
Ditama menatap datar Kaira sekilas, setelahnya ia berlalu pergi menyusul menuju lantai 5.
Kaira mengatur nafas berkali-kali dadanya terasa sesak, ia bukan tipikal wanita cengeng tapi kali ini hatinya benar-benar terasa sakit. Seberapa kuat ditahan mata Kaira tetap berkaca-kaca.
Ia berlari menuju kamar mandi, menumpahkan isak tangisnya di sana.
Yuna terdiam mematung dari belakang menatap sahabatnya yang pergi ke kamar mandi, ia dapat mendengar perbincangan Ditama tadi begitu pun perkataannya yang tak mengakui Kaira sebagai mantu.
"Apa-apaan ini padahal masih pagi!..." Lirih Yuna yang merasa tak terima.
Kaira menghapus air matanya dengan tisu berkali-kali. "Lo gak dipukul Kai! stop kenapa cengeng begini...."
"Hiks!.... hiks!.... ah ya ampun.." Kaira menatap dirinya di cermin. "Sampai kapan begini terus? aku harus bagaimana lagi meluluhkan hati papa Ditama!..."
Ada rasa capek dalam diri Kaira, tentunya setiap orang yang menikah tanpa restu pasti akan resah karna hal itu.
Setelah puas menumpahkan air mata, rasanya sedikit plong namun mata Kaira kelihatan merah juga sedikit membengkak.
Wanita itu membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya Kaira saat melihat Yuna yang sudah berdiri di sana. "Akh Yun apa yang kau lakukan di sini? membuatku kaget saja!!..."
"Hanya menemani sahabatku yang sedang terpuruk.." Timpal Yuna menatap nanar Kaira. "Aku mendengar pembicaraan om Ditama terhadap dirimu Kai..."
Kaira seketika terdiam, Yuna sontak memeluk sahabatnya itu. "Tidak akan terjadi apa-apa, mungkin ini ujian pernikahanmu Kai..."
Tangis Kaira pecah kembali, ia memeluk erat tubuh Yuna. Saat jauh dari sang ibu penenang Kaira datang dari sahabatnya. "Thanks Yun..."
"Hmmm your welcome..."
"Kayaknya aku gak bisa kerja dengan keadaan seperti ini.." Timpal Kaira.
"Ikut aku saja Kai kamu butuh refreshing tidak baik jika bekerja nanti malah gak fokus, aku yakin Arka juga mengerti.."
"Terus pekerjaanmu gimana?..."
"Baru saja selesai kok tidak lama, sebelum melihat dirimu dan om Ditama tadi.." Jelas Yuna.
"Yaudah, tapi mau kemana??..."
"Jalan-jalan setelah itu mampir ke apartemenku!.."
Kaira tersadar. "Itukan apartemen Sean Yun! apa tidak masalah?.."
"Nanti aku izin, ayo!.." Timpal Yuna menarik tangan Kaira, mereka berlalu pergi meninggalkan perusahaan besar itu.
__ADS_1
...~...
Sean sedikit kewalahan saat meeting, di sana Arka bicara penuh emosional. Kode yang diberikannya tak dihiraukan lelaki itu sama sekali.
"Ini memang persyaratannya tuan Yuza, jika tak setuju maka rencana tanam saham di perusahaan anda saya batalkan!..." Tegas Arka dengan tatapan dingin.
"Arka apa maksudmu? kenapa tidak diskusi dulu dengan papa!!..." Potong Ditama.
"Perusahaan aku sekarang yang pegang seharusnya papa tidak ikut campur, dalam hal seperti ini memang harus tegas untuk menghindari pailit!!..." Timpal Arka penuh penekanan.
Ditama terdiam dengan perasaan kesal, Arka bahkan berani bicara nada tinggi kepadanya di hadapan klien. "Terserah kau saja!.."
"Baiklah aku menerima persyaratannya tuan Arka, bekerja dengan perusahaanmu suatu kehormatan!.." Ujar Yuza.
Arka mengangguk, ia dan Yuza menandatangani dokumen setelahnya bersalaman mengakhiri meeting.
Tanpa bicara lagi Arka keluar dari ruangan diikuti Sean.
"Seharusnya kamu bisa mengontrol emosi..."
"Tidak bisa, papa di sini sudah keterlaluan tak menghargai Kaira juga keputusanku Sean!.."
Sean terdiam ia juga tak bisa berkata lagi.
Sean membuka handphonenya saat ada pesan masuk, rupanya itu dari Yuna. "Aku minta izin membawa Kaira ke apartemen, katakan saja kepada Arka jangan khawatir dia refreshing bersamaku.." Isi pesan.
"Kaira bersama Yuna menghabiskan waktu, tenanglah..." Ujar Sean.
"Benarkah???..."
"Hmmm.."
Arka merasa lega sekarang, ia bekerja bisa fokus tanpa mengkhawatirkan Kaira. "Karena dia menghabiskan waktu bersama Yuna aku juga nanti akan mampir ke apartemenmu sudah lama sekali..."
Sean terkejut. "Kebetulan macam apa ini??.." Batinnya.
"Ya baiklah..."
Keduanya kembali pada kesibukan masing-masing.
...***...
Di apartemen Sean...
__ADS_1
Kaira kembali tertawa saat mengobrol dengan Yuna, rasa sakit di hatinya perlahan menghilang. "Sayang sekali Sindy tidak ada di sini..."
"Kita kapan-kapan bertemu lagi di Jakarta..."
"Iya..."
"Kau yakin Kai tidak akan memberitahu Arka?.." Tanya Yuna.
"Sean pasti membicarakannya juga kepada Arka, aku tidak mau mengganggunya dia sangat sibuk, mungkin aku akan menginap di sini karena katanya dia akan lembur.." Timpal Kaira.
"Ah baiklah, jarang-jarang kita ada waktu seperti ini!..." Lirih Yuna senang.
"Iya..."
Mereka kembali mengobrol sesekali diiringi gelak tawa.
...~...
Pukul 20:00 malam..
Sean membuka sandi pintu apartemennya, sementara Arka dari tadi menatap handphone berharap Kaira meninggalkan pesan namun tidak ada.
"Ayo masuk!.." Lirih Sean yang diangguki Arka.
Kedua lelaki tampan berkas hitam itu pun masuk, Yuna dan Kaira yang duduk di kursi ruang tamu melihat siapa yang datang.
Tatapan mata Kaira dan Arka bertemu. "Kaira!!..."
"Arka??..." Kaira tak menduganya, ia hanya tahu jika Arka akan lembur.
Sementara Sean terdiam ia sudah menduganya akan seperti ini.
Tanpa pikir panjang Arka menghampiri Kaira, meraih pinggang ramping wanita itu memeluknya erat ke dalam dekapan. "Berani sekali kau tak memberi kabar kepadaku Kai!..."
"Aku takut mengganggumu..."
Arka meraih wajah cantik Kaira, keduanya saling tatap seolah mengisyaratkan perasaan masing-masing. Lelaki itu memiringkan wajahnya mencium bibir sexy Kaira dengan dalam me*umatnya penuh agresif.
Yuna seketika mengalihkan pandangan tatapannya malah beradu dengan Sean begitupun sebaliknya. "Apa??..."
"Apa??..." Tanya balik Yuna.
Bersambung....
__ADS_1