
Kaira seketika menutup mulut syok. "A-Arka ya ampun, aku tak bermaksud..." Ia meraih wajah tampan suaminya menyentuh bekas pukulan. "Apa ini sakit???..." Kaira cemas.
"Jangan tanya lagi, sshhh!....." Ringis Arka yang merasakan ngilu.
Kaira menarik Arka, membawanya untuk duduk di saung. "Apa masih sakit? sorry aku tak tahu, lagian kamu ngagetin! kenapa tidak menghubungi dulu?.." Tanya Kaira mengelus lembut hidung mancung yang kena bogem itu.
Arka menatap lekat wajah cantik Kaira. "Kejutan, apa kau tidak mau memelukku setelah memberi pukulan!..."
Wanita itu seketika berhambur ke dalam pelukan suaminya. "Maaf, aku merindukanmu Arka!..."
Arka membalas pelukan dengan erat, meletakkan wajah tampannya pada leher jenjang sang istri. Menghirup aroma tubuh yang sudah jadi candunya. "Aku lebih merindukanmu Kai!..."
Cukup lama keduanya berpelukan melepas kerinduan, Arka meraih wajah cantik Kaira memiringkan wajah menyatukan bibirnya dengan bibir ranum sang istri.
Lengan Kaira melingkar pada leher Arka, ia memejamkan mata menyeimbangi ciuman dan permainan lidah suaminya, yang semakin ke sini semakin liar.. "Mmmhh!!..." Kaira mendorong dada bidang Arka saat hendak kehabisan nafas.
Lelaki itu tersenyum menyeringai. "Maaf sayang..."
"Kau liar sekali!..."
"Bukan aku namanya kalau tidak liar, Kai..." Timpal Arka sengaja.
"Haish..." Kaira sedikit terkekeh.
__ADS_1
Arka merubah posisi, ia jongkok di bawah Kaira. Mengelus lembut perut buncit itu. "Papa pulang sayang..."
Kaira mengelus rambut Arka saat lelaki itu mengecup perutnya berkali-kali. "Bagaimana kabar papa??..."
"Kondisinya belum ada kemajuan, namun tidak separah kemarin-kemarin. Kita do' akan saja..." Jawab Arka kembali duduk di samping Kaira.
"Hmm, semoga cepat sembuh kasihan sekali papa..." Lirih Kaira, ia khawatir..
"Iya sayang..."
"Apa kita akan pulang ke kota A?..." Tanya Kaira.
"Tidak, kau akan tetap di sini sampai papa benar-benar sembuh pulang ke Indonesia. Jika pulang sekarang, aku pasti terbang kembali ke Amerika sayang, untuk melihat perkembangan papa. Sedangkan kamu? aku tidak akan membiarkanmu sendiri, jadi tetap di sini!..." Ujar Arka.
"Setelah selesai bekerja, aku akan pulang ke sini. Walaupun mungkin pasti banyak kerja dari rumah.." Timpal Arka.
"Baiklah..."
Arka tersenyum, ia kembali merentangkan kedua tangannya. "Peluk aku kembali Kai! kau tidak akan tahu seberapa tersiksanya aku saat merindukanmu dari Amerika..."
Kaira tersenyum menyeringai, ia menghambur ke dalam dekapan Arka. Keduanya kembali berpelukan melepas kerinduan. "Aku juga merindukan dirimu...."
...***...
__ADS_1
"Aku tidak mau minta maaf kepada mereka, enak saja!..." Bantah Alia yang tak terima dengan permintaan suaminya, Renal.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau tak mau merubah diri Alia! biarkan Lucky ikut bersamaku, aku tidak mau dia di urus oleh ibu yang tak mau diatur sepertimu!!.." Tegas Renal..
Alia menahan kembali tangan suaminya yang hendak pergi. "Tidak maafkan aku! aku mohon Renal, jangan karena masalah ini hubungan kita renggang. Aku tahu aku salah juga menyakiti perasaanmu, jangan berpikir untuk bercerai kasihan Lucky..."
"Maka dari itu ubah dirimu! coba kau pikirkan seberapa sabar diriku, setelah mengetahui istri sendiri masih mengejar mantannya!.." Timpal Renal. "Minta maaflah kepada mereka, jangan membuatku malu!. Mungkin rencana perceraian akan ku pikirkan ulang, jika kau juga mau merubah diri Alia!!..."
Setelah itu Renal berlalu pergi ke tempat lain, membiarkan Alia sendirian dengan penyesalannya.
"Ck!..." Decak Alia, ia menyentuh perut bekas tendangan Yuna yang masih terasa sakit. "Apa Sean ku lepaskan saja?..." Lirihnya.
Jika dipikir-pikir juga makan hati, tidak ada celah untuk bisa mendapatkan lelaki dingin itu lagi. Apalagi Yuna wanita bar-bar paling Alia benci, ia tidak bisa melawannya karena kemampuan bela diri yang amat jauh berbeda.
"Renal!..." Panggil Alia mengejar suaminya, ia seketika memeluk lelaki itu dari belakang.
"Apa??..." Datar Renal.
"Aku akan merubah diri, dan minta maaf kepada mereka berdua.." Ujar Alia.
"Jangan hanya ucapan, mari kita datangi mereka! aku tidak mau hidup tak tentram..." Timpal Renal.
Alia menundukkan kepala ia terdiam. "Baiklah jika itu mau mu..."
__ADS_1