
"Jangan melakukannya sekarang aku masih pegal, dan juga tolong jangan bermanja dengan seperti ini aku tersiksa Arka..." Lirih Kaira.
"Tersiksa bagaimana Kai?.." Sengaja Arka.
Kaira memutar matanya malas. "Kau ini pura-pura tak tahu atau apa! ya tentunya jika seperti ini aku jadi menginginkan lebih sedangkan tubuhku masih pegal tuan Arka..."
"Kau pikir aku juga tidak tersiksa sayang? dengan pemandangan seperti ini? sama saja coba rasakan di bawah sana.." Arka menggesekkan miliknya yang sudah menegang pada milik Kaira.
"Arkaaaa!...." Lirih Kaira menggigit bibir bawahnya.
"Karena kamu masih lelah aku tidak mungkin melakukannya sekarang, sebagai gantinya yaitu menikmati sunset juga bermanja dengan dirimu nona Kaira.." Timpal Arka.
Kaira terdiam namun tatapan matanya tak lepas dari Arka.
"Kenapa? baru sadar jika suamimu ini tampan juga mahir dalam berbagai hal, hmm?..." Ucap Arka membalas tatapan lekat istrinya.
Kaira tersenyum menyeringai.
"Sssshh!!..." Tatapan Arka tertuju pada bibir sexy pink Kaira, ia benar-benar tak tahan untuk tak bermain dengannya.
"Mmmmh!!..." Ciuman mendadak Arka membuat Kaira terkejut, lelaki itu menyesap dalam setiap inci bibir Kaira memainkan indra perasa keduanya penuh agresif.
Kaira membalas l*matan lembut Arka, mencium bibir lelaki itu atas dan bawah bergantian. Saat hendak kehabisan nafas Arka melepaskan pagutan panas, ia menempelkan keningnya pada Kaira dengan raut wajah tersenyum bahagia.
...***...
Sean keluar dari kamarnya, ia melangkah menuju kamar yang di tempati oleh Yuna. Lelaki itu tampak mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu namun tidak lama Sean tetap melakukannya.
Tok tok tok!
Perlahan pintu kamar terbuka, hanya kepala Yuna yang terlihat. "Ada apa?..."
"Apa kau bisa membantuku?.." Timpal Sean.
"Tentang??..."
"Selama kau numpang di sini tak usah beli bahan makanan cukup bantu pekerjaanku saja ini tak susah.." Balas Sean.
__ADS_1
Yuna terdiam sejenak, ia keluar dari kamarnya. "Baiklah jika aku bisa aku akan membantumu."
"Oke! tunggu saja di kursi ruang tamu aku akan mengambil dokumennya.." Suruh Sean.
"Iya..."
Sean kembali masuk kamar begitupun Yuna duduk di ruang tamu menunggunya, tidak lama lelaki itu keluar dengan laptop juga map di tangan.
"Apa yang harus aku lakukan?.." Tanya Yuna menatap Sean.
"Ini!..." Sean memberikan dokumen itu pada Yuna. "Daftar perancangan yang dilakukan Kaira, karena dia sedang honeymoon jadi ada beberapa yang belum selesai ."
"Hubungi Kaira dan tanyakan model kain juga warna yang harus diselesaikan pada perancangan no 2, dia pasti sudah tahu. Perancangan ini harus selesai saat branding nanti namun designer lain yang mengambil alih pembuatannya." Jelas Sean..
"Ah oke aku mengerti..."
"Nice!..." Timpal Sean, ia kembali melanjutkan pekerjaannya mengotak-ngatik laptop.
Sementara Yuna mengambil handphonenya untuk menghubungi Kaira, terhubung namun tak diangkat. "Kemana dia? masa tidur? ini masih sore..."
"I-iya aahhh!... Yun??..." Jawab Kaira dari seberang sana dengan terbata.
Yuna sedikit terkejut dengan jawaban Kaira, ia melihat handphonenya sekilas. "Kai ini gue mau tanya soal perancangan no 2, ganggu gak kira-kira??..."
Sementara di seberang sana Kaira berusaha menahan d*sahannya agar tak lolos, karena ulah Arka yang menggerayangi gundukan kencang itu penuh agresif.
"Ah perancangan no 2 ya?.." Tanya ulang Kaira.
"Iya..." Jawab Yuna.
Yuna kembali menatap handphonenya saat mendengar kecapan bibir dari seberang, ia terus berusaha berpikir jernih.
"Mmmhh! j-jadi aahhhhhhh!.... Untuk kainnya dari k-katunn sshhhh!.. dan untuk warnanya merah maroon..." Jawab Kaira.
Mendengar lenguhan yang keluar dari bibir Kaira membuat Sean dan Yuna terdiam mematung, pekalah mereka berdua akan situasi yang sedang terjadi di seberang sana ditambah dengan suara kecapan bibir yang nyaring.
"Apa-apaan ini!!.." Batin Yuna menjerit.
__ADS_1
"Jangan ditahan Kai!...." Terdengar suara berat Arka dari seberang sana.
Yuna sontak menutup mulutnya, apa ia bisa bertanya lagi jika seperti ini?..
Sean yang dari tadi jarinya ngotak-atik laptop, sekarang terhenti akan situasi menegangkan itu.
"Kai gue cuma mau tanya sekali lagi setelahnya sudah!.." Ujar Yuna.
"Aaahhhh! i-iya Yun tentang apa lagi? maaf aku sedang senam..."
"Oke oke, untuk perancangan di daerah dada apa pakai aksesoris Kai??..."
"I-iyaaa aaahhh!...."
Dengan satu ketukan panggilan itu Yuna akhiri setelah Kaira menjawabnya, dia mengibas-ibas tangan sambil mencatat pada map, entah kenapa rasanya jadi gerah sekali. "Pers*tan dengan senam!.." Gerutu Yuna yang dapat didengar Sean.
"Seharusnya kamu tidak menyuruhku untuk menghubungi Kaira sekarang!.." Ujar Yuna memberanikan diri.
"Memangnya kenapa? sekarang sudah selesai..." Jawab enteng Sean kembali mengotak-ngatik laptop.
"Itu tidak masalah jika aku sendiri yang mendengarnya, ini kan berdua!!..." Batin Yuna tak tenang karena canggung.
"Apa perasaan-mu tak menentu setelah mendengar hal itu?.." Tanya Sean seraya menutup laptopnya, tatapan matanya menatap lekat Yuna.
"Tidak! apa maksudmu??..."
"Di ruangan ini hanya kita berdua, apa kau yakin?.." Sengaja Sean.
Yuna merasakan sesuatu yang tak beres saat pipinya merona akan ucapan lelaki tampan itu. "I-ini sudah aku catat sesuai yang Kaira katakan!..." Ujarnya mengalihkan pembicaraan seraya memberikan kembali dokumen.
Tidak ada jawaban dari Sean, ia hanya menatap kecantikan Yuna yang tak berani menatapnya.
"Oke, jika tak ada lagi yang harus ku bantu, aku akan tidur duluan..." Ujar Yuna seraya berdiri.
Greph! tangan kekar Sean menahan wanita itu. "Mau kemana? temani aku di sini Yuna Anindrya!..."
Bersambung....
__ADS_1