
...~...
Dengan senyum manisnya, Kaira kembali duduk di depan Arka. Ya mereka berdua sedang makan siang bersama.
"Apa ada sesuatu yang menyenangkan?.." Tanya Arka.
Kaira mengangguk. "Mungkin kamu juga tak menyangkanya.."
"What my dear?.."
"Sean dan Yuna menikah, setelah kita pulang dari apartemen mereka.." Ucap Kaira.
"Ukhuk!! ukhuukh!.." Arka terkejut hingga terbatuk-batuk. "Menikah????..."
"Iya...."
"Secepat itu? apa ada sesuatu sayang?..." Timpal Arka yang masih tak menyangka.
Dengan senyum kikuknya, Kaira menceritakan alasan mereka menikah dadakan kepada Arka.
Wajah tampan itu tersenyum menyeringai. "Karena permainan kita tadi pagi, akhirnya Sean tak kesepian lagi.."
"T-tapi aku sedikit malu sama om Anthony..." Lirih Kaira.
Arka menatap lekat wajah cantik istrinya. "Kenapa harus malu Kai? dia juga mengerti kita sepasang suami istri.."
"Kamu merasa tidak, tapi aku tetap malu terdengar olehnya..."
"Sudah, semuanya telah berlalu sayang. Lagian kita juga menikmatinya bukan?..." Sengaja Arka.
Pipi Kaira seketika merah merona. "Haish!..."
Arka terkekeh..
Keduanya kembali melanjutkan makan siang yang tertunda. Setelah selesai, Kaira memilih mengecek laptopnya, sementara Arka menerima panggilan entah dari siapa, lelaki itu sengaja bicara dengan seberang sana tanpa sepengetahuan Kaira.
Kaira sempat melirik, namun ia tak ingin ikut campur.
Sekitar 20 menit, Arka kembali. "Sayang, aku akan pergi menemui papa. Kamu jangan ikut! di apartemen saja.."
Kaira menutup laptopnya. "Menemui papa? kalau begitu tunggu sebentar, aku akan membuatkannya makan siang."
Arka menahan tubuh Kaira. "Ini bukan waktu yang tepat sayang, jangan!..."
"Kenapa? aku juga kenapa tidak bisa ikut? apa terjadi sesuatu?..." Tanya Kaira, ia menyadari perubahan mood Arka.
"Bukan apa-apa Kai, aku akan menyelesaikannya!..."
__ADS_1
Kaira menghela nafas berat. "Jika ada sesuatu yang membuat kamu marah, kendalikan emosi. Papa orang tua yang telah mendidik dan membesarkan mu dari kecil."
Arka seketika tersenyum, bagaimana bisa hati istrinya baik sekali? sedangkan Ditama terus menyakiti perasaan Kaira tanpa sadar. "Iya sayang, kalau begitu aku pergi dulu..."
"Hmmm, hati-hati..."
Arka mengambil jaket juga kunci mobilnya, sebelum pergi, ia mencium bibir ranum Kaira memeluknya erat. "See you Kai..."
"Ya..."
Arka berlalu dari pandangan Kaira.
...***...
Malam hari pukul 20:30, setelah makan malam...
Sean berdiri dari duduknya. "Aku ke kamar sekarang, kau bisa menyusul Anindrya..."
"Bagaimana jika aku tak menyusul, dan tidur di kamar sebelah?.." Tanya Yuna sengaja.
"Maka aku yang akan masuk ke dalam kamarmu!..." Timpal Sean seraya berlalu pergi menuju kamarnya.
Yuna seketika terdiam, mungkin mulai sekarang mereka berdua akan sering tidur bersama. "Ah perasaanku tak menentu ya Tuhan!..."
Tidak lama handphone Yuna berdering, ia sontak menerima panggilan. Rupanya itu dari papa mertua, Anthony. "Iya hallo om?..."
Yuna tersadar. "Ah maaf, iya pah?..." Wanita itu memilih memasuki kamarnya.
"Anindrya, ada sesuatu yang ingin papa katakan kepadamu tentang Sean. Kau sekarang istrinya mesti tahu kelemahan suamimu sendiri..." Mulai Anthon.
Yuna terdiam akan ucapan Anthony, mungkinkah ada hal serius yang ingin diberitahukan kepadanya. "Tentang apa itu pah?.."
"Tanggal 11 besok adalah hari genap satu tahun meninggalnya mama Sean, setiap menginjak tanggal itu, Sean begitu rapuh, ia selalu mengasingkan diri dengan isak tangisnya, bahkan ia sering depresi dengan menyakiti tubuhnya sendiri.." Jelas Anthony dengan suara bergetar.
Hati Yuna trenyuh mendengar itu, ia tak menyangka kehidupan Sean yang tampak baik-baik saja, ternyata ada hal lain yang tak ia ketahui.
"Kamu istrinya, papa minta bantuan. Buat Sean bangun dari rasa kehilangan itu, karena bagaimanapun juga ia tidak mungkin harus seperti itu selamanya nak..." Lirih Anthony dengan nada memohon.
Yuna seketika mengangguk, tak terasa mata wanita itu berkaca-kaca membayangkan dirinya di posisi Sean. "Iya pah, aku akan berusaha!..."
"Terimakasih nak, kalau begitu papa akhiri ya, selamat malam..."
"Iya..."
Panggilan pun berakhir.
Yuna terdiam mematung, kamar sebelah dimana Sean berada terdengar hening sekali. Ia kebingungan harus memulai dari mana.
__ADS_1
Karena gerah, Yuna memilih mandi. Mungkin setelah ini ia akan memikirkan cara untuk menemui Sean.
Selesai membersihkan diri, Yuna keluar hanya mengenakan tanktop dan celana pendek. Ia duduk di atas kasur mengotak-ngatik handphone-nya. "Apa ku hubungi saja?.."
"Ah yang bener donk, orang satu rumah juga Yuna!.."
"Tapi jika ku datangi? apa mengganggu ketenangannya? bagaimana jika dia sekarang dalam kondisi itu?..." Gumam Yuna, ia resah juga khawatir.
Walaupun Yuna gadis bar-bar, namun di sisi lain ia memiliki sifat keibuan.
Dalam waktu bersamaan, tiba-tiba...
Tok tok tok!
Yuna sedikit terkejut saat pintu diketuk.
"Boleh aku masuk?..." Tanya Sean dari luar.
"Ah iya masuk saja!..."
Pintu perlahan dibuka, masuklah Sean ke dalam kamar. Yuna sedikit terkejut pasalnya Sean tidak mengenakan baju, memperlihatkan tubuh kekarnya terekspos, dapat dilihat juga jika mata lelaki itu tampak sembab, layaknya habis menangis.
Sean menatap Yuna yang hanya mengenakan tanktop. "Aku akan tidur di sini..."
"Hmmm baiklah..."
"Tidur denganmu dan tidak ada kata pisah! cukup malam ini saja jika kau masih keberatan..." Lirih Sean.
Yuna tersenyum, ia peka dengan suasana hati Sean sekarang. "Iya..."
Walaupun hatinya berdebar, namun Yuna terus mengontrol diri agar bisa tenang. Ia berbaring duluan, tidak lama Sean juga berbaring di sampingnya masuk ke dalam selimut.
Hening beberapa saat tak ada yang bersuara.
"Bolehkah aku memelukmu? sekarang aku sedang membutuhkannya..." Lirih Sean menatap Yuna.
Wanita itu membalas tatapan Sean, tidak lama ia mengangguk. "Hmmm, kemari!...." Yuna merentangkan tangannya.
Lengan kekar Sean memeluk tubuh Yuna, wajah tampan itu ia letakkan pada leher istrinya. "Terimakasih honey..."
"Hmmm, tidurlah..." Lirih Yuna membalas pelukan Sean.
...{ Ilustrasi }...
Bersambung....
__ADS_1