Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 72


__ADS_3

Deru nafas lelaki itu dengan teratur menerpa leher jenjang Yuna. Yuna perlahan mengelus lembut rambut Sean, tanpa sadar, ternyata ia mulai menyayangi lelaki dingin ini, entah karena rasa kasihan atau apa, yang jelas Yuna rela memberikan sandaran kepada Sean.


"Jangan menangis lagi, apalagi sampai menyakiti tubuh dirimu sendiri. Mama di sana akan lebih tenang, jika kamu benar-benar mengikhlaskan kepergiannya.." Lirih Yuna.


"Darimana kamu tahu?..."


"Papa, dia memberitahuku..." Jawab Yuna.


Sean tersenyum menyeringai. "Padahal aku tidak ingin kau melihat aku lemah seperti ini..."


"Aku istrimu Sean, bukankah kau sendiri yang bilang, jangan ada rahasia di antara kita berdua?. Walaupun pernikahan ini dadakan, aku tahu cara menjadi istri yang baik..."


"Sudahi rasa kehilangan itu, bukan berarti kau harus melupakan mama melainkan sekarang mengenangnya. Papa sangat terpukul melihat dirimu setiap tanggal 11, apalagi mama di sana. Sekarang ada aku yang menjadi teman hidupmu, jangan kesepian lagi ya..." Lirih Yuna dengan nada sedikit memohon.


Sean mengembangkan senyum manisnya, tanpa sadar air mata lelaki itu jatuh kembali mengenai leher jenjang Yuna. "Terimakasih!...."


"Your welcome..."


Perkataan Yuna dapat membuat beban pada benaknya tersalurkan, bagaimana bisa? istri bar-barnya ini memiliki sifat keibuan yang membuatnya merasa sedang di pangkuan sang mama.


"Menangis lah namun jangan pernah menangis lagi, besok kita ziarah ke makam mama..." Ujar Yuna yang tak berhenti mengelus lembut kepala Sean.


Wanita itu meraih wajah tampan Sean, mengusap setiap butir air mata yang jatuh.


Sean menatap lekat wajah cantik Yuna, rasa cinta terhadap gadis itu semakin besar. "Apa sikap yang kau tunjukkan kepadaku ini menandakan balasan cinta??..."


"Ah itu...." Yuna sontak mengalihkan pandangan karena gugup.


Sean meraih dagu Yuna agar menatapnya. "Tatap aku!...."


Manik keduanya bertemu dalam jarak yang begitu dekat, Yuna dapat merasakan jantungnya berdebar kencang.


"Jawab pertanyaanku Anindrya..." Lirih Sean.


"E-entahlah aku juga tidak tahu!..." Timpal Yuna, pipinya tampak merona.


Sean tersenyum menyeringai, ia peka dengan perasaan istrinya. "Kau sekarang bahkan berani hanya mengenakan tanktop di hadapanku, bukan kaos oblong lagi, hmm?..."


"Tadinya mau pake, tapi keburu kamu datang jadi tak sempat. Yaudah ini aja, lagian sebenarnya aku juga kalo mau tidur cuma pake tanktop..." Timpal Yuna.

__ADS_1


Sean tidak menduganya. "Kau tahu kan kelakuanmu ini mengundang hasratku Anindrya??.."


Yuna seketika terdiam, apa Sean akan meminta haknya sekarang?.


Tubuh wanita itu menegang saat bibir Sean mengenai leher jenjangnya, mencium lembut bahkan menghisapnya dengan sedikit lum*tan. Hawa tubuh Yuna seketika terasa panas, rasanya geli namun ada gejolak lain yang membuatnya menikmati bahkan menginginkan lebih. "S-Seannn.. hhh!!..."


Bekas merah pada leher Yuna sudah tampak akan ulah Sean, lelaki itu naik ke atas mencium lembut telinga Yuna bahkan karena tak tahan ia ******* dan menggigitnya


"Akh!..." Ringis Yuna.


"Sakit??.."


"Kau menggigitnya!..."


Sean tersenyum menyeringai, ia mencium lembut daun telinga Yuna. "Maaf, apa sekarang sakitnya sudah hilang??.."


"I-iya..."


"Ya Tuhan perasaan apa ini? kenapa jantungku malah semakin berdebar! tenang Yuna, tidak mungkin Sean kau tendang, dia sekarang layak karena suamimu..." Batin Yuna resah juga malu.


Lengan kekar itu semakin mengeratkan pelukannya, Sean merubah posisi menindih tubuh Yuna di atas. Manik mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat. "Bolehkah??.."


Tatapan Sean tertuju pada bibir ranum Yuna, lelaki itu menyentuhnya. "Ini...."


"S-ssebenarnya... mmmhh!...." Belum sempat Yuna menyelesaikan ucapan, bibir Sean sudah meraup nya duluan.


Yuna mematung dengan jantung yang semakin berdebar, benda lembut itu me*umat juga menyesap bibirnya dengan leluasa.


Sean melepas ciuman, ia menatap lekat wajah cantik Yuna yang juga menatapnya dengan nafas terengah-engah. "Buka sedikit bibirmu sayang..."


Saat Yuna ingin bicara, jari Sean menyentuh bibir ranum bekas ciumannya. Lelaki itu membuka perlahan bibir Yuna, tanpa pikir panjang Sean kembali mencium bibir istrinya, lidahnya menyesap setiap inci penuh agresif, atas dan bawah bergantian.


Hawa tubuh keduanya terasa panas akan gelora.


Yuna perlahan membalas ciuman itu, beradu indra perasa dengan suaminya. Disela ciuman yang sedang dilakukan, Sean tersenyum tipis akan reaksi Yuna.


Tanpa melepas ciuman, lengan kekar Sean perlahan menarik tali transparan tanktop Yuna.


Suara kecapan bibir mereka terdengar di seluruh kamar.

__ADS_1


Yuna menegang saat lengan kekar Sean perlahan memasuki tanktop-nya, dengan nafas yang terengah-engah ia melepas ciuman itu, membuat Sean menatapnya. "Why??..."


Yuna mengalihkan pandangan tak berani adu tatap, bisa dibilang ia sekarang lemah akan tatapan berat Sean.


Tanpa pikir panjang, Sean kembali mencium bibir ranum Yuna dengan rakus, lengan Yuna meremas rambut lelaki itu.


Dalam satu tarikan, tanktop Yuna sudah terlepas dari tempatnya. Dua gundukan nyembul yang kencang itu kini leluasa terekspos.


Ciuman Sean turun ke leher, semakin turun ke dada. Yuna menggeliat karena rasa geli berbalut kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Ya Tuhan asetku sudah dilihat olehnya..." Batin Yuna malu.


Bibir Sean me*umat p*ting berwarna pink itu penuh agresif layaknya bayi kehausan. Sementara tangan kekarnya dengan lembut merem*s yang satunya lagi.


Tubuh Yuna menggelinjang akan sensasi yang sedang ia rasakan. "Aaaahhh!..."


Erangan lembut lolos dari bibir sexy-nya.


Sean tersenyum menyeringai, tanpa melepas remasan lembut pada gundukan kencang itu, ia beralih ke atas kembali mencium bibir sexy Yuna yang sudah menjadi candunya.


Drrrt! drrrt! drrrrt!...


Handphone Sean yang diletakkan di atas nakas berdering, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali.


Yuna yang menyadari itu, ia sontak menahan dada bidang suaminya. "Angkat dulu ada yang menghubungi!..."


Sean menatap datar handphonenya. "Biarkan saja!.."


"Tidak, siapa tahu itu penting!..."


"Ck! baiklah..."


Sebelum berdiri sean mengecup lembut bibir sexy Yuna sekilas, seraya menutup tubuh telanjang dada istrinya itu dengan selimut, ia mengambil handphone dan keluar dari kamar itu untuk menerimanya.


Setelah Sean berlalu, Yuna menggigit bibir bawahnya, ia guling-guling di atas kasur mengingat adegan panas yang mereka lakukan barusan. "Ah ya Tuhan!...."


Selang 20 menit, Sean kembali memasuki kamarnya. Ia terdiam saat melihat Yuna sudah tidur terlelap. Ada rasa sedikit kecewa namun lelaki tampan itu tetap tersenyum. "Tidak bisa sekarang ya?..."


Ia naik ke atas kasur masuk ke dalam selimut, memeluk tubuh Yuna dari samping, bibir Sean tak henti-hentinya mencium punggung mulus wanita itu. "I love you, my sexy wife! kita lanjutkan nanti...."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2