
"Mengenai wanita yang bersama Sean, itu siapa ya?.." Tanya Kaira ingin tahu.
Yuna terdiam sejenak sebelum lanjut mengeringkan rambut. "Mantan Sean, dia terlibat kerjasama dengannya.."
"Pasti sering berinteraksi donk?..."
Yuna mengangkat kedua bahunya. "Bisa jadi, namun aku tidak akan membiarkannya terus berpapasan. Sean sendiri merasa jijik terhadap wanita itu Kai..."
Kaira manggut-manggut. "Bagus, bila perlu aku menyuruh Arka untuk mengeluarkannya dari perusahaan. Walaupun diantara mereka sudah tidak ada hubungan, namun aku tak yakin jika wanita itu tak menginginkan Sean kembali!.."
"Hmm, oke kita lihat saja.."
Yuna seketika menatap lekat wajah cantik sahabatnya. "Kau sensitif sekali Kai, lagi mens ya?.."
Kaira menggeleng. "Tidak, hanya saja moodku sedang tidak baik.."
"Karena Arka?..."
"Gak juga, aku memaklumi lost kontak yang terjadi di antara kami kemarin.." Lirih Kaira.
"Oh yaudah, jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin ya.."
Kaira tersenyum sambil mengangguk. "Yun, apa kau mulai mencintai Sean?.."
"Entahlah, namun bisa dibilang..."
"Pipimu merona saat ku sebut nama lelaki dingin itu, hayoloo ini pertama kalinya aku lihat dirimu seperti ini..." Sengaja Kaira menggoda Yuna.
Yuna terkekeh. "Jangan menggodaku Kai, btw makasih ya hair dryer nya..."
"Haha oke..."
Setelah rambut rapih, Yuna meletakkan kembali di laci. "Yaudah Kai, aku pergi dulu ya sebentar lagi presentasi.."
"Iya..."
Yuna pun berlalu...
...***...
Pukul 13:02 siang...
Sean memasuki ruangan CEO utama, di sana terlihat Arka fokus dengan pekerjaannya.
"Hanya tinggal 5 dokumen lagi yang harus kau tanda tangani.." Ujar Sean meletakkannya di meja kerja Arka.
__ADS_1
"Hmmm..."
"Kenapa wajahmu masam begitu?..." Tanya Sean sengaja.
"Moodku kurang baik!..."
Sean terdiam. "Aku tak tahu harus merubahnya gimana. Jadi, permisi dan jangan lupa makan siang.."
"Tunggu!.." Timpal Arka.
Sean menoleh sebelum melanjutkan langkah. "Apa??..."
"Bukankah Alia mantanmu, apa kau keberatan dengan kehadirannya di sini? bagaimana dengan Yuna? walaupun hubungan kalian baik-baik saja, belum tentu istrimu terima.."
"Aku tidak memikirkan itu, jika pun Yuna tak terima. Mungkin kerjasama kita dengan produknya di batalkan.." Timpal Sean.
"Bagus!..."
"Ya..."
Setelah itu Sean pun berlalu pergi.
Arka mengirim pesan kepada Kaira, setelahnya ia kembali melanjutkan pekerjaan. Rasanya ingin segera pulang menghabiskan waktu bersama dengan sang istri.....
Sore hari sekitar jam 4, setelah selesai meeting, Arka menunggu Kaira di lantai bawah. Tidak lama wanita itu datang lalu memasuki mobil.
"Iya.."
Arka pun menancap gas menuju alamat tujuan, sebelum sampai di apartemen, suami istri itu mampir ke toserba untuk belanja bulanan.
Sesampainya di apartemen, keduanya ganti pakaian dengan baju santai.
"Sayang bisakah kau buatkan aku kopi?.." Tanya Arka seraya duduk di kursi ruang tengah.
"Hmm, boleh tunggu sebentar..."
"Iya..."
Kaira melangkah menuju dapur membuatkan kopi untuk suaminya, tidak lama ia kembali. Terlihat Arka meletakkan laptop saat Kaira datang. "Ini silahkan..."
Arka tersenyum. "Terimakasih..."
"Your welcome...."
Lelaki itu meminum kopi yang diberikan Kaira, Kaira duduk di bawah kursi samping paha kekar suaminya.
__ADS_1
"Kenapa tidak di atas sayang?..."
"Di sini saja..."
Arka tersenyum mengelus lembut kepala Kaira. "Kemarin, mama papa dan juga aku bertengkar hebat Kai. Papa benar-benar keras kepala, mau tidak mau kami membiusnya membawa dia ke psikiater untuk rehabilitasi..."
Kaira akhirnya paham. "Perubahan papa Ditama gara-gara aku ma....
"Shuuuuutt! jangan menyalahkan diri, dia juga harus sembuh sayang.." Timpal Arka.
Kaira menyenderkan kepalanya di paha kekar Arka. "Pernikahan kita sudah memasuki 2 bulan, restu itu belum didapat..."
"Sebentar lagi, jangan dipikirkan, kita berharap yang terbaik saja..."
Kaira tersenyum sekilas. "Iya..."
Arka meletakkan kopinya di atas meja, ia meraih tengkuk Kaira mencium bibir manis itu penuh kelembutan. Kaira memejamkan mata membalasnya, ciuman lembut itu semakin ke sini semakin memanas.
Arka mendekap tubuh istrinya, ia merubah posisi turun dari atas kursi. Kini Kaira sudah berbaring di bawah dengan di tindih Arka yang berada di atasnya.
Tanpa melepas cumbuan, Arka melepas kancing baju Kaira mencari kaitan penutup dua gundukan kencang itu untuk dilepas.
Kaira menggigit bibir bawah saat lidah Arka, me*umat juga menyesap p*ting berwarna pink miliknya. Sementara tangan kekar yang satunya lagi me*emas dengan leluasa. "Kenapa kau tampak semakin cantik saja Kai?.."
Kaira merona. "Apa sebelumnya aku tak cantik?.."
"Tidak, sebelumnya cantik sekali, namun sekarang berbeda..." Timpal Arka beralih mencium bibir sexy-nya.
Tangan kekar Arka mengeruak masuk ke dalam rok mini istrinya, menarik penutup itu.
Kaira melenguh saat jari Arka bermain leluasa di sana, memberikan rangsangan dengan ritme cepat. Tidak lama sesuatu yang basah keluar dari miliknya, Kaira terengah-engah akan hal itu.
Arka tersenyum tipis, ia melepaskan celananya. Membuka paha mulus Kaira lebar-lebar. Dengan satu hentakan miliknya pun berhasil masuk.
"Oh s*it!..." Lirih Arka menggigit bibir bawahnya, milik Kaira terasa sempit mungkin karena istrinya itu rutin melakukan perawatan.
Arka perlahan memaju mundurkan pinggulnya, dua gundukan nyembul yang ikut bergoyang tak ia biarkan begitu saja.
Kaira meremas kuat rambut Arka. "Aaahh!... mmmhh... aahh... aahh!... A-Arkaaahh!...."
"Ya sayang? sebut namaku terus!.. aaakkhh!...." Gairah Arka semakin menjadi mendengar d*sahan Kaira.
Suara penyatuan itu terdengar nyaring di seluruh ruangan, Arka mempercepat ritmenya, membuat lenguhan kenikmatan keduanya tak beraturan. Tidak lama tubuh Kaira menegang disusul Arka. "Aaaakhhh!..."
Kaira dapat merasakan miliknya hangat juga berdenyut, Arka tersenyum menyeringai dengan nafasnya yang masih terengah-engah. "Kita pindah ke kamar Kai..."
__ADS_1
"Hmmm..."
Bersambung....