Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 96


__ADS_3

"Apa karena tinjuku??..." Sengaja Yuna dengan tatapan sinis.


"Tidak, ini karena penyesalanku sendiri!.." Timpal Alia yakin.


"Mau percaya atau tidak itu urusan kalian, namun aku sudah minta maaf dan menyesalinya.."


Yuna menatap lekat wajah Alia, belum ada sepatah kata pun perkataan yang keluar dari mulutnya.


"Jawaban permintaan maaf mu tergantung perbuatanmu ke depan nanti, jika kau benar-benar merubah diri maka di sana ada kata maaf, namun jika sebaliknya jangan harap! itu saja dariku..." Timpal Sean menegaskan penuh penekanan.


"Aku mengerti..." Lirih Alia. "Mungkin mulai sekarang aku akan benar-benar merelakan mu Sean, untuk hidup dan dimiliki wanita lain..." Batinnya mencoba menerima.


Tatapan mereka bertiga kini tertuju pada Yuna, menunggu jawaban yang akan dilontarkannya.


"Jawabanku tidak akan jauh seperti Sean, kita sesama wanita pasti memiliki perasaan yang sama. Kau harus peka Alia, tidak semua keinginan kita harus diwujudkan semua orang. Dalam diri mereka, merekalah pemeran utamanya bukan kita.."


"Jadi lupakan jika mau aman, dan bahagia dengan kehidupan masing-masing tanpa ikut campur dalam hal apapun! kecuali jika ada kepentingan yang menguntungkan diri masing-masing sebagai saudara..." Ujar Yuna. "Syukurlah kau sadar diri, namun sama seperti Sean, menerima permintaan maaf mu tergantung sikapmu ke depan....


"Jadi buktikan jangan hanya ucapan, aku akan lebih menghargai seseorang jika orang itu mau menghargai ku juga!!.." Lanjut Yuna dengan tegas.


Alia terdiam ucapan Yuna benar-benar membuatnya tertampar, seburuk itukah dirinya??.

__ADS_1


"Terimakasih, sebisa mungkin aku akan merubah diri dan menebus permintaan maaf kalian berdua..." Ujar Alia dengan nada bicara sedikit gemetar.


"Ya!!..." Timpal Yuna dan Sean bersamaan.


Renal tersenyum, sesuatu yang terasa janggal di hatinya menghilang. Istrinya itu mau patuh tak keras kepala lagi mementingkan ego. "Baiklah terimakasih, kalau begitu kita berdua pamit..."


"Oke..."


Renal memberi kode kepada Alia, sehingga mereka berempat salaman menandakan hubungan kini mulai membaik. Tidak lama, setelahnya pasangan suami istri itu berlalu pergi dari apartemen Sean.


"Padahal aku masih ingin memberikannya pukulan dengan berbagai gaya, sayangnya sekarang Alia insyaf haha!.." Kekeh Yuna geli sendiri.


"Cepat susul mereka belum jauh, tinju sepuasmu sayang!..." Timpal Sean sengaja, ia smirk tak habis pikir.


"Kau menyukainya??..." Datar Sean sedikit cemburu saat sepupunya dipuji sang istri.


BUKH!!!...


Yuna melemparkan bantal kursi ke arah Sean. "Hanya memujinya tuan Sean!..."


"Aku juga hanya bertanya Anindrya!..." Sean tak mau kalah.

__ADS_1


Yuna menatap lekat wajah tampan itu, ia langsung berdiri mendekap Sean ke dalam pelukan. "Tidak mungkin aku menyukainya! sudah jelas aku mencintaimu, oke???..."


"Hmmm, oke..."


...***...


Kaira menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Arka hanya mengenakan handuk sepaha memperlihatkan bentuk tubuh kekarnya yang atletis.


"Sudah??..."


"Hmmm..."


Bukannya segera berpakaian, Arka berjalan menghampiri Kaira merebut majalah yang sedang dibacanya. Kaira terkejut. "Why???..."


Arka menyimpan majalah itu di atas nakas, bukannya menjawab ia beralih menatap lekat wajah cantik istrinya yang sedang bersandar pada dinding tempat tidur. "Aku menginginkannya Kai..."


Pipi Kaira tampak merona, apalagi kini tangan Arka sudah membuka kancing kemejanya memperlihatkan dada kencang yang hanya ditutup penutup. "Pelan-pelan..."


"Of course sweetie..." Lirih Arka, ia meraup bibir sexy Kaira mel*matnya penuh nafsu, lengan kekarnya sudah menarik kaitan penutup itu hingga terlepas.


Kaira menggigit bibir bawahnya, saat Arka menggerayangi dua gundukan nyembul yang sudah telanjang bulat itu. Ia bermain layaknya bayi kehausan.

__ADS_1


Sebisa mungkin Arka membuat posisi Kaira nyaman, sebelum penyatuan. Dengan perlahan Arka mengarahkan miliknya yang sudah berdiri tegak, Kaira menggigit bibir bawahnya saat di bawah sana miliknya terasa penuh.


Arka perlahan memaju mundurkan pinggulnya, lengannya mengelus lembut perut buncit Kaira. "Papa pelan-pelan sayang..." Ucapnya sebelum mempercepat ritme lebih cepat.


__ADS_2