
"Kritis!!!..." Ulang Kaira membulatkan mata.
"Iya Kai..." Timpal Rangga.
"Namun Arka tidak memberi kabar kepadaku ma, pa..." Dilema Kaira, ia teringat dulu juga Arka pernah lost kontak dengannya saat berjauhan.
"Tidak mungkin, dia memberitahu papa untuk datang ke sini karena handphone-mu katanya tak aktif." Ujar mama Luna
Kaira tersadar, ucapan Luna ada benarnya. Mungkin karena ia ketiduran jadi tidak tahu. "Masuk dulu ke dalam.."
Kedua orang tua itu masuk ke dalam apartemen, duduk di kursi ruang tengah. Kaira memilih mencuci muka dulu, setelahnya ia kembali ke ruang tengah melihat handphone.
Benar saja sebuah pesan masuk dari Arka terkirim 4 jam yang lalu.
"Kaira sayang, kukira aku bisa pulang malam ini, ternyata papa lebih parah dari yang dibayangkan. Dokter Adnan menyuruh perawatan papa pindah ke Amerika, di sana ada kakaknya yang ahli dalam hal ini.."
"Aku tidak bisa menemanimu, maka dari itu aku menyuruh mama papa datang menjemput dari Jakarta menjaga dirimu juga anak kita. Jika keadaannya membaik, mungkin sesekali aku akan pulang menengok kalian. See you sweetie!..." Isi pesan Arka.
Kaira membuang nafas panjang, berat sekali rasanya menghadapi situasi saat ini. "Baiklah.." Lirihnya membalas pesan Arka.
Luna berdiri menghampiri putrinya. "Sebutkan barang-barang apa saja yang mau kamu bawa, biarkan mama yang menyiapkan..."
Kaira mengangguk, ia menyebutkannya. Mama Luna langsung masuk kamar menyiapkan.
Sambil menunggu Luna, Kaira duduk di samping sang ayah.
Rangga dapat menyadari raut wajah putrinya yang murung tak seperti biasa. "Jangan banyak pikiran kamu sedang mengandung nak, di Amerika mereka baik-baik saja.."
"Apa harus pulang pah?..."
"Tentu! mama, papa dan juga Arka tidak mungkin membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini. Jangan membantah!.." Timpal Rangga.
__ADS_1
"Baiklah..." Pasrah Kaira.
Tidak lama mama Luna keluar dari kamar dengan dua buah koper di tangan. "Sudah siap, tidak ada yang ketinggalan, mari kita pulang!..."
"Oke kalau begitu.." Ujar Rangga yang berdiri dari duduknya.
Kaira menatap sekeliling apartemen, Luna yang menyadari suasana hati putrinya ia sontak merangkul Kaira. "Ayo sayang kita pulang dulu..."
"Hmmm..."
Rangga membawa dua koper itu, sementara Luna menggandeng Kaira. Mereka pun berlalu pergi meninggalkan apartemen menuju Jakarta...
...***...
Pukul 23:15 malam...
Yuna mengerjapkan mata, ia melihat Sean yang masih fokus dengan layar komputernya di meja kerja, sementara malam semakin larut. "Apa masih banyak?..."
Pekerjaannya sedikit tertunda, karena tadi ia menyiapkan penerbangan Arka ke Amerika.
"Tidurlah! kenapa malah bangun??.." Tanya Sean saat Yuna malah menghampirinya.
"Enggak, apa mau ku buatkan kopi?.."
"Boleh..."
Yuna keluar kamar, ia menuju dapur membuat kopi di sana. Setelahnya memberikan kepada Sean. "Ini, awas panas.."
"Terimakasih.."
"Hmmm.." Balas Yuna kembali melemparkan tubuhnya ke atas kasur, untuk tidur duluan.
__ADS_1
Sean tersenyum tipis, ia kembali menyelesaikan pekerjaannya. Setelah selesai lelaki itu ikut naik ke atas kasur, memeluk tubuh Yuna dari samping, mencium leher jenjangnya dari belakang. "Good night!...."
~
Keesokan paginya.
Dengan perlahan Yuna mengangkat lengan kekar Sean yang memeluknya semalaman, ia berdiri menuju kamar mandi untuk cuci muka. Setelahnya, ia ke dapur menyiapkan sarapan..
Ting tong ting tong!...
Yuna menoleh ke arah pintu, wanita itu melepaskan irisan dagingnya. "Siapa? ini masih pagi..."
Ting tong ting tong...
Kaki jenjang Yuna menghampiri pintu ia membukanya, terlihat seorang wanita yang sudah familiar bagi Yuna. Ya dia Alia, beberapa bulan yang lalu tak kelihatan dan sekarang muncul kembali.
Yuna menatap lekat wajah itu dengan tatapan datar, berat sekali bibirnya untuk bicara.
"Mana Sean??..." Mulai Alia.
Tidak ada jawaban dari Yuna, ia tetap diam dengan mata tajamnya yang tak berkedip menatap dingin Alia. Sungguh mood baiknya berubah menjadi buruk
"Kau tidak mendengar, hah? aku bertanya dimana Sean!..." Timpal Alia dengan nada tinggi, jengkel sekali wanita itu dengan tatapan dingin Yuna.
"Apa kau bisu!!..." Lanjutnya lagi.
Yuna menahan leher Alia saat wanita itu hendak memaksakan diri untuk masuk apartemen. "Aakkh!..." Ringis-nya.
"Kau sudah tahu sendiri kan?, dia sudah memiliki seorang istri!..." Datar Yuna penuh penekanan.
Terlihat senyum sinis dari ujung bibir Alia. "Aku tahu, tapi aku tidak membutuhkan istrinya yang aku butuhkan suaminya!..."
__ADS_1