Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 76


__ADS_3

"Tidak, tolong tanda tangani dokumennya sekarang!.." Timpal Kaira dengan wajah dinginnya menyerahkan berkas itu.


Arka mengerutkan kening menatap tajam sang istri. "Kita suami istri, bukan sebagai atasan dan bawahan!.."


"Aku tahu..." Jawab singkat Kaira. "Jika tidak berkenan menandatangani-nya sekarang, nanti saya ke sini lagi. Permisi!.."


"Hey hey! mau kemana?.." Ujar Arka seketika menahan tubuh Kaira yang hendak meninggalkan ruangan itu. "Ada apa dengan perubahan ini? apa aku melakukan sesuatu yang membuat kamu marah Kai?..."


Kaira menepis tangan kekar Arka. "Aku lumayan sibuk tuan, tolong lepaskan!.."


"Kaaaaaaaaiii!...." Timpal Arka dengan nada sedikit memohon, bukannya melepas genggaman, ia malah mendekap tubuh Kaira.


Akhirnya ia peka, mungkin ada perlakuan yang membuat istrinya bersikap seperti itu. "Apa kau tidak merindukan suamimu? reaksi macam apa ini? tolong bicaralah jangan membuatku tersiksa!..."


Kaira menatap lekat wajah tampan Arka. "Apa handphone-mu hidup?.."


"Tidak, mati habis daya..."


Wanita itu memutar mata malas. "Kenapa kau tidak memikirkan diriku di sini? aku bukan hanya ingin mendengar kabar baikmu di sana, keberadaan juga yang kau kerjakan di luar sana istrimu berhak tahu!..."


"Apa kau marah karena hal itu?.."


"Ya! aku jadi merasa bukan siapa-siapa saat hal yang dilakukan suami sendiri saja tidak tahu, padahal jika handphone-mu mati bisa lewat Sean atau mama Veena.." Timpal Kaira mengeluarkan unek-uneknya.


Arka mengelus lembut pipi mulus Kaira. "Maaf aku salah sayang, lain kali tidak akan seperti itu lagi. Di sana aku tak sempat membuka handphone...."


Kaira terdiam sejenak, ia melepas dekapan Arka pada pinggangnya. "Ya tak masalah, sekarang aku harus kembali ke ruang kerja..."


"2 langkah saja, aku tak akan mengampunimu Kai!..."

__ADS_1


Kaira acuh memilih melanjutkan langkah, rasa kesal itu masih melekat dalam benaknya. "I don't care..."


Arka menatap kepergian istrinya dengan wajah tenang, saat Kaira hendak membuka pintu, ternyata pintunya tidak bisa dibuka. "Kenapa jadi terkunci???.."


Kaira seketika menatap Arka, ia sadar pintu itu terkunci otomatis karena ulah suaminya. "Buka pintunya sekarang!..."


Tidak ada jawaban dari Arka, ia mendekati istrinya yang menatap tajam. "Kau tahu aku merindukanmu bukan?.."


"Ah itu, mmmhh!......"


Belum selesai Kaira berucap, bibirnya sudah disambut bibir Arka menciumnya dengan rakus. "Mmmmh!...."


Kaira menepuk-nepuk dada bidang Arka, ia berontak. Namun lelaki tampan itu malah menekan tengkuknya memperdalam ciuman.


Arka menggigit pelan bibir bawah Kaira, sehingga bibir ranum itu terbuka. Tanpa pikir panjang Arka menyesap dalam setiap inci bibir manis istrinya, menyatukan indra perasa masing-masing.


Tanpa melepas ciuman, lengan Arka melepas satu persatu kancing kemeja Kaira. Suara beradunya bibir terdengar mengisi ruangan.


Arka mengangkat tubuh Kaira, membawanya masuk ke dalam kamar pribadi tanpa melepas pagutan.


Kaira berbaring sementara Arka menindihnya di atas, lengan kekar itu perlahan menggerayangi dua gundukan nyembul yang masih terbungkus.


Tanpa pikir panjang Kaira melepas ciuman, tangannya menahan lengan Arka yang bermain leluasa di antara dua aset berharganya.


"Kenapa Kai???..." Lirih Arka dengan tatapan berat masih dikuasai gejolak yang sudah membara.


"Jangan melakukannya!..." Timpal Kaira. "Jadwalmu hari ini sibuk, begitu pun denganku.."


Setelah berucap, Kaira keluar dari kungkungan tubuh Arka seraya merapikan pakaian kembali. Arka menatap lekat istrinya. "Nanti di rumah sebagai gantinya!..."

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Kaira, bukannya tak mau atau apa ia masih kesal saja, sampai sekarang Arka belum membicarakan kegiatannya saat di luar kemarin.


"Hey!..." Ucap Arka meraih pinggang Kaira saat istrinya itu main nyelonong pergi.


"Apa?..."


"Aku akan menjelaskannya nanti di rumah sayang, tolong jangan cuekin aku begini..." Lirih Arka dengan nada memohon, ia benar-benar tak mau di diamkan Kaira.


"Iya aku paham, selamat bekerja..." Ujar Kaira melepaskan genggaman, ia mencium pipi Arka sekilas setelahnya berlalu pergi dari kamar itu.


Arka menjatuhkan tubuhnya di atas kasur guling-guling tak karuan. "Aaaarrgh! aku tahu aku salah sayang, tolong jangan membuatku tersiksa begini Kaira Sharena!...."


...~...


Kaira terdiam saat melihat Sean keluar dari ruangannya dengan rambut sedikit basah, ia peka namun memilih melanjutkan langkah.


Sesampainya di ruang kerja, di sana sudah terlihat Yuna. "Ah Kai akhirnya kamu datang juga..." Katanya lega.


"Ada apa Yun?..."


"Emmm, kamu biasanya bawa hair dryer kan? aku mau pinjam. Masa nanti presentasi rambut basah begini.." Timpalnya.


Kaira tersenyum tipis peka akan sesuatu. "Itu ada di laci kedua, pakai saja..."


"Thanks you baby..." Lirih Yuna seraya mengambilnya.


"Hmm, your welcome...."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2