
Tubuh Indah gemetar ia sangat tak menyangka jika akhirnya akan seperti ini, rasa malu yang dalam juga sakit hati ia rasakan dalam waktu bersamaan. "Pah a-aku bisa menjelaskan s-ssemuanya hiks... hiks!..." Indah meraih kaki Rangga tanpa memikirkan orang-orang sekitar lagi.
Rangga menggelengkan kepalanya berkali-kali, terlihat sekali jika mata lelaki paruh baya itu berkaca-kaca, rasanya hancur, kecewa, marah, malu, beraduk dalam diri Rangga. "Tidak ada lagi yang harus dijelaskan Indah! Novan sendiri yang mengakuinya, kau benar-benar memalukan hingga berani berbuat seperti ini!..." Bentak Rangga.
"M-maafkan aku pah hiks!.. hiks... Aku hanya ingin mendapatkan keadilan..."
"Dengan mempermalukan diri hah?? anak siapa? minta tanggung jawab kepada siapa!.." Timpal Rangga dengan nada tinggi ia benar-benar naik pitam.
"Pah!..."
Rangga menepis tangan Indah dari kakinya. "Ayo kita pulang bereskan semuanya di sana!!!..." Rangga menatap Arka dan Ditama bergantian. "Maaf, seharusnya hal bodoh yang memalukan ini tak mengganggu waktu kalian.. Sekali lagi maafkan aku..."
Ditama menatap trenyuh kepada anak dan ayah itu. "Bereskan saja, hal seperti ini semoga tak terjadi lagi Rangga.."
Rangga terdiam menahan malu, ia sontak menatap mantunya. "Maaf atas kejadian ini Arka..."
Arka hanya mengangguk perlahan.
Indah tak berani menatap Ditama dan Arka, ia benar-benar telah menghilangkan harga dirinya sendiri tanpa terkecuali mencoreng nama baik keluarga itu.
"Ayo pulang!!..." Rangga menarik Indah untuk meninggalkan perusahaan besar itu.
Kaira sontak bersembunyi saat papanya melewati pintu ruangan, ia terdiam juga syok mendengar kabar mengejutkan yang telah terjadi.
Ditama membuang nafas panjang akan kejadian hari ini, ia menatap lekat wajah putranya. "Maaf, papa membuang waktumu untuk hal bodoh Arka..."
"Semuanya sudah jelas, aku hanya minta papa jika terjadi masalah jangan dulu mengambil keputusan sebelum diketahui kebenarannya!..." Ujar Arka penuh penekanan.
"Papa tahu..."
"Baiklah aku akan pulang, istriku sendirian di sana..." Pamit Arka.
"Iya..."
Arka melangkah untuk meninggalkan ruangan Ditama, Kaira terkejut saat pintu itu terbuka ia takut ketahuan menguping namun sepertinya sudah terlambat untuk bersembunyi.
"Kai!!!..." Ujar Arka terkejut melihat Kaira ada di sana.
Kaira terdiam kikuk. "Ah hai!..."
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini?..." Tanya Arka sedikit cemas takut jika Kaira melihat masalah yang terjadi di sana.
"Menyusulmu..."
Arka tanpa pikir panjang sontak menarik tangan Kaira menuju lift membawanya masuk ke ruangan CEO utama. "Kenapa kau tidak bilang mau datang ke sini!.."
Kaira membalas tatapan lekat suaminya. "Kau sendiri juga tidak memberi tahu masalah Indah kepadaku..."
Arka tersadar dengan ucapan Kaira. "Rupanya kau mendengar itu..."
"Ya Indah hamil anakmu!..."
"Aku sengaja tak membicarakannya kepadamu, sedangkan kita sedang honeymoon jadi aku tidak mau istriku ini banyak pikiran atau beranggapan salah terhadap suaminya..."
"Seharusnya kamu bilang saja, kita sudah menikah seberat apapun masalahnya mari hadapi bersama-sama.." Timpal Kaira.
"Aku tahu Kai, tapi aku tidak mau banyak bicara apalagi sampai kamu tertekan. Mudah bagiku untuk menyelesaikannya dengan sendiri..."
Kaira hanya terdiam.
"Darimana kamu tahu?.." Tanya Arka sambil meraih pinggang Kaira mendekapnya ke dalam pelukan.
Arka manggut-manggut.
"Namun benarkah? janin yang dikandung Indah bukan anakmu!..." Timpal Kaira.
Arka terkekeh. "Bukankah sudah jelas sayang? tentu tidak lah!! aku sudah tahu hubungan wanita itu dengan Novan bagaimana..."
"Kau mengerikan sekali...."
"Hmmm, maka berhati-hatilah denganku!..."
Kaira hendak melepaskan diri dari dekapan Arka.
"Mau kemana Kai???.."
"Mau menemui papa Ditama sambil memberikan masakan buatanku, untuk mengubur rasa traumanya ia harus banyak dipedulikan orang sekitar..."
Arka menggeleng. "Nanti saja Kai, aku menginginkan kehangatan tubuhmu sekarang..."
__ADS_1
Kaira terdiam ia peka dengan apa yang Arka ucapkan barusan, dapat terlihat dari tatapan beratnya akan hasrat. "Ini di kantor bagaimana jika ada yang datang?.."
"Tidak ada yang berani..."
Kaira mengalihkan pandangan ia masih merasa malu walaupun sudah melakukannya, Arka benar-benar membuatnya semakin hari semakin jatuh cinta.
Tangan kekar Arka masuk pada rok mini yang dikenakan Kaira, melepas penutup area favoritnya itu. "Duduk di pangkuanku Kai..."
Kaira patuh ia duduk di pangkuan suaminya, tangannya ia lingkarkan pada leher Arka. Arka tersenyum menyeringai ia sontak mencium bibir yang sudah jadi candunya itu penuh nafsu.
Tanpa melepaskan ciuman, Kaira membuka kancing kemeja Arka satu persatu memperlihatkan dada bidang yang atletis.
Suara kecapan bibir terdengar di seluruh ruangan, Arka merobek baju istrinya membiarkan dua gundukan nyembul itu tanpa penutup sehelai benang pun.
Ia meraup p*ting berwarna pink milik Kaira meng*isapnya dengan dalam, sementara tangan yang satu lagi mere*as penuh agresif di area lain...
"Aaahhhh!!!!..."
Erangan lembut lolos dari bibir Kaira, hawa tubuh keduanya sudah terasa panas akan gelora masing-masing yang membara.
Arka mendudukkan Kaira pada meja, ia melepas resleting celananya. Terlihat benda pusaka Arka sudah berdiri tegak, Kaira dibuat merona akan hal itu.
Tatapan keduanya bertemu seolah mengisyaratkan isi hati masing-masing, Arka menjilat dua jarinya hingga basah ia masukkan pada sel*ngk*ngan Kaira memainkan kl*toris itu dengan ritme cepat.
Kaira dibuat tak karuan tubuhnya menggeliat bergetar berkali-kali saat Arka melakukan pemanasan. "Arkaaaaahh!!!...." D*sahan lolos dari bibir Kaira saat cairan hangat keluar dari miliknya.
Arka tersenyum, ia sontak melepas rok mini istrinya hingga tak ada penutup di sana. Lelaki itu membuka lebar papa Kaira mengarahkan miliknya hingga masuk tepat pada sasaran. Kaira kembali merasakan miliknya terasa penuh oleh benda besar nan panjang milik Arka.
Sangat terasa sempit namun Arka menyukainya, ia mulai memaju mundurkan permainan panas itu diiringi lenguhan akan kenikmatan dunia.
"Aaahhh! Arkaaaaahh!!!...."
"Yeahhh babyy!! aaaaaarrrggh!!!..." Arka tak kuasa akan kenikmatan tubuh istrinya itu, dua gundukan kencang milik Kaira ikut bergoyang mengikuti irama membuat Arka semakin bergairah.
Keduanya mencapai puncak bersama-sama dengan nafas terengah-engah, milik Kaira terasa berdenyut dapat Arka rasakan.
"Saat dia keluar kenapa tampan sekali ya Tuhan!!!..." Batin Kaira menjerit.
Arka kembali mencium bibir ranum itu dengan lidah penuh agresif, tanpa melepaskan miliknya yang tertanam di sana.
__ADS_1
Bersambung....