
Kini Alvaro, Elsifa, Sandy beserta anggota tim penyelamat sudah berada di base camp SAR. Mereka akan bersiap terbang untuk pulang dengan menggunakan pesawat jet militer setempat. Perasaan Elsifa sangat bahagia saat tiba-tiba mendengar suara seseorang yang meneriakkan namanya. Pun dengan Alvaro yang sudah berkorban meninggalkan perusahaannya demi mencari saudari kembarnya.
"pak saya sangat berterima kasih,berkat anda kami bisa kembali pulang " Sandy mengucapkan rasa terima kasih pada atasannya.
Alvaro menepuk pelan pundak Sandy,pria itu juga mengucapkan terima kasih karena sudah mengemban tugas darinya dengan sangat baik. Melindungi dan memberi rasa nyaman selama mereka liburan di negeri Eiffel,hingga saat-saat sulit setelah kecelakaan yang menimpanya dan adik kembarnya.
Elsifa menghambur memeluk Alvaro yang terlihat sedang bicara serius dengan Sandy. Sandy menatap wanita di depannya dengan tatapan yang sulit dijelaskan hingga membuat wanita itu salah tingkah sendiri. Hal tersebut disadari oleh Alvaro.
"sepertinya sudah terjadi sesuatu diantara mereka" batin Alvaro menatap Sandy dan Elsifa bergantian.
Alvaro melepaskan tangan Elsifa yang berada di pundaknya lalu duduk di sebuah kursi mulai mengutak-atik benda pipih dari poket yang terselip di ikat pinggangnya.
"sayanggggg,kamu kemana aja sih,katanya mau langsung ngabari,aku udah nunggu lama tapi kamu malah gak ada kabar. Gak tau apa aku khawatir " oceh Diana tanpa jeda di balik telepon.
Mendapat respon demikian Alvaro menjauhkan ponsel miliknya dari telinga,Diana yang selama ini lemah lembut tapi saat dirinya merasa khawatir maka ke-lemah-lembutannya pergi entah kemana,pria itu tersenyum simpul dengan reaksi sang istri yang dirasa berlebihan dalam mencemaskan keadaannya.
"maaf,tapi yang namanya di hutan gak ada signal sayang...,ini aja kita baru aja keluar dari hutan. Kamu sendiri apa kabarnya ?" Alvaro menjelaskan situasinya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit bermesraan dengan sang istri melalui sambungan telepon,Alvaro menutup telepon dan bergabung dengan yang lainnya yang ada di sana untuk beberapa saat ,setelahnya dari mereka masing-masing beristirahat di tempat yang sudah di sediakan.
Dilain tempat,seorang gadis kecil menunduk dengan wajah basah karena airmata. Elda ketakutan karena intimidasi dari Amelia yang merasa mengganggu acara kencannya dengan sang papa. Berkali-kali wanita itu melayangkan ancamannya melalui pandangan mata yang melotot atau sekali waktu mencubit gadis kecil itu. Tapi si gadis kecil tak berani mengatakannya pada papanya karena ancaman dari wanita yang sudah PD mengklaim dirinya adalah calon pilihan sang papa.
"kamu inget ya anak manis,jangan sekali-kali kamu berniat ngadu sama papamu kalau kamu masih pingin disini sama papamu itu" ancam Amelia berbisik tepat ditelinga Elda membuat tubuh Elda gemetar ketakutan.
Saat dalam keadaan takut seperti itu sosok lelaki dewasa datang dengan membawa satu cone eskrim dengan taburan gula-gula warna warni di atasnya.
"hay,ini eskrim untuk princessnya papa" suara lembut Danu mensejajarkan badannya dengan tinggi badan Elda.
"ya ampun sayang,kamu sakit ?" serunya seraya mengusap wajah mungil Elda yang sembab akibat menangis.
Dengan aktingnya wanita itu lantas hendak membawa Elda ke dalam pelukannya,tapi gadis kecil itu mengelak dan malah beralih ke Danu menyembunyikan wajahnya di dada pria dewasa untuk mencari perlindungan. Orang-orang yang ada di sana menyaksikan dengan sinis dan mengumpati sikap Amelia yang layaknya ibu tiri yang hanya sayang pada anak tirinya kala ada bapaknya saja,sungguh miris.
Gadis kecil itu makin menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang papa. Dia takut mengangkat wajahnya yang nantinya akan terjadi kontak dengan wanita yang mengajak papanya pergi untuk makan siang bersama. Dalihnya agar terjalin keakraban,tapi yang ada malah sebaliknya.
Diwaktu yang sama,Diana sedang menikmati santap siangnya ditemani ibu dan ayahnya di sebuah restoran. Diatas meja di depan mereka sudah tersaji berbagai menu makanan yang menggugah selera. Ketiga orang itu menikmati makanan di hadapan mereka hingga tandas tak bersisa.
__ADS_1
"ibu,ayah. Kedepannya aku akan lebih sering mengajak kalian ke restoran dan makan makanan yang enak " batin Diana merasa terenyuh melihat pemandangan kedua orang tuanya makan sangat lahap dengan perasaan bahagia.
...****************...
"aku memberimu waktu satu minggu tidak ke kantor,tapi aku ada pekerjaan untukmu" Alvaro berkata pada Sandy yang hendak masuk ke dalam rumahnya.
Beberapa waktu yang lalu,mereka baru mendarat setelah mengudara selama lebih dari 10 jam. Alvaro langsung mengantarkan Sandy ke kediamannya dulu sebelum meluncur ke kediamannya sendiri.
Dengan menganggukkan kepala,pria manis berlesung pipi itu mengiyakan ucapan atasannya walau sebenarnya muncul sebuah tanya di kepalanya,tapi tak sempat terucap karena Alvaro sudah keburu menyuruh segera melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.
Elsifa segera masuk ke kamarnya setelah temu kangen dengan iparnya yang langsung heboh dengan kedatangannya di rumah. Orang tua Diana juga menyambut kedatangan gadis itu. Mereka langsung akrab dalam sekejap waktu. Dengan hadirnya ibu dan ayah Diana,Elsifa seolah merasa kehangatan dari orang tua hadir kembali diantara mereka.
"sayang,aku mau ajak Elsifa ke klinik ya besok ?" tanya Diana pada Alvaro yang langsung menautkan kedua alisnya merasa heran
"hanya ingin mengantarkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan setelah dia mengalami musibah,hidup di dalam hutan selama berminggu-minggu hanya makan dengan mengandalkan buah-buahan dari hutan,mung....." Diana tak meneruskan kalimatnya melihat sang suami yang sudah terlelap.
Diana sedikit kesal,tapi dia juga faham betul capeknya lelaki itu. Lantas menaikkan selimut menutupi tubuh bagian bawah Alvaro hingga sebatas dada,lalu berjalan mengunci pintu dan bergegas berbaring di samping suaminya.
__ADS_1