Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 93


__ADS_3

Jam 7 malam, setelah berkali-kali kontraksi akhirnya Indah terkulai lemas. Ia pingsan bersamaan dengan buah hatinya telah lahir dengan jenis kelamin perempuan.


Para suster membersihkan bayi itu, Luna dan Rangga merasa lega setelah mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan. "Akhirnya...."


Tidak lama, seorang dokter keluar. "Permisi? ayah dari bayi ini di mana ya nyonya?..."


"Tidak ada Dok, kami sebagai orang tua yang menemaninya..." Timpal mama Luna.


"Oh baiklah, nona Indah kehabisan tenaga namun jangan khawatir ia pingsan sesaat. Silahkan, sekarang kalian bisa melihat cucu di dalam..." Ramah dokter itu.


"Iya terimakasih..." Mama Luna dan Rangga masuk ke dalam, keduanya merasa lega.


Bayi mungil yang kelihatan imut, sedang tidur di samping ibunya.


"Ini sudah malam, Kaira di rumah. Mari kita pulang mah, biarkan si bibi yang menemani juga mengurus Indah..." Ujar Rangga.


"Baiklah kalau begitu, mama telpon mang supir dulu untuk membawanya ke sini.." Timpal Luna merogoh handphonenya.


"Hmmm..."


Tidak lama, setelah Luna menghubungi mang supir, hanya 15 menit si bibi datang. "Bu?..."


"Bi kami titipkan Indah ya, untuk mengurus juga membantunya sementara waktu.." Ujar Luna.


"Baik, sudah tugas bibi bu...." Sungkannya.


"Kalau begitu kami pulang, Kaira di rumah!..." Timpal Rangga pamit kepada yang ada di sana.

__ADS_1


Keduanya berlalu pergi tanpa menunggu Indah siuman, biarkan si bibi yang menemaninya, dari pada Kaira di rumah sendirian, takut menunggu kedatangan mereka.


Sementara itu...


Amerika


Arka menghampiri Ditama yang berbaring lemah, sebelumnya ia bicara panjang dengan dokter Jack yang menangani papanya itu.


"Arka..." Lirih Ditama dengan suara bergetar.


Arka menggenggam erat tangan papanya. "Iya pah ini aku..."


Mama Veena yang duduk berdiri menghampiri mereka. "Apa kau akan pulang ke Indonesia sekarang?..."


"Iya, sudah mau satu minggu aku di sini mah. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Kaira lama-lama, begitu pun dengan perusahaan.." Balas Arka. "Jika ada waktu luang, aku akan ke sini lagi. Papa akan terus ditangani sampai benar-benar siuman oleh dokter Jack."


Ditama mengangguk pelan. "Baiklah hati-hati, adikmu Melany 3 hari lagi graduation di sekolahnya. Papa mohon datanglah untuknya dan wakili kami, bawa serta Kaira untuk menghiburnya.."


Arka langsung mengangguki. "Baiklah jangan khawatirkan Mela, papa di sini harus sembuh biar bisa kumpul lagi!.."


"Iya..."


Setelah itu Arka berpamitan dengan kedua orang tuanya, ia berlalu pergi dari rumah sakit besar itu untuk melakukan penerbangan ke Indonesia.


...~...


Pagi hari...

__ADS_1


Setelah sarapan, Kaira seperti biasa selalu melakukan senam ibu hamil. Namun tidak lama ia mengakhiri senam itu, entah kenapa rasanya sekarang malas ingin menghirup udara segar..


Mama Luna yang sedang duduk di ruang tamu, menoleh saat melihat putrinya turun dari tangga berjalan ke luar. "Mau kemana Kai??..."


"Taman belakang ma, bosan di rumah terus..."


"Baiklah jangan kemana-mana ya, kasih tahu mama kalo mau keluar dari lingkungan rumah!..." Timpal Luna.


"Iya..." Jawab Kaira, ia berjalan menyusuri teras hingga sampailah di taman belakang.



"Aaahhh segar sekali..." Lirihnya menikmati suasana itu, Kaira merentangkan kedua tangannya saat angin sepoi-sepoi datang.


"Cepat lahir ya sayang, lihat kakek membuatkan taman untukmu.." Ujar Kaira mengelus lembut perutnya.


Ia menyusuri jalan setapak menuju saung di sana, Kaira kembali merentangkan kedua tangannya saat angin sepoi-sepoi datang lagi.


Mata wanita itu melotot, tubuhnya mematung saat ada sebuah lengan memeluknya dari belakang dengan perlahan. Panik tentunya, tanpa pikir panjang Kaira menoleh dan...


BUKHH!!...


"Akhhh!!..." Pekik Arka saat hidung mancungnya kena pukulan sang istri. "Sayang!!..."


Kaira seketika menutup mulut syok. "A-Arka ya ampun, aku tak bermaksud..." Ia meraih wajah tampan suaminya menyentuh bekas pukulan. "Apa ini sakit???..." Kaira cemas.


"Jangan tanya lagi....."

__ADS_1


__ADS_2