Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 82


__ADS_3

"Hamil????..." Tanya ulang Kaira dan Arka bersamaan, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Iya..." Jawab Dokter itu tak henti mengembangkan senyum manisnya.


Arka memegang erat tangan Kaira, perasaannya haru juga bahagia, sangat tak menyangka beberapa bulan ke depan, akan ada yang memanggilnya dengan sebutan 'papa'.


Kaira tersenyum lebar membalas tatapan dalam Arka. "Apa kau bahagia?..."


"Of course!..." Timpal Arka seraya memeluk erat tubuh istrinya, tak bisa mengelak manik Arka berkaca-kaca karena terharu.


Belum ada 8 detik, Kaira mendorong dada bidang Arka. "Hoeek!... Aku tidak tahan aroma-mu..."


Arka mematung, kini raut wajah tampannya tampak sedih. "Dok, apa ada obat untuk menghilangkan perubahan hormon ini?.."


Dokter itu terkekeh. "Tidak ada tuan, ini hal umum. Biasanya kembali normal saat memasuki usia kandungan 3 bulan.."


Arka menggigit bibir bawah, Kaira dipeluk 8 detik saja mual-mual, sementara Arka mulai sekarang harus menahan diri beberapa bulan, puasa yang berat pikirnya. "Lama sekali ya....."


"Namun itu tergantung kepada nona Kaira sendiri, kadang ada yang berlangsung lama ada juga yang sebentar. Di sini kesabaran suami diuji..." Tambah Dokter.


Arka seketika menganggukinya. "Baiklah..."


Dokter wanita itu memberikan vitamin kepada Kaira, menyarankannya harus banyak istirahat demi perkembangan calon buah hati, dalam satu bulan sekali ia juga harus rutin memeriksa kandungannya ke Dokter.


Setelah selesai ngobrol mengenai kehamilan, mereka berdua memutuskan untuk pulang.


Di dalam mobil, Arka tak henti-hentinya tersenyum. Ia tidak bisa mencium Kaira hanya bisa menggenggam erat lengannya. "Mulai dari sekarang berhenti masuk kantor Kai, cukup di rumah banyak istirahat!..."


"Aku masih kuat loh, usia kandungan juga belum membesar..."


"Justru karena itu, usia kandungan-mu masih sangat muda sayang. Tidak ada bantahan! semua keinginanmu akan ku kabulkan demi kamu juga anak kita..." Timpal Arka serius.


Kaira tersenyum. "Baiklah, aku ingin segera memberitahukan hal ini kepada mama juga papa di Jakarta."


"Iya..."


"Namun bagaimana dengan papa Ditama?.." Tanya Kaira mengingat papa mertuanya.

__ADS_1


"Itu urusanku Kai jangan kau pikirkan, dia harus tahu namun bukan sekarang, menunggunya pulih dulu itu lebih baik.."


"Oke..." Ucap Kaira yang patuh saja.


Arka menancap gas mobilnya kembali membelah jalanan raya. "Apa kau ingin berkunjung ke suatu tempat sayang? biasanya yang hamil selalu ngidam buah yang asam-asam.."


Kaira terkekeh kecil namun Arka dapat mendengarnya. "Kenapa ketawa?.."


"Kandunganku baru memasuki dua minggu, apa harus membelinya sekarang?..."


"Ya! agar aku tak mencarinya malam-malam meninggalkanmu sendirian di apartemen.." Timpal Arka.


"Sebenarnya ngidam tidak semua tentang buah asam, bisa dari makanan lain juga menuntut seseorang untuk mengabulkan kemauannya.."


Arka terdiam mencerna, namun tidak lama ia manggut-manggut. "Oke, don't worry honey!.."


"Apa kau yakin tidak mau mampir ke suatu tempat sayang?." Tanya ulang Arka memastikan.


"Besok saja, hari ini kakiku lemas sekali..." Lirih Kaira.


"Baiklah kau harus banyak istirahat, kita pulang sekarang.."


...***...


Beberapa hari berikutnya...


Di apartemen Sean.


Yuna terkejut juga bahagia saat membaca pesan dari Kaira, Sean yang melihat mengerutkan kening. "Ada apa?.."


"Kamu tahu? Kaira sekarang sedang hamil!..."


"Benarkah?..."


"Ya...."


Sean tersenyum sekilas. "Lelaki itu sebentar lagi menggendong anak..."

__ADS_1


"Mungkinkah pekerjaanmu semakin menumpuk? Arka pasti kebanyakan menemani Kaira..."


"Bisa jadi sayang, dia juga tadi memberikan banyak email yang harus ku selesaikan sekarang.." Jawab Sean, seraya mengenakan jas hitamnya.


Pipi Yuna merona saat Sean selalu memanggilnya dengan sebutan 'sayang', ia belum terbiasa namun juga menikmatinya.


"Yasudah aku berangkat dulu, jika ada sesuatu hubungi saja!.."


Saat Yuna hendak bicara, bibirnya sudah dilum*t Sean menyesapnya sekilas. Cup!....


"See you..." Lirih Sean mengacak-acak rambut istrinya, setelah itu ia berlalu pergi.


"Haish..." Gumam Yuna dengan senyum tipis.


...~...


Sesampainya di lantai utama perusahaan, Sean berjalan menuju lift. Ia sibuk bicara dengan handphone, karena panggilan dari Arka.


"Aku akan menggaji-mu dua kali lipat, akan pekerjaan ini. Untuk sementara waktu aku akan lebih banyak bekerja di rumah.." Ujar Arka.


Sean memasuki lift. "Baiklah aku mengerti..."


Panggilan pun berakhir.


Saat pintu lift hendak tertutup, sebuah kaki jenjang menahan pintu lift. Wanita itu ikut masuk ke dalam. "Maaf, sekalian saja, tidak masalah kan???.." Katanya.


Sean terdiam, tatapan matanya tampak dingin saat bertemu kembali dengan mantan kekasih. Ya mereka satu lift.


"Aku mempercayakan proyek itu kepada suamimu bukan dirimu!..." Datar Sean yang tak nyaman jika harus setiap hari bertemu dengan masa lalunya itu.


"Dia sibuk di pekerjaan lain Sean..." Balas lembut Alia.


Tidak ada jawaban dari Sean ia acuh tak peduli, jika dilihat-lihat style Alia ke kantor beda dari biasanya yang selalu terbuka sexy, sekarang bisa di bilang pakaiannya mirip style Yuna saat berada di kantor.


"Bagaimana dengan penampilanku hari ini?..." Tanya Alia lagi.


Sean mengepalkan tangannya kuat. "Jangan meniru gaya style istriku! itu terlihat memuakkan, apa kau paham!!..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2