
Keesokan paginya..
Kaira sudah bangun terlebih dahulu sementara Arka masih terlelap, wanita itu sedikit lega juga kagum dengan Arka yang masih bisa menahan hasratnya untuk tak berbuat lebih.
"Dia keturunan New York, biasanya orang barat selalu haus akan bercinta tapi Arka?.." Gumam Kaira seraya tersenyum menyeringai. "Ah sudah ini masih pagi pikiranmu liar sekali Kaira!!!..."
Mbok Santi dari luar mengetuk pintu Villa, Kaira sontak saja menghampiri lalu membuka pintu. "Ah mbok?.."
Terlihat mbok Santi menatap lekat Kaira dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Non siapa? ini mbok bawakan sarapan sesuai jadwal yang diatur den Arka.."
Kaira menerima banyaknya hidangan itu seraya meletakkannya di meja. "Saya Kaira..."
"Cantik ya? pasti kekasih den Arka.." Timpal mbok tanpa pikir panjang.
"Ah itu aku......"
"Iya mbok!..." Potong Arka yang datang dari belakang Kaira.
Kaira sedikit terkejut. "Kau sudah bangun???.."
"Pantas saja, baiklah silahkan nikmati sarapannya mbok kembali dulu.." Ramah Santi seraya berlalu pergi meninggalkan Villa itu.
"Kenapa kau memberitahu mbok bahwa kita menjalin hubungan? bagaimana jika kabarnya sampai kepada om Ditama???.." Ujar Kaira dengan nada sedikit panik.
"Aku ingin segera memberi tahu dunia bahwa kau milikku Kaira!.." Timpal Arka seraya menggenggam lengan wanita itu. "Jangan khawatir aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian..."
Tidak ada jawaban dari Kaira, ia berusaha mengontrol emosinya kembali.
"Mari sarapan, kau harus kembali ke rumah. Sementara aku akan menemui om Renal dulu.."
"Oke..."
"Arka aku tidak akan pulang bersama denganmu, pulanglah duluan nanti aku menyusul..." Ujar Kaira disela sarapannya.
"Hmmm baiklah.." Peka Arka.
Keduanya sarapan bersama hingga selesai, setelah itu Arka mengantar Kaira pulang ke rumah Rangga, lalu ia pergi menemui om Renal sebelum kembali pulang ke perusahaannya di kota A.
Tidak lama setelah kepergian Arka, datanglah Bastian beserta keluarganya menemui Kaira.
Rangga dan Luna terkejut apalagi Kaira, pasalnya Rangga tadi malam sudah bicara kepada orang tua Bastian untuk menggagalkan perjodohan dan mereka setuju. Lalu sekarang apa?..
"Kai aku berharap kau berubah pikiran untuk tetap melanjutkan perjodohan ini..." Ujar Bastian dengan tatapan serius.
Kaira menatap lekat wajah sahabat masa kecilnya itu. "Tidak Tian, kamu ingat lelaki yang ku sebut orang dekat saat di restoran? dia adalah kekasihku.."
Ucapan Kaira membuat Bastian terkejut ia terdiam tak bergeming, rapuh sekali rasanya.
Kaira seraya membungkuk hormat kepada kedua orang tua Bastian. "Maaf om, tan.. Kaira punya hak untuk menolak, Tian sudah Kaira anggap kakak sendiri..."
Kedua orang tua itu hanya menghela nafas panjang.
"Aku tidak mungkin menerimamu Tian, sadarlah Sindy sudah menyukaimu sejak dua tahun lalu..." Batin Kaira.
__ADS_1
"Kalau itu keputusanmu aku bisa apa, semoga kau bahagia Kai..." Lirih Tian mencoba tegar dalam situasi yang cukup menyakiti hatinya itu.
"Ya kau juga, cepatlah sadar ada wanita yang sering bersamamu dia begitu mencintaimu namun kau tak peka-peka.."
Tian mengerutkan keningnya. "Siapa!..."
"Sadar dan pekalah!..." Lirih Kaira seraya menepuk punggung sahabatnya itu. "Aku tak mau memberitahumu karena keinginan wanita itu..."
Tian terdiam.
Karena Kaira tak mau hubungan persahabatannya dengan Tian renggang gara-gara perjodohan, keduanya kembali mengobrol sesekali diiringi gelak tawa sebelum akhirnya pulang..
...~...
Ditama menatap beberapa foto Arka saat di Villa yang dikirim anak buahnya Jhony, lelaki itu menepuk-nepuk dadanya berkali-kali, rasa sesak juga trauma mendalam ia rasakan kembali.
"Kau tidak bisa memanipulasi papa Arka!..." Gumam Ditama, ia sontak menghubungi Sean.
"Iya om???.." Tanya Sean dari seberang.
"Jika Arka dan Kaira sudah datang ke perusahaan, suruh mereka berdua menemuiku di tempat pribadi kantor ini!!..." Tegas Ditama.
"Ah baiklah om.."
Panggilan pun Ditama akhiri.
"Ada apa ya? tumben nada bicara om Ditama seperti itu?.." Pikir Sean, namun ia tak mau ambil pusing.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan???.." Tanya Arka menyadari tatapan Sean yang terus menatapnya itu.
"Om Ditama menyuruhku untuk menyampaikan hal ini kepadamu, datanglah bawa Kaira juga menemuinya di tempat pribadi!.."
Brukhh!!.. Jas yang dipegang Arka seketika terjatuh mendengar ucapan Sean.
"Apa kau tidak salah?.." Tanya ulang Arka.
"No! kenapa kau tampak terkejut begitu?.."
Arka tak menjawab pertanyaan dari Sean, ia sontak menghubungi Kaira untuk datang ke ruangannya. Benar saja wanita itu tidak lama datang..
"Urus dulu pekerjaanku!.." Ujar Arka yang diangguki Sean. "Baiklah.."
Arka menarik tangan Kaira keluar dari ruangannya masuk menuju lift.
"Ada apa? kita mau kemana?..."
"Menemui papa sesuai permintaannya di ruang pribadi.." Jawab Arka seraya menggenggam erat lengan Kaira.
"Apa!!!..."
"Bukan apa-apa tenanglah ada aku Kai..."
Seketika perasaan Kaira panik tak tenang, namun wanita itu terus mencoba untuk tenang.
__ADS_1
Sampailah mereka berdua di ruang pribadi Ditama.
"Sudah sampai? duduklah!.." Ujar Ditama kepada mereka berdua.
Kaira dan Arka duduk berhadapan dengan Ditama, tidak lama Ditama menyodorkan handphonenya kepada mereka berdua. Dimana terdapat foto mesra Kaira dan Arka saat di Villa.
DEG!!!!..
"Aku ingin kebenaran dari foto ini? sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua! apa wanita yang kau cintai selama ini mantan adik iparmu sendiri Arka?.." Ujar Ditama.
"Ya pah! namun penyebab perceraianku dengan Indah bukan karena Kaira kita lebih dulu bertemu sebelum aku dinikahkan.." Tegas Arka.
Kaira terdiam ia hanya menunduk tak berani menatap sorot mata Ditama. "Ah menegangkan sekali.." Batinnya.
"Sebenarnya aku ingin segera memberi tahu hubungan ini kepada papa, namun kami merahasiakannya untuk menghindari prasangka buruk..." Lanjut Arka.
Ditama terdiam ia menatap bergantian antara Arka juga Kaira. "Om akui kinerjamu di perusahaan membuahkan hasil yang luar biasa, jadi jalanilah hubungan ini Arka sendiri sudah bercerai..."
Kaira mengangkat kepalanya akan ucapan Ditama, apalagi Arka ia terkejut namun sangat bahagia sekali.
"Benarkah pah???.."
Ditama mengangguk. "Ya, sekarang kembalilah ingat tanggung jawab kalian dalam perusahaan.."
"Terimakasih pah..." Lirih Arka seraya memeluk Ditama, Kaira tersenyum mendapati itu sekarang plong rasanya.
Mereka berdua pamit dan kembali ke ruangan masing-masing dengan perasaan bahagia. "Ini tak se-menegangkan yang kau bayangkan Kai..." Ucap Arka.
Kaira tersenyum. "Iya..."
"Baiklah selamat bekerja sweetie!.." Ujar Arka sambil mengecup kening Kaira sekilas.
"Iya kau juga, berhenti mengecupku!.."
Arka terkekeh..
Keduanya berpisah untuk melanjutkan pekerjaan di ruangan masing-masing, sesampainya di meja kerja sebuah pesan masuk kepada handphone Kaira ia sontak membacanya.
"Om Ditama???." Lirih Kaira.
"Temui aku nanti sore di cafe A tanpa membawa Arka juga tanpa sepengetahuannya!.." Isi pesan itu.
Kaira terdiam namun ia membalas pesan dengan kata 'baiklah'...
Waktu berlalu, jam 4 sore Kaira melajukan mobilnya dari perusahaan ke cafe A tanpa sepengetahuan Arka, kurang dari 15 menit akhirnya sampai di sana.
"Duduklah!.." Lirih Ditama.
Kaira pun patuh entah kenapa perasaannya tak enak sekali.
"Langsung saja.." Ditama mengeluarkan amplop tebal ke arah Kaira. "Ini uang 1 miliar sebagai gantinya akhiri hubunganmu dengan Arka Kaira!..."
Bersambung...
__ADS_1