
"Apa aku mengungkapkannya di waktu yang salah??.." Batin Sean. "Tidak! aku tidak bisa menahannya lagi!.."
Yuna meremas ujung kain bantal, suasananya terasa gerah sekali ditambah dengan posisi mereka berdua yang terkesan ekstrim. "I-itu..."
Sean peka dengan apa yang Yuna rasakan, wajar jika gadis itu terkejut dengan pengakuan cintanya. Dimana Sean sendiri tidak pernah bersikap seolah dia jatuh cinta kepada Yuna, namun ternyata ia berhasil menutupi perasaannya itu dengan sikap dingin.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, jika pun kau menolak aku akan terus berusaha hingga kau menerima dan membalas perasaanku Yuna!.." Lirih Sean, ucapannya sekarang terdengar lembut tak seperti biasanya yang tegas.
"Bukankah pemaksaan? jika seperti itu tetap saja aku akhirnya jatuh di tanganmu juga.." Balas Yuna.
"Hmmm, kurasa semua wanita tidak bisa menolak pesona seorang Sean Candra.."
"Ada aku!..." Timpal Yuna.
"Ya, karena hal itu aku menyukaimu.."
Yuna seketika terdiam, detak jantungnya yang berdebar mungkin dapat didengar oleh Sean. "Apa kita akan bicara dengan posisi seperti ini?.."
"Of course, karena sudah waktunya tidur juga!..."
"Tidak! sepertinya aku tidak akan bisa tidur dengan kondisi jantung seperti ini.." Batin Yuna resah juga canggung.
Deru nafas Sean terasa hangat menerpa leher jenjang Yuna dari belakang, apalagi tangan kekar lelaki itu perlahan memasuki kaos Yuna menyentuh perut polosnya tanpa penutup lagi.
Timbul rasa tegang dalam diri Yuna, satu kamar dengan lelaki saja membuatnya tak nyaman apalagi posisi tidurnya sekarang bersama Sean. Tentunya ada rasa takut kebablasan.
"Tidurlah ini sudah malam, aku tidak akan melakukan apapun tanpa seizin darimu..."
Yuna mengatur nafasnya agar bisa tenang, namun tetap saja hatinya resah juga gugup.
Tanpa pikir panjang Yuna berdiri dari tidurnya, Sean mengerutkan kening menatap tanda tanya. "Ada apa??.."
"Aku akan tidur di bawah saja, karpetnya juga hangat jadi tak masalah.." Timpal Yuna seraya mengambil bantal meletakkannya di atas karpet.
Sean terdiam, saat ia ingin bicara lagi Yuna malah berbaring memejamkan mata.
__ADS_1
"Haish! kenapa dia menggemaskan sekali? bagaimana aku bisa tahan jika seperti ini?.." Batin Sean, ia menggigit bibir bawahnya karena gemas.
"Baiklah good night..."
"Hmmm..." Balas Yuna, ia membelakangi Sean, memejamkan mata mencoba untuk tidur dan mengakhiri situasi canggung pada malam ini.
20 menit berlalu...
Sean melirik ke bawah, terlihat Yuna sudah tidur terlelap. Wajah cantiknya tampak damai.
Lelaki itu seketika turun dari atas kasur, mengangkat tubuh ramping Yuna meletakkannya perlahan di atas ranjang lalu menyelimutinya. "Tidak mungkin aku membiarkanmu tidur di bawah Anindrya..."
Sean menopang dagu tatapan mata tajamnya tertuju pada wajah cantik Yuna, bulu mata lentik, hidung mancung, juga bibir sexy berwarna pink. "Kau bisa menahannya Sean! jangan berbuat lebih ini cobaan...."
Sean sontak mengalihkan pandangan, namun ia tidak bisa untuk tak menatap wajah cantik yang terlihat damai itu. Tatapan matanya tertuju pada bibir sexy Yuna. "Sorry honey...."
Lengan kekar Sean mengungkung tubuh Yuna, ia memiringkan wajah meraup bibir manis itu perlahan, mencium dan me*umatnya atas dan bawah bergantian.
Karena takut tak bisa mengontrol diri, Sean segera melepas ciumannya takut kebablasan. "Haaaah ya Tuhan! ini gila...."
...***...
Keesokan paginya...
Arka terbangun saat handphonenya berdering, ia sontak menerima panggilan itu dalam keadaan mata masih terpejam. "Hallo?..."
"Arka kamu dimana? papa sekarang sudah di depan apartemenmu!.." Tanya Ditama.
"Ada apa pah! ini hari libur..." Timpal Arka.
"Cepat pulang dan jangan bawa Kaira!.." Lirih Ditama seraya mengakhiri panggilan.
Arka mengepalkan tangannya kuat, apa rasa trauma papanya semakin menjadi? kenapa rasanya menjengkelkan bahkan Arka tak bisa menahan emosi untuk itu.
Ia melirik Kaira yang masih terlelap, tubuh polosnya ditutup selimut. Keduanya tadi malam melakukan penyatuan panas kembali.
__ADS_1
Arka tersenyum saat melihat bekas cinta pada leher Kaira, ia menyingkap selimut itu sampai perut memperlihatkan dua gundukan kencang tanpa penutup.
"Tak akan ku biarkan kau pergi dariku Kai!..."
Kaira mengerjapkan mata saat tubuhnya merasakan sensasi lain, ia sedikit terkejut saat Arka sudah mengungkung di atasnya bermain gila dengan gundukan nyembul itu.
"Arka...."
Milik Kaira terasa berdenyut akan gesekan milik Arka yang sengaja melakukan rangs*ngan di sana. "Sudah bangun Kai??.."
"Hmmm, i-ini masih pagi ahhh!..."
"Melakukannya di pagi hari itu sangat bagus sayang..."
Pipi Kaira merona ia dapat melihat jika milik suaminya sudah tegak, rangs*ngan yang dibuat Arka membuat milik Kaira terasa berdenyut juga basah.
Arka menuntun tangan Kaira untuk menyentuh miliknya, Kaira tahu apa yang diinginkan Arka. Ia mempercepat gerakan tangannya sehingga lenguhan lembut dari bibir Arka keluar. "Aaahhh Kai!..... shhh!..."
Karena benar-benar tak tahan, Arka membuka sel*ngk*ngan Kaira, ia mengarahkan miliknya pada milik Kaira dengan satu hentakan.
"A-Arkaaahh!!..."
Pinggul Arka mempercepat ritme maju mundur dengan leluasa, tangan kekar itu meremas gundukan nyembul Kaira yang ikut bergoyang akan permainan panas.
"Ahhh.. aahhhhhhh!.... Kai kau benar-benar membuatku hilang kendali sayang!!.." Lenguh Arka.
Penyatuan kali ini entah kenapa Arka sedikit brutal juga agresif, Kaira dibuat tak karuan d*sahannya terus lolos membuat gairah Arka semakin menjadi. "Mmmhh.. A-Arkaaahh.... aahhh!..."
Lelaki itu menjilat p*ting Kaira bergantian, naik ke atas meraup bibir sexy itu berciuman me*umatnya penuh agresif.
Kaira meremas rambut Arka, seluruh ruangan itu terdengar nyaring akan suara pinggul yang beradu.
"Aaaaaaaakhhhh!!!...." Lenguh Arka dan Kaira menegang bersamaan saat keduanya mencapai puncak.
Bersambung....
__ADS_1