Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 92


__ADS_3

Keesokan paginya...


Rangga menghampiri istrinya yang baru selesai cuci piring, bekas sarapan mereka juga Kaira. Sementara Kaira ia kembali masuk ke kamar saat ada panggilan dari Arka.


"Pah, bagaimana dengan Indah? apa kau melihat keadaan anak itu??.." Mulai mama Luna.


Rangga mengangkat kedua bahunya. "I don't know, papa tidak ada waktu untuk pengkhianat sepertinya!.."


Luna menghela nafas panjang, sama dengan dirinya yang juga kecewa dengan Indah, namun saat ini dia sangat memprihatinkan. "Sepertinya dia benar-benar menyesal, pesan yang sering masuk permintaan maaf terhadap kita semakin banyak, apa papa tidak mau menemuinya? bagaimana pun juga Indah anak yatim-piatu, mama tidak tega..."


Tidak ada jawaban dari Rangga, ia hanya meminum kopi yang dibuatkan istrinya.


"Mama juga tak mau membantu Indah, tapi Novan sekarang sedang dipenjara. Siapa lagi yang bisa membantu wanita itu selain kita?..." Lanjut Luna.


"Papa terlanjur sakit hati mah!..." Timpal Rangga.


"Lupakan dulu, kita sesama manusia jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Biarkan itu urusannya dengan Tuhan, dia anak yatim-piatu papa sudah tahu amalannya bagaimana bukan?..."


Masih tidak ada jawaban dari Rangga, mama Luna tidak mau bicara lagi ia membiarkan suaminya berpikir dulu.


"Akan papa pikirkan!!..."

__ADS_1


"Iya.."


Dalam waktu bersamaan, bibi pembantu masuk dari halaman depan. "Bu, bu!!!..."


Luna terkejut melihat si bibi ngos-ngosan menghampirinya. "Ada apa bi?? jangan tergesa-gesa!.."


"I-itu non Indah di depan bu, turun dari mobil meringis kesakitan sambil pegang perutnya, aduuuh!...." Si bibi melapor dengan rasa khawatir.


Luna dan Rangga saling tatap, mereka berdua berdiri dari duduknya. Tanpa pikir panjang mama Luna berlari disusul Rangga juga si bibi.


Terlihat Indah sudah tergeletak di teras merintis kesakitan, mang satpam menggenggam dirinya. "M-mama!..."


"Pah, ma, aku benar-benar minta maaf juga menyesali perbuatanku selama ini. Aku datang ke sini karena tidak memiliki orang tua selain kalian berdua, walaupun aku tahu ini bukan hakku karena aku hanya anak angkat kalian..."


"Tapi maafkan kesalahanku selama ini, hiks!... hiks!... hiks!..." Lirih Indah dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipi.


Mama Luna menatap suaminya..


Trenyuh hati Rangga melihat kondisi Indah, tubuh yang perlahan kurus, juga wajah pucat.


"Aaaaakkh!..." Ringis Indah kembali saat perutnya sakit luar biasa.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang!!.." Ujar Rangga memberi kode kepada mang supir.


Tidak lama mobil datang, Indah dipapah Luna dan si bibi masuk ke dalam. "Pah, aku menemui Kaira dulu ya!..."


"Iya..."


Luna berlari masuk ke dalam menuju kamar putrinya, Kaira yang sedang senam terkejut melihat mamanya datang ngos-ngosan. "Kenapa ma??..."


"Sayang kamu mama tinggal dulu ya, Indah kayaknya mau melahirkan. Jangan kemana-mana di sini kamu ditemani si bibi, oke??..."


Kaira akhirnya peka. "Indah melahirkan? ah baiklah ma temani dia, kasihan.."


"Iya, see you Kai..."


"Oke..."


Mama Luna berlari turun ke bawah langsung ikut masuk ke dalam mobil, tidak lama mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


Kaira hanya melihatnya dari atas balkon, tangannya tak lepas mengelus perut buncitnya itu. "Apa saat persalinan nanti papa ada di sini??..."


"Tidak, harus ada! Arka tahu tugasnya sebagai suami harus apa! mama tidak mau tahu!.." Lirihnya penuh penekanan, ia trenyuh melihat Indah yang mau melahirkan tanpa sosok suami yang sedang dipenjara.

__ADS_1


__ADS_2