
Arka melirik Kaira yang meremas ujung bajunya kuat, ia tahu perasaan istrinya itu. "Sepertinya aku dan Kaira tidak bisa lama-lama di sini, kebetulan juga ada jadwal cek kandungan ke dokter.." Ujar Arka sengaja bohong.
Kaira seketika menatap bingung Arka.
"Benarkah?..." Tanya mama Veena, yang langsung diangguki Arka. "Baiklah kalau begitu hati-hati ya, jaga istrimu...."
"Iya..."
Arka menatap Ditama. "Kami berdua pulang dulu, permisi pah. Dokter Adnan pasti akan datang mengecek lagi!.."
Tidak ada jawaban dari Ditama, ia hanya menatap kepergian putra dan mantunya itu.
"Sampai kapan pah?..." Ujar Veena ia lelah dengan suaminya. "Rangga pasti sakit hati dengan ucapanmu, ku mohon Kaira sedang mengandung jangan membuat hatinya tergores!. Lihat Arka, putramu layaknya hilang respect, apa keegoisanmu ini sangat menyenangkan? tidak bukan?.."
"Sudah sekarang jangan banyak pikiran kemana-mana, banyak orang sekitar yang menyayangimu. Lihat Kaira, kau tak menyukainya namun ia tetap bersikap baik. Ingat penyakit jantungmu juga pah..." Lanjut Veena.
Ditama membuang nafas panjang, ia tidak menginginkan hal ini namun saat melihat Kaira dan putranya bersama, Ditama belum bisa mengontrol emosi. Mungkin masih butuh rehabilitasi sampai benar-benar sembuh total. "Akan ku usahakan..."
"Harus! kasihan Arka...."
Sementara itu....
Arka melajukan mobilnya ke suatu tempat, dimana tempat itu adalah penenang saat suasana hatinya kacau. Ia dan Kaira turun dari mobil duduk di kursi menikmati pemandangan di sana.
"Aaahh, tenang sekali..." Lirih Kaira sambil memejamkan matanya.
Arka tersenyum menatap lekat wajah cantik istrinya. "Maaf, aku sendiri sakit dengan perkataan papa apalagi kamu Kai..."
__ADS_1
"Kita hadapi saja, aku mohon jangan kau membencinya dia orang tuamu.." Lirih Kaira.
Arka mengangguk ia memeluk erat Kaira, lengan kekar itu tak henti-henti mengelus perutnya yang bunting.
Mereka berdua terus mengobrol, merubah mood buruk menjadi baik kembali. Arka tidak mau jika suasana hati Kaira buruk takut berpengaruh dengan janin yang dikandungnya.
Drrrt.. drrrt... drrrt!...
"Ada yang menghubungi.." Ucap Kaira memberikan handphone pada Arka.
Terlihat Veena yang menghubungi, Arka langsung menerimanya. "Ya ma??..."
"Arka! papa muntah darah sudah dua kali, dia sekarang koma. Untung saja Dokter Adnan cepat datang dan menangani, tolong datang ke rumah mama membutuhkanmu, ada sesuatu yang harus kita bicarakan!.."
Mata Arka membulat sempurna, ia terkejut akan hal itu. "Baik ma, aku akan ke sana sekarang..."
Panggilan pun berakhir.
Sesampainya di apartemen.
"Kamu jangan ikut Kai, di sana banyak darah. Jika ada sesuatu segera hubungi aku! aku akan menyuruh Yuna untuk menemanimu di sini...." Ujar Arka.
"Apa kau akan pulang? aku tak masalah dengan darah.."
"Tidak, Kai! patuh dengan perkataan ku!..." Potong Arka.
Kaira terdiam. "Baiklah kalau begitu..."
__ADS_1
Sebelum pergi Arka memeluk Kaira juga perutnya, tidak lupa ia mencium istrinya itu, Kaira hanya bisa melihat kepergian sang suami saat menghilang dari pandangan.
Perasaan cemas juga khawatir menguasai diri Kaira. "Semoga saja tidak terjadi apa-apa..."
Kaira memilih menghubungi Yuna, tidak lama panggilan tersambung. "Apa kau sibuk Yun?..."
"Banget Kai, ada apa? sebentar lagi juga ke lokasi pertemuan dengan klien..." Jawab Yuna yang ngos-ngosan karena sedang berjalan.
"Baiklah tak apa, have fun."
"Ya kau juga Kai.."
Panggilan pun berakhir, Kaira meletakkan handphonenya di atas meja.
Ia memilih menenangkan diri dengan menonton film di laptop..
...~...
Ting tong ting tong!...
Kaira mengerjapkan mata saat mendengar bel apartemen bunyi, ia ketiduran hingga malam. Di lihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 20:00 malam.
"Ya ampun Kai, lo ketiduran!..." Lirih Kaira merasakan pegal pada tubuhnya.
Ting tong ting tong!
Wanita itu langsung berdiri berjalan menghampiri pintu dan membukanya, Kaira membulatkan mata melihat siapa yang datang, dikiranya Arka ternyata kedua orang tuanya dari Jakarta.
__ADS_1
"Mama? papa??.."
Rangga dan Luna menatap lekat putrinya. "Ikut mama pulang ke Jakarta, sekarang Arka tidak bisa menjagamu dia terbang tadi sore dengan keluarganya ke Amerika, penyakit jantung Ditama semakin kritis.."