
Indah mengetuk pintu ruangan dimana Ditama berada, terdengar suara yang menyuruhnya masuk dari dalam. Wanita itu meneteskan cairan pada matanya sehingga tampaklah mata sehabis menangis...
Cklek! pintu dibuka masuklah Indah ke dalam.
Ditama sontak berdiri dari duduknya ia terkejut dengan kedatangan mantan mantunya itu. "Indah!..."
Indah menyeka air mata yang keluar dari matanya seraya mendekati Ditama. "Hiks.. hiks... Bagaimana kabarmu pah??.." Tanya Indah mengulurkan tangan.
Dengan tatapan heran Ditama membalas uluran tangan itu. "Kabarku baik, namun kau bukan mantuku lagi sekarang, sebut saja om jangan pah!..."
"Cih!!..." Batin Indah kesal.
"Ada apa kau datang kemari menemuiku dengan tangisan menyedihkan itu??.." Tanya Ditama.
Dengan masih terisak Indah menatap Ditama. "Aku hanya bisa mengadu kepada om atas siksaan batin yang telah ku rasakan, hiks... hiks!... Pernikahan Arka dan Kaira begitu menyakitkan bagiku dimana aku sendiri sudah mencintainya sebelum bercerai...."
"Apa maksudmu? bukankah pernikahan itu sepakat hanya sandiwara!.." Timpal Ditama dengan tatapan mengintimidasi.
Indah sontak menggeleng. "Aku sengaja berbohong untuk menghargai keputusan Arka om, bukankah om tidak menyukai Kaira maka bantulah hubunganku dengan Arka agar bisa kembali hiks... hiks!..."
"Idiiihhh si n*jis!!..." Maki Yuna geram, ia menguping pembicaraan itu diam-diam dari luar.
Ditama terkejut dengan ucapan mantan mantunya. "Setidak sukanya aku terhadap Kaira bukan berarti aku membencinya, pernikahan bukan hal main-main jika kau menyesal seharusnya jangan menanda tangani surat perceraian itu!..."
Tangisan Indah semakin menjadi membuat Ditama risih. "Pulanglah mungkin ini sudah takdir kalian! jangan membuang waktuku!.."
"Baiklah!! namun om harus bertanggung jawab dalam hal ini!..." Indah membuka jaket tebalnya memperlihatkan perut yang perlahan membesar itu. "Bagaimana dengan calon cucumu ini? apa kau tak kasihan dia akan lahir tanpa keadilan dalam hidupnya!..."
Deg!!
Mata Ditama hampir keluar melihat itu. "Apa maksudmu Indah!!..."
"Mungkin Arka tak menceritakannya namun kami berdua pernah melakukan hubungan badan sebelum bercerai! dan ini, dia harus bertanggung jawab om!.." Pekik Indah dengan tangisan yang semakin menjadi.
Tangan Ditama gemetar.
__ADS_1
"Aku butuh keadilan dalam hal ini, permisi!!..." Timpal Indah meninggalkan ruangan itu, ia berbalik dengan senyum liciknya sandiwara yang ia lakukan benar-benar terlihat nyata. "Kebahagiaanmu akan berakhir Kaira, dan Arka ia akan menjadi milikku!!..." Batinnya puas.
Indah menutup pintu ruangan itu setelahnya keluar, tampak bibirnya tersenyum bahagia.
Sebuah tangan tiba-tiba menarik rambut Indah menyeretnya ke tempat lain. "Aaaakkkhhh!!!..."
"Maksud lo apa hah? hamil!!!..." Ujar Yuna.
"Lo!!..." Pekik Indah saat mengenali wajah sahabat adik angkatnya itu, dimana mereka berdua pernah bertengkar juga waktu dulu.
Yuna mengeratkan jambakan-nya..
"Aaakkhh! sakit lepas!!..."
"Jawab dulu maksud lo apaan ngaku-ngaku hamil anak Arka di depan om Ditama!..." Tegas Yuna.
"Gak ada hubungannya sama lo, ya benar gue emang lagi hamil!! kenapa??..." Bentak Indah.
"Jangan ngadi-ngadi lo ya! gue juga tahu hubungan pernikahan lo sama Arka kayak gimana!..." Timpal Yuna.
Yuna terdiam bibirnya tak dapat bicara. "Buat apa lo ngambil foto kayak gini kalo gak buat diapa-apain!!.."
Indah tertampar dengan pertanyaan mematikan Yuna. "U-untuk jaga-jaga jika Arka lepas dari tanggung jawab seperti sekarang!! udah minggir lo berani sekali jambak orang hamil mikir!!..." Sinis Indah seraya cepat pergi dari sana.
Yuna membuang nafas panjang ia memijit pusing keningnya. "Haaaaahh, gimana ini Kai? ya Tuhan pernikahan mereka baru juga memasuki 3 hari...."
"Apa kau mengenali wanita itu??.."
Yuna terhenyak kaget saat ada yang bertanya dari belakang. "Sekretaris Sean!.."
"Ya dia kakak angkat dari Kaira sahabatku istri Arka Bryanditama..." Jawab Yuna.
Sean sedikit terkejut. "Kau wanita waktu itu??.."
"I-iya..."
__ADS_1
"Sekarang bagaimana donk?? katanya si Indah hamil anak Arka barusan dia memberitahukannya pada om Ditama.." Resah Yuna yang bingung harus berbuat apa.
Sean terdiam. "Arka tidak mungkin melakukan hal itu! tenanglah dia bukan orang sembarangan..."
"Oke aku berharap...."
...***...
Cup! cup cup cup cup cup cup....
Kaira sudah beberapa kali mendorong tubuh kekar Arka yang dari tadi terus mengganggunya memasak, memeluk tubuh itu dari belakang. "Kamu duduk dulu biarkan aku selesaikan ini..."
Cup!
Ciuman itu entah sudah berapa kali mendarat pada leher jenjang Kaira. "Sayaaaaanngg lepas!!..." Bujuk Kaira mendorong tubuh Arka kembali.
Arka hanya tersenyum menyeringai tidak menjawab apapun.
"Kau cantik sekali..."
"Thanks..." Jawab Kaira tersenyum seraya melanjutkan masaknya.
Karena tak tahan Arka sontak menarik tengkuk Kaira meraup bibir ranum itu penuh agresif dari samping. "Mmmmmmhhh!..." Kaira melepaskan ciuman. "Jangan menggodaku sekarang!.."
Arka tersenyum sinis. "Oke nanti akan ku lanjutkan..." Lengan kekarnya malah merem*s bagian bawah Kaira yang tampak kencang menggairahkan itu.
Dalam waktu bersamaan tiba-tiba handphone Arka berbunyi ia sontak menerimanya. "Ya pah???..."
"Nikahi Indah juga, tanggung jawabkan semua perbuatanmu!.." Bentak Ditama.
Arka sontak pindah tempat agar tak terdengar oleh Kaira, wajah tampan lelaki itu kini tampak berubah menjadi dingin. "Apa maksud papa? ada apalagi!.."
"Pulang!! Indah mengandung anakmu..."
Bersambung....
__ADS_1