
"Maka dari itu kalian harus menikah!!! papamu Yoga sudah setuju Anindrya! tidak ada bantahan..." Timpal Anthony.
"HAHH?????...." Yuna menganga ia tercengang.
"Om kami memang tidur satu kamar, tapi apa harus menikah dadakan seperti ini??..." Timpal Yuna. "Terus papa, bagaimana om bisa tahu papa?.."
"Yoga sahabatku dari SMA.." Jawab Anthony.
Yuna sedikit terkejut ia benar-benar tak menyangkanya.
"Bagaimana ini? kenapa bisa seperti ini!.." Batin Yuna resah, ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh Yoga juga mamanya karena numpang bahkan tidur satu kamar dengan Sean. Ya pastinya mereka akan menyangka tidur satu kamar melakukan hubungan badan, padahal ini tidak.
Lain halnya dengan Sean, ia nampak kebingungan namun raut wajah tampannya tampak tenang.
Yuna menarik ujung kaos lelaki itu. "Hey! katakan sesuatu kenapa diam saja, yakinkan papamu bahwa kita satu kamar juga tidak melakukan apa-apa..."
"Zaman sekarang orang tua susah percaya, jika melihat dengan mata kepala sendiri menyangkal pun itu percuma Anindrya..." Balas Sean.
Wanita itu seketika terdiam.
"Padahal jika kamu mencintai Yuna bicara sama papa terus terang saja, jangan menjalin hubungan di belakang seperti ini!.." Ujar Anthony.
"Aku mengenal Yuna belum satu minggu pah, terus terang kepada orang tua belum terpikirkan." Jawab Sean yang diangguki Yuna.
"Aku juga di apartemen Sean cuma numpang om, rencananya besok sama Kaira mau nyari hotel untuk ditinggali.."
"Sampai tidur satu kamar?? hmmm!..." Potong Anthony.
Karena Sean tidak mau dianggap aneh-aneh ia hendak bicara. "Itu karena ada Ar......"
Ucapan Sean belum juga selesai....
"Aku datang!!..." Timpal Yoga dan istrinya memasuki apartemen itu.
"Papa, mama!.." Lirih Yuna menghampiri kedua orang tuanya. Yuna mengerutkan kening saat melihat seorang lelaki paruh baya yang ikut di belakang mereka. "Siapa om itu ma??.."
"Penghulu yang akan menikahkan kalian berdua!.." Jawab Rosa.
__ADS_1
Brukh!...
Jawaban mamanya membuat kaki Luna lemas sehingga ia terjatuh ke lantai. "S-sepertinya aku tidak bisa lari...." Terbata Yuna tak berdaya.
Rosa membantu putrinya itu untuk berdiri kembali. "Masalah ini mari kita bicarakan baik-baik.."
Semua yang ada di sana duduk berhadap-hadapan.
"Yuna, Sean, papa ingin mendengar kebenaran secara langsung dari kalian berdua. Apa benar kalian tidur bersama dalam satu kamar!.." Tegas Yoga ia ingin meluruskan masalah.
"Iya..." Lirih mereka bersamaan mengatakan yang sebenarnya.
Terlihat Yoga, Rosa, dan Anthony terdiam, raut wajah kecewa itu tak tertutup lagi.
Sean tidak ingin dirinya dan Yuna dicap buruk. "Di sini aku ingin menegaskan bahwa kita memang tidur satu kamar namun tak melakukan apapun.."
"Apa kau ingin lari dari masalah Sean? jelas papa tadi mendengarnya secara langsung di kamar sebelah kanan!.." Timpal Anthon.
Yuna dan Sean seketika saling tatap satu sama lain, mereka menemukan titik terang.
Mereka yang ada di sana terkejut. "Apa maksudmu!..."
"Kita sebelumnya tidur terpisah, karena Arka dan Kaira menginap, tak ada pilihan lain jadi kami tidur satu kamar..." Jawab Sean.
"Jika iya coba perlihatkan buktinya kepada kita!..."
Yuna sontak mengambil handphone untuk menghubungi Kaira, tidak lama sahabatnya itu menjawab.
Karena Kaira terkejut dihujani pertanyaan banyak oleh orang berbeda, ia menyerahkannya kepada Arka. Arka tersenyum menyeringai akan masalah yang menimpa pada Sean gara-gara ulahnya, namun ia mengakui bahwa kejadian pagi tadi memang ulah yang dilakukannya bersama sang istri.
Plong!!...
Mereka yang ada di sana menghela nafas lega.
"Anindrya maaf om salah paham, pantas saja kalian saat terciduk tak ada rasa panik sama sekali..." Lirih Thony.
Yuna tersenyum. "Tak apa om, aku mengerti..."
__ADS_1
"Kenapa kau tidak bicara ke rumah bahwa menginap di apartemen Sean?.." Timpal Yoga kepada putrinya.
"A-aku takut papa marah, karena di sini juga aku hanya beberapa hari.."
"Baiklah..."
Entah senang atau apa, Yuna refleks memeluk Sean. "Masalahnya selesai..."
Sean sedikit terkejut namun ia membalas Yuna dengan senyum tipisnya. "Hmmm..."
Melihat itu Yoga, Anthony, dan Rosa saling tatap. "Sepertinya alangkah baiknya jika kalian berdua memang menikah saja..." Ujar Thony.
"Iya, karena kerjasama dengan perusahaan Ditama pasti Yuna akan sering di sini, papa tidak khawatir jika ada yang menjaga dan melindungimu.." Timpal Yoga yang setuju dengan pemikiran sahabatnya.
"Mama merasakan feeling baik pada kalian, Yuna juga sepertinya nyaman bersama Sean.." Lanjut Rosa.
Pelukan Yuna terlepas dari Sean setelah mendengar ucapan orang tuanya itu, entah kenapa jantungnya malah berdebar. Percuma saja tadi Yuna menguak kebenaran agar tak jadi menikah dadakan, toh sekarang ujungnya malah berencana dinikahkan juga.
"T-tapi aku belum memiliki perasaan terhadap Sean, ia layaknya seperti sahabat.." Lirih Yuna.
"Wajar, pertemuan kalian juga belum genap satu minggu, perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu." Ucap Anthony. "Bagaimana denganmu Sean??..."
Sean beralih menatap lekat wajah cantik Yuna. "Aku tidak keberatan, wanita ini tak membosankan..."
"Lih!!..." Timpal Yuna terkejut dengan jawaban Sean, namun lelaki itu hanya tersenyum menyeringai. "Kenapa??.."
"T-tidak!..."
"Jadi bagaimana sayang? mama berharap kamu menerimanya ini juga demi masa depan kalian." Ujar Rosa, ia yakin dengan gerak-gerik Sean jika lelaki tampan itu diam-diam mencintai putrinya.
Yuna terdiam mencerna setiap ucapan mereka, benar perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, biasanya ucapan orang tua juga tidak pernah salah. "Baiklah kalau begitu aku bersedia menikah dengan Sean..."
Rosa dan Yoga tersenyum, Anthony merasa bahagia, ia berharap putranya itu kembali merasakan kasih sayang dari seorang wanita setelah mamanya yang meninggal. "Ya sudah mari kita mulai pak penghulu!..."
"Baik...."
Bersambung....
__ADS_1