
...~...
Apartemen Arka...
Kaira menikmati semilir angin sepoi-sepoi duduk di balkon, sementara suaminya menghabiskan waktu di ruang gym.
Drrrt drrrt drrrt!...
Kaira mencari handphone yang berdering, ia melihat siapa yang menghubunginya di hari libur. Senyum wanita itu memudar saat mengetahui siapa yang memanggil. "Indah???..."
Cukup lama Kaira mendiamkan, namun ia akhirnya memilih menerima panggilan dari kakak angkatnya itu. "Hallo?..."
"Bagaimana kabarmu di sana?.." Tanya Indah dari seberang.
Kaira merasakan ada yang aneh dengan nada bicara Indah. "Baik, ada perlu apa?..." Walaupun sudah tidak respect dengan perbuatannya, namun Kaira tetap menghargai Indah sebagai manusia.
"Kau di sana sudah sukses dengan suamimu itu, biarkan butik yang di Bandung aku kelola jangan mempercayakannya terus pada om Bram..." Ujar Indah.
Kaira mengerutkan kening. "Apa maksudnya? kau tidak ahli dalam mendesain fashion Indah, suatu waktu juga aku akan ke sana melihat perkembangan butik itu!..."
Jawaban Kaira membuat Indah tersudut. "S-sebenarnya aku membutuhkan pekerjaan sebelum persalinan nanti, papa tak menyetujui ku untuk bekerja di perusahaan lagi.."
"Lantas Novan??..." Timpal Kaira.
"Ia masih dalam masa tahanan selama 6 bulan, kecanduan narkoba..." Jawab Indah, terdengar sekali jika wanita itu menangis.
Kaira tentunya terkejut, apa kehidupan glamor kakak angkatnya ini berubah drastis?. "Kenapa papa tak menyetujui kinerja-mu lagi? bukankah kau mahir dalam hal marketing?..."
Glek...
Indah tidak mungkin membicarakan keburukannya. "Aku tak menyukai pekerjaan itu, maaf aku dulu jahat terhadapmu Kai. Tolong..... Saat ini aku membutuhkan pinjaman uang untuk persalinan." Mohon Indah dengan isak tangisnya.
Tiba-tiba lengan kekar Arka mengambil handphone Kaira, mengakhiri panggilan itu tanpa bicara sepatah kata pun.
__ADS_1
"Arka???.."
"Apa kau kasihan dengan wanita itu!..." Ujar Arka dengan tubuh bercucuran keringat habis nge-gym.
"Tidak, namun tragis saja membayangkan keadaannya. Sepertinya Indah tak berani bicara kepada mama juga papa.."
"Apa keputusanmu?..."
"Mungkin akan meminjamkan uang jika kau mengijinkan.."
Arka menghela nafas berat. "Jangan dipikirkan Kai, nanti aku yang akan bicara sama papa Rangga..."
"Oke, walaupun menjengkelkan!!..."
Arka tersenyum sinis, menatap lekat wajah cantik Kaira. Saat ia ingin mencium bibir ranumnya, wanita itu langsung mendorong dada bidang Arka. "Kenapa Kai?...."
Kaira menutup hidung mancungnya. "Aroma tubuhmu aneh sekali!..."
"Aneh dari mana?.." Timpal Arka tak terima seraya mengendus tubuhnya. "Ini wangi, bukankah parfum favorit-mu sendiri sayang??..."
Arka mematung dengan sikap istrinya, tampak ada yang aneh akhir-akhir ini. Selain Kaira sensitif, ia juga menghindarinya karena aroma aneh pada tubuh itu, yang jelas tidak bau sama sekali.
"Kemari Kai, aku ingin menciummu!..." Sengaja Arka menarik dagu istrinya.
"No! aroma tubuhmu aneh!..." Berontak Kaira tak tahan.
Cup! cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup cup!!....
"Mmmmhhh! stop!..."
Setelah puas mengecup seluruh wajah Kaira, Arka tersenyum menyeringai. "Rasakan itu....."
Belum sempat Kaira bicara, ia menepuk-nepuk dadanya berkali-kali merasakan sesuatu yang hendak keluar.
__ADS_1
Menyadari perubahan raut wajah istrinya yang seketika pucat, tentunya Arka terkejut. "Kai? ada apa? apa yang sakit?..."
Tanpa menjawab pertanyaan Arka, Kaira seketika berlari ke kamar mandi yang dekat di sana. Tentunya Arka panik ikut menyusul.
"Hoeek!.. Hoeekk!.. Hoeekk!..." Kaira memuntahkan isi perutnya.
Arka seketika mengikat rambut panjang Kaira, agar tak terkena muntahan. "Hoek!... Hoeekk.. Hoeeek!..."
"Jangan mendekatiku dulu ku mohon..." Lirih Kaira.
"Iya iya.." Timpal Arka keluar dari kamar mandi menatap istrinya dari luar.
Pikiran Arka menerawang kemana-mana akan perubahan pada diri istrinya. "Mungkinkah?...."
Setelah selesai, Arka mengangkat tubuh Kaira meletakkannya di atas kursi. "Apa mendingan?..."
"Sedikit..." Balas Kaira terengah-engah, sambil meminum air yang diberikan Arka.
"Kita ke rumah sakit sekarang, wajahmu pucat sekali Kai..." Timpal Arka khawatir, ia segera mengambil kunci mobilnya.
"Ini buk..."
"Shuuuuutt! diam..." Arka mengangkat tubuh Kaira keluar dari apartemennya menuju tempat parkiran, setelah sampai Arka menancap gas menuju tempat tujuan.
...~...
Di rumah sakit.
Arka menggigit jari telunjuknya saat melihat Kaira sedang di periksa dokter, dokter wanita yang memeriksa Kaira terus bertanya gejala apa saja yang dialami Kaira akhir-akhir ini.
Selang beberapa menit, pemeriksaan pun selesai. Arka dan Kaira duduk berhadapan dengan Dokter.
"Apa ada sesuatu Dok?.." Tanya Arka dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
Dokter itu tersenyum menyeringai. "Hal ini wajar tuan, selamat! istrimu nona Kaira sedang hamil. Usia kandungannya baru memasuki dua minggu..."
Bersambung....