Hasrat Kakak Ipar

Hasrat Kakak Ipar
Episode 51


__ADS_3

Kaira tersenyum sekilas seraya mengalihkan pandangan. "Ini masih siang, seperti katamu kita akan melakukan penerbangan ke New York bukan?.."


"Ah iya, apa kau siap menemui papa Kai? di sini aku yang mengambil keputusan." Lirih Arka sontak menggenggam tangan Kaira. "Bagaimana pun nanti aku akan melindungimu..."


"Oke..." Kaira mengangguk, hubungan mereka berdua bukan hanya sepasang kekasih lagi, melainkan sudah menikah jadi seberat apapun rintangannya harus dihadapi bersama.


Setelah melepas riasan, Arka dan Kaira istirahat sebentar. Setelah itu mereka berdua pamit untuk kembali ke kota A.


"Arka sayangi dan lindungi Kaira papa sudah menyerahkannya kepadamu.." Ujar Rangga yang sontak diangguki Arka.


"Sudah pasti pah..."


"Baiklah hati-hati sayang.." Lirih Luna kepada mereka.


"Iya ma.."


Mobil hitam itu melaju membelah jalanan raya menuju kota tujuan..


...***...


Setelah menyaksikan Kaira dan Arka resmi sebagai suami istri, Sindy dan Yuna tidak lama pamit memang ada pekerjaan yang belum mereka selesaikan.


"Haha gak nyangka banget ya Kaira dan Arka sampai menikah juga.." Ujar Yuna.


"Heem gue seneng banget." Timpal Sindy.


"Apalagi gue.."


Akhirnya mereka sampai di mana mobil mereka berada. "Yaudah Sin gue duluan ya soalnya mau nemenin bokap meeting di kota A.." Ujar Yuna.


"Oke have fun Yun..."


"Ya kau juga honey..."


Setelah itu Yuna berlalu pergi meninggalkan pelataran rumah Kaira, saat Sindy hendak memasuki mobil ia dari kejauhan melihat Bastian yang menatap nanar rumah Kaira penuh dekorasi pernikahan itu. "Tian?....."


Sindy sontak menghampiri lelaki itu. "Apa yang lo lakukan di sini? kenapa tidak masuk saja temui Kaira sebelum dia pergi ke kota A.."


Bastian tersenyum seraya menggeleng. "Tidak Sin, cukup dari sini saja..."


Sindy terdiam, ia dapat merasakan apa yang lelaki itu rasakan.. Ya cinta bertepuk sebelah tangan!..


"Kaira sudah bahagia dengan pilihannya lo juga harus seperti itu, walaupun gue tau pasti akan sedikit susah." Ujar Sindy.


Bastian menatap lekat wajah sahabatnya itu. "Boleh minta waktunya sebentar Sin?.."

__ADS_1


"Apa? mau apa lo?..."


Lengan Bastian sontak menarik leher Sindy mendekapnya erat, melihat hal itu tentu Sindy melotot.


"Hanya butuh pelukan sebentar saja ingin tempat sandaran..." Lirih Tian dengan nada memohon.


Sindy terdiam, namun perlahan ia mengangkat kedua tangannya membalas pelukan lelaki itu. "Yaudah..."


"Lo tahu gak Sin?.."


"Apa?.."


"Kaira bilang ada yang menyukai gue katanya wanita itu sudah menyimpan rasa selama 2 tahun, lo tau siapa dia??.." Tanya Tian.


Deg!...


Sindy merasa terpanggil akan ucapan Tian. "M-mungkin! kalo lo tau wanita itu apa yang akan lo lakuin?.."


Masih dalam posisi berpelukan. "Berterima kasih, pasti rasa cintanya begitu tulus.. Tolong bantu tanyakan kepada Kaira siapa orang itu!.."


"Aku orangnya di depanmu Tian..." Batin Sindy menjerit pasrah.


Setelah puas, pelukan itu terlepas.


"Makanya peka terhadap sekitar nanti lo juga sadar!.." Timpal Sindy. "Yaudah gue pergi dulu ada urusan, nanti akan ku tanyakan kepada Kaira mengenai wanita itu jika sempat, bye!!.."


...~...


...~...


"Aku datang bersama istriku pah..." Ujar Arka seraya menggandeng tangan Kaira menghadap Ditama.


Deg!!


Ditama terdiam menahan amarah saat kedatangan putranya bersama Kaira.


"Kalian menikah tanpa mengundang orang tua??? hah!!..."


"Ya pah aku memutuskan untuk memiliki Kaira sepenuhnya, mama juga menghadiri pernikahan ini sebagai saksi.." Jawab Arka.


Mendengar itu Ditama sontak menatap tajam istrinya. "Kau berbohong kepadaku ma!.."


"Ini juga demi kebahagiaan putra kita, tidak ada salahnya bukan?..." Timpal Veena.


"Aku akan pergi ke New York jika itu keinginan papa, namun bersama Kaira, akan ku kelola perusahaan di sana!.." Ucap Arka.

__ADS_1


Ditama memijit pusing keningnya. "Jika sudah seperti ini batalkan saja berangkat ke New York! cukup urus perusahaan yang ada di sini!.."


Semua orang yang ada di sana saling tatap satu sama lain. "Apa papa merestui pernikahan kami?..."


Ditama menatap tajam Arka dan Kaira bergantian. "Tidak untuk sekarang!!.." Setelah berucap Ditama berlalu pergi.


"Mungkin papa butuh waktu untuk menyembuhkan rasa traumanya, tak apa ini urusan mama kalian bersenang-senanglah!.." Timpal Veena sambil tersenyum ke arah Kaira dan Arka.


"Baiklah ma.." Arka tersenyum begitupun dengan Kaira.


"Kalau begitu aku dan Kaira pamit pulang, rasanya melelahkan sekali.."


"Iya kalian pasti capek, selamat istirahat.." Lirih Veena mencium kening Kaira juga memeluk putranya.


Setelah berpamitan mereka berdua berlalu menuju apartemen milik Arka.


Mereka sampai pukul 19:00 malam..


Di sana Kaira sontak memasuki kamar sebelah, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur itu. "Ah nyaman sekali.."


"Tidur di kamarku Kai!..." Timpal Arka yang dari tadi menatap Kaira.


"Malas pindahnya sudah nyaman..."


"Kau juga harus mandi kita banyak mengeluarkan keringat nanti lengket!.." Timpal Arka lagi.


"Hmmm..." Jawab Kaira tanpa melihat Arka.


Lelaki tampan itu sontak melepas jas, Arka menghampiri Kaira tanpa pikir panjang mengangkat tubuhnya dibawa pindah ke kamar sebelah..


Kaira mengira ia akan diturunkan di atas kasur, namun Arka membawanya ke kamar mandi mengguyur tubuh wanita itu dengan shower.


"Ahhh kenapa? ini basah semua..."


"Kita mandi bersama sayang!..." Lirih Arka seraya melepas kancing kemeja transparan istrinya yang basah.


"T-tapi!..." Potong Kaira dengan jantung yang sudah berdebar kencang. "Apa kita akan melakukannya sekarang?." Batin Kaira.


"Tapi apa hmm?.." Lirih Arka dengan tatapan beratnya.


Kemeja putih Kaira sudah terlepas hanya menyisakan penutup aset berharga itu, dengan satu tarikan kaitan penutup dada Kaira terlepas akan ulah Arka.


"A-Arka....."


"Buka sedikit bibirmu sayang!.."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2