
Sekuat tenaga Melany memapah tubuh Kaira, akhirnya ia sampai di mobil dibantu beberapa pegawai apartemen. "Hati-hati ya non..." Kata mereka.
"Tenang saja, aku ahli dalam hal ini!..." Melany menancap gasnya menuju rumah sakit besar di kota itu.
"A-akkkh!!..." Keringat dingin mulai bercucuran pada kening Kaira, ia benar-benar tak kuasa dengan sakit yang luar biasa itu. "C-cepat Mel!..."
"Iya kak sebentar lagi, tenang atur nafas..." Melany cemas ia melaju dengan kecepatan tinggi. "Ck! kenapa jika buru-buru seperti ini lama sekali nyampe-nya??..."
Kaira memejamkan mata, tangannya meremas kuat ujung baju.. "Aakhh ya Tuhan!..."
Akhirnya mobil Melany sampai di pelataran rumah sakit, dengan hati-hati Kaira ia bantu keluar. "Pelan-pelan kak!.."
Tidak lama setelah di panggil satpam, beberapa suster datang membawa hospital bad. Kaira berbaring di atasnya, para suster itu langsung dengan cepat membawa ke dalam menuju tempat persalinan.
Melany berlari mengikuti kakak iparnya yang dibawa oleh suster, tidak lama akhirnya Kaira dibawa ke dalam ruang persalinan. Di sana sudah terlihat Dokter kandungan yang biasa memeriksa Kaira. "Non Mela tunggu di luar ya!..."
"Ah baiklah, selamatkan kakak dan bayinya Dok!.." Ujar Melany dengan nafas ngos-ngosan.
Dokter wanita itu tersenyum ia mengangguk. "Kita serahkan kepada sang pencipta." Lalu ia masuk ke dalam untuk menjalankan tugasnya.
Tanpa pikir panjang Melany merogoh handphone, tangannya sedikit gemetar mungkin karena panik. Ia menghubungi Arka. "Kak ayo dong angkat ah!! kemana sih??.."
Sudah 4 panggilan namun handphone Arka tak aktif, Melany memilih menghubungi Rangga dan Luna di Jakarta, untung saja tersambung, mereka berdua kini langsung siap-siap menuju kota A.
Melany juga menghubungi mamanya Veena untuk datang ke sini menemani, setelah orang terdekat dihubungi ia sedikit lega, namun Arka tetap saja belum aktif. "Ck! kemana sih kak??..."
Gadis itu mondar-mandir, berpikir bagaimana caranya agar bisa Arka datang ke rumah sakit. "Ah iya kak Sean!!..."
Mela langsung menghubungi Sean, lumayan lama tapi akhirnya panggilan tersambung. "Hallo Mel ada apa??..."
"Ah syukurlah, kak apa masih di kantor? kak Arka gak bisa dihubungi kemana dia?..."
"Meeting Mel baru dimulai 10 menit, kenapa nafasmu terengah-engah?..." Tanya Sean dari seberang.
"Kak Kaira di rumah sakit sepertinya mau melahirkan, tolong beritahu dia ya kak!..."
Mata Sean melebar terkejut. "Baiklah tunggu di situ!.."
"Iya kak.."
__ADS_1
Panggilan pun berakhir.
Sean berlari ke arah lift menuju tempat dimana Arka berada, dalam perjalanan ia juga menyuruh Yuna untuk datang ke rumah sakit, menemani Kaira yang sedang kontraksi.
BRAK!!..
Semua klien dari luar negeri terkejut ketika pintu terbuka, apalagi Arka. "Why Sean!..."
"Aku yang akan menggantikanmu meeting, cepat datang ke rumah sakit Kaira mau melahirkan!!.." Ujar Sean.
Mata Arka hampir keluar, tanpa bicara sepatah kata pun, ia berdiri dari duduknya berlari menuju ruangan CEO utama mengambil kunci mobil. Perasaannya tak menentu, setelahnya ia menuju lift hingga sampai di lantai bawah menuju parkiran.
Malam itu hujan turun sangat lebat, bahkan diiringi petir. Namun Arka tak peduli ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, pikirannya hanya Kaira dan Kaira. "Tunggu aku Kai!..."
~
Yuna sampai di rumah sakit, dokter hanya membiarkan satu orang saja yang bisa masuk. Tanpa pikir panjang Yuna masuk, ia sontak menggenggam tangan Kaira yang merintih kesakitan. "Lo harus kuat Kai!..."
"S-sakit Yun...." Ringis Kaira dengan keringat sudah membasahi tubuh. "Arka dimana??..."
"Sepertinya dia di jalan..." Jawab Yuna. "Dok ini bukaan berapa??.."
Kontraksi Kaira makin sering dan kuat, Yuna terus menggenggam erat tangan sahabatnya itu yang tampak melemah. "Kamu kuat Kai, sebentar lagi Arka datang..."
"Aaakkhh s-sakit Yun aku tak tahan!..." Rintih Kaira dengan nafas terengah-engah.
Sementara itu...
Rumah sakit sudah terlihat oleh Arka, ia memukul stir mobil. "Sial! kenapa macetnya lama!!..." Sudah berkali-kali klakson ditekan tetap saja, dia terjebak macet panjang.
Arka menatap rumah sakit, jaraknya dari Arka sekitar 15 meter. Tanpa pikir panjang ia keluar dari mobil, menerobos hujan lebat itu berlari menuju rumah sakit dimana istrinya berada.
Dokter mengerutkan kening melihat kondisi Kaira yang semakin melemah dibukaan tujuh. "Sus bersiaplah kita lakukan operasi sesar!..."
"Baik Dok..."
Yuna terdiam, ia khawatir. "Kamu kuat Kai!..."
Kaira menggeleng. "Tidak, aku t-tak bisa Yun, aaakkhh!.."
__ADS_1
Alat operasi sudah siap, oksigen sudah terpasang pada Kaira.
BRAKK!!..
Pintu dibuka, masuklah Arka dengan tubuh basah kuyup. Semua yang ada di sana terkejut juga lega. "Kai!...."
"Baiklah aku yang keluar.." Yuna keluar membiarkan Arka yang menggenggam tangan Kaira.
Kaira tersenyum sekilas melihat suaminya datang, Arka tak henti-henti mencium juga mengelus lembut kepala Kaira. "Kamu kuat sayang, ada aku di sini..."
"Tuan ganti baju dulu, nanti anda sakit.." Saran suster.
"I don't care, istri dan anakku lebih utama!.." Timpalnya.
Saat operasi akan dimulai, Dokter menyarankan untuk berhenti saat ada keanehan. Kaira kembali mengejan. "Sepertinya akan melahirkan normal!..."
Dokter merubah posisi, benar saja bukaan memasuki bukaan sepuluh. "Tarik nafas non, buang nafas perlahan!.." Ujar dokter.
"Aaaakkkhhhh!!..." Kaira menggenggam erat tangan Arka, ia mengeluarkan sisa kekuatannya dan..
Tangisan bayi terdengar nyaring mengisi seluruh ruangan, Kaira terkulai lemas, air mata Arka jatuh, ia tak henti-henti mengecup kening istrinya. "Terimakasih sayang, anak kita sudah lahir.."
Bayi berjenis kelamin laki-laki, lahir tanpa kekurangan sedikitpun. Tampan seperti papanya ia bahkan memiliki bulu mata lentik seperti Kaira.
Kini Kaira ditangani oleh dokter, tidak lama suster datang membawa bayi tampan yang sudah dibersihkan, memberikannya kepada Arka. "Ini putramu tuan..."
Dengan perlahan Arka menggendongnya, bayi yang sebelumnya menangis kini terdiam di pelukan sang papa. Arka langsung mengumandangkan adzan di sebelah kanan telinga putranya.
Dalam waktu bersamaan, Veena datang bersama Ditama. Di susul dengan Luna dan Rangga dari Jakarta. Kedua keluarga besar itu kini diperbolehkan masuk.
"Ya Tuhan cucuku!.." Veena menangis begitu pun juga dengan mama Luna.
Rangga dan Ditama tersenyum, mereka terharu.
"Apa kau sudah memberikannya nama?.." Tanya mama Luna, lengannya tak henti mengelus lembut kepala Kaira yang masih berbaring lemah dalam penanganan dokter.
Arka melirik Kaira, Kaira tersenyum tidak lama ia mengangguk. "Ku serahkan kepadamu..."
Kini tatapan Arka tertuju pada putranya. "Namanya Sha Fharrel Bryanditama, ya putraku Fharrel!!..."
__ADS_1