
Keesokan paginya...
Setelah mengeringkan rambut sendiri, Arka membantu mengeringkan rambut Kaira. Cup! cup cup cup cup cup!..
"Stop menciumku! biarkan aku yang mengeringkannya sendiri!.." Kaira menghindar, saat Arka terus mencium leher jenjangnya dari belakang berkali-kali.
"Iya-iya sudah kok..." Arka terkekeh kembali menyalakan hair dryer.
"Kapan selesainya coba?..."
"Iya sayang sudaaaahhh..." Balas Arka, ia kembali mengeringkan rambut istrinya hingga kering.
"Apa mau mengunjungi tempat lain? mumpung ini hari kedua libur, sebelum besok kembali bekerja.." Tanya Arka.
Kaira menggeleng perlahan. "Tidak ada, sekarang aku lebih mudah capek. Apalagi melihat kamu yang terus mengurus ini itu, jadi jangan ya! kamu juga harus istirahat sekali-kali jangan beraktivitas terus..."
Arka tersenyum menyeringai, istrinya ini peka sekali...
"Baiklah, kita habiskan waktu bersama di rumah saja.."
"Iya..."
Setelah sarapan, Arka membantu Kaira yang rutin senam ibu hamil. Membimbing bahkan Arka sengaja mengikuti gerakannya.
Kaira tak kuasa menahan tawa saat Arka duduk di atas bola yoga miliknya. "Kau ini sedang apa??..."
"Ternyata menyenangkan juga, naik turun!..." Katanya mencoba layaknya ibu hamil.
"Haha.." Kaira terkekeh.
Arka tersenyum melihat istrinya tertawa akan ulah sendiri, tiba-tiba Kaira menoleh saat mendengar handphone Arka bunyi. "Hey stop! ada yang menghubungi..."
Mau tidak mau Arka menerima panggilan, rupanya itu dari Sean. Sementara Kaira melanjutkan kembali aktivitas senamnya.
"Ya hallo?..."
"Aku sedang di bandara, menunggu kedatangan papa dan mama mu pulang hari ini. Apa dokter Jack atau tante Veena tidak menghubungimu??..." Ujar Sean dari seberang.
Arka sedikit terkejut. "Tidak! mungkin karena tadi handphone-ku lowbat..."
"Kau tak perlu ke sini sekarang, biarkan aku yang mengantarkan om sampai rumah. Temani istrimu Kaira jangan ditinggalkan.." Ujar Sean.
Arka tersenyum menyeringai. "Baiklah ku percayakan kepadamu, thank you brother!..."
"Oke..."
Panggilan pun berakhir..
"Papa pulang?..." Tanya Kaira.
__ADS_1
"Iya sayang, sebentar aku akan menghubungi dokter Jack dulu.." Ujar Arka pindah tempat ke balkon.
"Oke..." Kaira membiarkan suaminya bicara.
Sekitar 15 menit, Arka kembali menghampiri istrinya. "Kondisi papa katanya membaik hingga diperbolehkan pulang.."
"Syukurlah..." Kaira ikut lega.
"Sayang sepertinya kita harus pulang nanti sore ke kota A, besok Melany graduation karena papa pasti belum mampu untuk langsung beraktivitas." Ucap Arka.
Kaira mengangguk. "Aku ikut kamu saja, lagian sekarang papa juga sudah pulang..."
"Oke..."
~
Sore harinya mereka berdua pamit, mama Luna dan Rangga menatap mobil Arka yang melaju hingga hilang dari pandangan.
Sesampainya di kota A, Arka tidak langsung ke apartemen ia melajukan mobilnya ke rumah utama dimana orang tuanya berada.
Arka menggenggam tangan Kaira, mereka pun masuk ke dalam rumah besar itu.
Terlihat Veena dan Ditama duduk di kursi ruang tamu sedang mengobrol, Arka dan Kaira memberi salam. "Syukurlah aku dan istriku sangat lega mendengar kabar ini pah." Ujar Arka.
Veena dan Ditama tersenyum.
"Pah ini ada buah-buahan segar di makan ya, tadi aku beli di jalan.." Ucap Kaira meletakkan di atas meja.
Kaira tersenyum menyeringai mendengar ucapan papa mertuanya. "Baik pah..." Tidak seperti biasa yang selalu bersikap dingin, kini nada bicara Ditama terdengar penuh perhatian kepada mantunya itu.
"Besok tolong kalian wakili papa dan mama, untuk menghadiri graduation Melany..." Pinta Ditama.
"Iya pah..." Jawab Kaira dan Arka bersamaan...
...~...
Keesokan paginya di acara graduation..
Arka dan Kaira tersenyum melihat Melany datang menghampiri, gadis cantik itu langsung memeluk kedua kakaknya. "Aku kira tidak ada yang akan datang di acara berharga ini.." Ujar Melany dengan mata berkaca-kaca.
"Kami datang sayang..." Ucap Kaira menenangkan.
"Bi keluar!.." Suruh Arka pada bibi pembantu, tidak lama bibi pembantu keluar membawa buket uang.
Arka menyerahkannya pada sang adik. "Ini dari kami berdua untuk Mela, jika kurang bilang saja!..."
Melany terkejut ia menerimanya. "Woah terimakasih kak!! tapi ini kayaknya kurang deh..." Ucapnya sengaja membuat Arka menyentil jidat gadis itu.
__ADS_1
"Kau ini!.."
"Hahaha..." Melany dan Kaira tertawa.
Setelah selesai acara, mereka mengabadikan momen itu dalam sebuah foto. Setelahnya mereka bergegas pulang mengantarkan Melany ke rumah utama.
...*...
...*...
...*...
4 bulan kemudian...
Arka mencium kening Kaira sebelum pergi ke perusahaan, di sana ada adiknya Mela yang selalu bermain di apartemen sang kakak, kebetulan jadwal ngampusnya sedang libur.
"Kamu temani kak Kaira ya Mel! kakak berangkat dulu.." Ujar Arka.
"Iya kak tenang saja.." Timpal Melany.
"Oke.. Hubungi seperti biasa jika ada sesuatu!.."
"Iya..."
Arka pun berlalu pergi dari apartemennya menuju perusahaan, akhir-akhir ini ia sangat sibuk.
Kaira dan Melany mengisi waktu luangnya dengan mengobrol, menonton film, bahkan Melany selalu minta resep masakan kakak iparnya itu hingga di praktekkan.
Tak terasa, siang tergantikan dengan malam..
Melany akan terus mengawasi Kaira sampai memastikannya hingga tidur, ia kini duduk di kursi ruang tengah sedang menonton televisi.
Kaira berdiri dari duduknya. "Mau kemana kak??.."
"Mau ambil teh Mel..."
"Biar Mela yang ambilkan!..."
"Tak usah nanti seperti kemarin banyak gulanya.." Ujar Kaira dengan kekehan.
"Haha, baiklah kak..." Melany menatap Kaira yang berjalan ke arah dapur.
Kaira dengan perlahan membuat teh hingga selesai, saat ia hendak kembali ke ruang tengah, kepalanya berdenyut bahkan perutnya terasa sakit. "Awwhh!!..."
PRANGGG!!!....
Melany menoleh ke arah Kaira saat mendengar sesuatu yang pecah, ia berlari menuju kakak iparnya itu. "Kak kenapa!!.."
"Perut kakak ss-sakithhh Mel...."
__ADS_1
Melany dapat merasakan jika kakinya basah menginjak sesuatu, ia terkejut saat cairan putih kekuningan keluar dari paha Kaira. "Aaakkhh!!..." Kaira tak kuasa akan rasa sakit yang luar biasa.
Melany langsung mengambil kunci mobil. "Kita ke rumah sakit sekarang kak!..."