Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 65


__ADS_3

Kaira yang menyadari keberadaan Yuna juga Sean, ia sontak mendorong kasar dada bidang Arka sehingga ciuman itu terlepas.


"Kenapa Kai??..." Tanya Arka mengerutkan keningnya.


Kaira memberi kode kepada Arka agar lelaki itu peka, Arka sontak menatap Sean dan Yuna bergantian. "Ah sorry karena begitu terhanyut aku sampai lupa jika ada kalian di sini..."


Mendengar itu pipi Kaira merona. "Yang benar saja! kenapa ucapan Arka vulgar sekali??.." Batinnya menjerit.


Yuna mengembangkan senyum manis mencari aman. "Tak apa, aku mengerti kok kalian juga sudah sah jadi tak masalah.."


"Oke, bagaimana denganmu Sean?.." Sengaja Arka balik tanya kepada sahabat sekaligus saudaranya itu.


Sean memutar mata malas sambil melepaskan jasnya. "Ya ya lanjutkan!..."


Arka tersenyum menyeringai.


Kaira melihat dua kantong berisi daging yang dibawa oleh Arka dan Sean. "Kalian mau masak-masak?.."


"Iya sayang rencananya begitu, kami sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Berhubung kita sekarang sedang kumpul mari panggang daging dan makan malam!.." Timpal Arka.


"Ide bagus!.." Balas Sean yang diangguki Kaira, sementara Yuna ikut-ikut saja menikmati acara ini.


Arka dan Kaira menyiapkan bumbu dan bahan makanan lainnya, Sean menyiapkan alat panggang di dapur. Yuna melihat-lihat apa yang harus dibantu lagi, ia sontak memilih daging untuk dibersihkan.


Sedikit canggung juga melihat kemesraan suami istri itu, jadi Yuna membiarkannya ia memilih pergi ke dapur membersihkan daging di sana.


Sean terdiam saat Yuna menguncir rambut panjangnya, leher jenjang yang putih mulus itu terekspos tampak sexy sekali. "Apa perlu diikat??..."


"Susah jika dibiarkan tergerai..." Jawab santai Yuna.


"Oke, bagaimana dengan bahan makanan lainnya?..."


"Kaira dan Arka sudah mengirisnya tinggal dimasak."


"Hmmm..."


Karena alat panggang sudah siap hanya tinggal menunggu daging diiris dan dibersihkan Yuna, Sean duduk tidak jauh dari Yuna, menatap lekat setiap gerak-gerik tubuh wanita yang perlahan memasuki hatinya itu. "Apa kau tahu maksud ciumanku kemarin??.."


Deg!...


"Pertanyaan macam apa ini? bukankah dia sendiri yang menyuruh untuk melupakan kejadian itu?.." Batin Yuna kembali gugup, dia mengiris daging kurang fokus akan pertanyaan Sean.


"Aku tidak tahu..."

__ADS_1


Sebenarnya Yuna peka, mungkinkah Sean menyukainya? namun ia tidak mau cepat menyimpulkan takut salah mengartikan.


Sean terdiam..


Yuna yang menyadari tatapan Sean membuatnya tidak fokus entah kenapa hati wanita itu malah berdebar juga merasa canggung. Suara irisan pisau terdengar nyaring dan... TREK!!..


"Akh!!.." Pekik Yuna ia terkejut jari kelingkingnya tergores hingga mengeluarkan darah.


Sean seketika berdiri meraih tangan Yuna. "Haish!.."


"Hanya tergores saja kok, bukan apa-apa.." Santai Yuna menarik tangan kembali namun Sean malah menahannya.


"Ck! kenapa tidak hati-hati hah?..."


Tanpa pikir panjang Sean memasukkan jari kelingking Yuna ke dalam mulut, ia menghisap darah itu dan meludahkan-nya berkali-kali hingga bersih.


Yuna terdiam mematung, ia dapat merasakan lidah juga bibir lembut Sean menyedot jarinya dengan leluasa. Wanita itu mengalihkan pandangan karena malu.


"Apa kau tidak jijik??.."


"Diam!..." Timpal Sean ia mengambil pembalut luka dan memasangkannya pada kelingking Yuna.


"Terimakasih..."


Arka dan Kaira yang menyaksikan itu saling tatap satu sama lain. "Apa mereka??.."


"Shuuuuutt! biarkan saja Kai..." Timpal Arka dengan senyum tipisnya.


"Hmmm oke..."


Mereka berempat memanggang daging setelahnya makan malam bersama hingga selesai, rasanya menyenangkan sekali berkumpul seperti itu.


Waktu menunjukkan pukul 22:00 malam, sudah saatnya untuk tidur.


"Apartemenku hanya ada dua kamar, mau bagaimana?.." Tanya Sean.


"Aku mungkin tidur sama Yuna..." Ucap Kaira.


"Tidak, kau denganku Kai!..." Timpal Arka.


"Lalu Yuna?..."


"Sean!..."

__ADS_1


Yuna dan Sean seketika saling tatap. "Hah!!!..."


Arka sontak meraih pinggang ramping istrinya. "Selamat malam, kita istirahat duluan!.."


Di ruang tamu kini tinggal Sean dan Yuna, Sean berdiri ia hendak melangkah menuju kamarnya namun tangan Yuna menahan. "Mau kemana!..."


"Tidur..."


"Apa tidak ada lagi kamar?..." Tanya Yuna dengan perasaan resah.


"Ada kamar mandi, bagaimana??..."


"Aku tidak becanda!.."


"Ya aku juga serius..." Timpal Sean menatap lekat wajah cantik itu.


"Kenapa jadi begini??..." Batin Yuna.


"Masuk saja kita hanya tidur bersama.." Timpal Sean seraya memasuki kamarnya.


"Iya walaupun begitu, tapi.... Aaaaarrggh!..." Pekik Yuna tanpa bersuara, karena ia tidak mungkin tidur di sofa ruang tamu yang luas itu, mau tidak mau ia harus tidur di kamar Sean.


Terlihat Sean keluar dari kamar mandi sudah cuci muka, ia naik ke atas kasur menutup tubuhnya dengan selimut.


Yuna masih berdiri di tempat, rupanya di kamar Sean tidak ada sofa hanya ada kursi kerja saja.


"Tunggu apa lagi??..." Puk! puk! puk!


Sean menepuk kasur. "Naik dan tidurlah ini sudah malam."


"I-iya...." Jawab terbata Yuna, perasaannya tak karuan jantungnya malah semakin berdebar ditambah Sean saat ini terlihat begitu tampan sekali.


"Sepertinya ada yang salah dengan jantungku!.." Batin Yuna.


Dengan perlahan ia naik ke atas kasur membaringkan tubuhnya di samping Sean, posisi Yuna membelakangi lelaki itu.


Mata Yuna hampir keluar saat lengan kekar Sean perlahan melingkar pada perutnya menarik tubuh itu ke dalam dekapan. "Jangan ditendang, hanya sebentar saja.."


"Seharusnya kau peka aku memberi tumpangan dan menciummu itu karena aku mencintaimu Yuna Anindrya..." Lirih Sean yang tak bisa menahan perasaannya lagi.


Yuna terdiam bibirnya terasa kelu jantungnya ikut berdebar kencang, lelaki tampan yang dingin penuh kharisma ini ternyata menyukainya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2