro bersama dengan ketua tim penyelamat. Berjalan ke arah barat semakin masuk ke dalam hutan. Tak lama berselang,Alvaro dan tim melihat sebuah bangunan kayu yang berdiri di tengah hutan. Ketua tim memerintahkan anggotanya untuk masuk ke dalam rumah kayu tersebut dan memeriksa apakah ada orang di dalamnya.
Beberapa saat kemudian,
"sepertinya rumah ino memang sudah tak berpenghuni,kondisi di dalam sangat kotor dan banyak sarang laba-laba dimana-mana" lapor seorang pada ketua tim yang menunggu di depan bersama Alvaro.
Tak lama kemudian seorang yang melihat ke bagian belakang rumah juga melapor tak ada jejak apapun yang ditinggalkan. Mereka lanjut meneruskan pencarian mereka.
Sampai hari jelang siang tak ada sedikitpun petunjuk keberadaan 2 orang yang mereka cari. Tapi mereka tak bisa berputus asa karena tugas mereka belum selesai sampai bisa menemukan Elsifa dan Sandy dalam keadaan selamat.
Ketua tim regu meminta izin pada Alvaro untuk mereka istirahat sejenak makan dan minum dulu untuk memulihkan tenaga mereka yang sudah terkuras karena juga harus bekerja ekstra memotong rumput dan rerimbunan daun dan tanaman liar yang menghalangi jalan mereka. Alvaro langsung mengizinkan.
Pria itu duduk diatas bongkahan kayu besar dan menggunakan sebuah daun berukuran lebar semacam daun talas berwarna ungu kemerahan sebagai alas duduk. Kemudian mengambil ponsel yang diletakkannya pada sebuah dompet yang terikat di ikat pingganggnya dan coba menghidupkan benda pipih tersebut. Berharap ada signal internet yang bisa tertangkap untuknya menghubungi Diana sang istri yang sudah pasti gelisah karena belum juga mendapat kabar dari suami. Tapi percuma,karena jangankan signal internet untuk signal operator saja tak terlihat.
"sial,Diana bisa khawatir kalau begini" geram Alvaro sambil mematikan ponsel dan menyimpannya kembali.
"kobra lapor ke naga,ganti !"
"naga terima ganti,silakan melapor !"
Krek krek krek
"target..." krek krek
laporan terputus,tak lagi ada suara yang terdengar dari alat tersebut,saat mencoba untuk memanggil kembali ternyata tak membuahkan hasil. Kemudian Alvaro meminta melanjutkan pencarian sampai sore hari.
Dilain tempat,Diana terus melirik kearah ponsel yang diletakkan di meja nakas dekat ranjang tidurnya,menunggu kabar dari sang suami. Tapi hingga berjam-jam lamanya tak juga ada satupun kabar yang ia tunggu.
"kok belum nelpon buat ngasih kabar sih ?"
__ADS_1
"gak tau apa,aku khawatir menunggu"
"apa susahnya sih cuma ngasih kabar ?"
gerutu Diana seorang diri lalu memilih keluar dari kamarnya dan menemui ayah dan ibunya yang sedang duduk-duduk di teras belakang rumah di tepi kolam renang.
"ayah,ibu" sapa Diana pada kedua orangtuanya.
Seorang wanita paruh baya dan seorang pria dengan rambut yang hampir memutih semua segera menoleh menuju ke arah suara. Sang ibu menggerakkan tangannya agar lelaki tua didekatnya sedikit menggeser tempat duduknya untuk memberi ruang pada sang anak. Sang suami pun mengerti dan segera menggeser bokongnya. Diana segera duduk di tengah-tengah ibu dan ayahnya.
Diana mengerucutkan bibirnya memeluk sang ibu. Ibunya pun merespon dengan mengelus pucuk kepala putrinya dengan kasih sayang.
"kamu kenapa nak ?" tanya sang ayah turut mengelus pundak Diana.
"aku kesal sama Alvaro,dia belum kirim kabar ke aku"
"padahal dia udah janji secepatnya kasih kabar"
Ayah dan ibunya tersenyum melihat anaknya yang terlihat kesal karena mengkhawatirkan keadaan sang suami yang berangkat ke luar negeri untuk mencari sang adik yang dikabarkan menghilang karena tragedi kecelakaan pesawat.
"mungkin saja disana memang tak ada signal internet sehingga suamimu tidak bisa menghubungimu" ujar sang ibu mencoba menghibur anaknya.
Sementara itu,Alvaro berlari ketika mendengar suara teriakan seorang wanita dari arah sungai.
Bruk bruk bruk
suara sepatu boot di kaki Alvaro menghentak tanah berlari menyusuri jalan setapak menuju ke sungai. Saat tiba di sungai,Alvaro mendapati seorang wanita muda bersama dengan pria yang tak asing baginya.
"Elsifa !!!"
__ADS_1