
Yuna terkejut matanya hampir keluar saat Sean mencium bibirnya dengan tiba-tiba, rasa kantuknya seketika hilang Yuna benar-benar mematung bahkan tak berkedip sama sekali. "A-apa ini? apakah mimpi!!..." Batin Yuna.
Sean semakin memperdalam ciuman me*umat bibir ranum Yuna atas dan bawah bergantian, terasa lembut dan manis sekali walaupun wanita itu masih kaku.
Deg!!..
BUKH!!!
Tanpa pikir panjang Yuna menendang perut Sean hingga ciuman itu terlepas, ia memasang badan layaknya akan berkelahi melawan musuh.
"Akh!!!..." Rintih Sean yang mundur beberapa langkah akan tendangan Yuna.
"Maaf apa maksudnya ya pak! tiba-tiba mencium bibirku tanpa izin!..." Ujar Yuna merasa tak terima juga tak menduga. Aneh sekali pula pikirnya?...
Lengan Sean memegang perut bekas tendangan itu, ia menatap lekat Yuna. Terlihat sekali jika bibirnya masih basah akan ulah Sean. "Apa itu panggilan PAK? hahh!!..."
Melihat Sean yang merintih kesakitan, Yuna merasa bersalah mana tendangannya keras lagi. Apa perusahaan ayahnya di Jakarta akan bangkrut karena hal ini?, bisa jadi Sean memutuskan untuk mengakhiri kerjasama gara-gara tendangan.
"Maaf aku refleks...." Lirih Yuna yang akhirnya menghampiri Sean ia tak tega membantu lelaki itu duduk di kursi.
"Apa kau ingin aku mati??..."
"Aku tak sengaja melakukannya! lagian tadi kamu.... emmm kamu ngapain menciumku sembarangan!.." Timpal Yuna. "Aneh sekali sangat tak terduga apa kau mabuk???..."
Tidak ada jawaban dari Sean, ia kebingungan. Apa gadis ini benar-benar tidak peka apa yang terjadi kepadanya. "Lupakanlah!..."
"Lupakan katamu? setelah membuat pikiranku merasa dilecehkan atasannya sendiri? apalagi diantara kita tidak ada hubungan!..." Batin Yuna menjerit, ciuman Sean masih terasa hangat pada bibirnya.
"Aku akan ke kamar sekarang, permisi!..." Ujar Yuna yang memilih pergi, namun lengan Sean menahannya.
"Sebentar!..."
__ADS_1
Sean meraih wajah cantik Yuna, jarinya mengusap bibir ranum bekas lum*tannya itu. Yuna seketika terdiam, entah kenapa jantungnya malah berdebar kencang.
Dalam diri Yuna timbul sensasi lain saat jari Sean mengusap bibirnya bekas ******* itu. "Lain kali lebih pekalah!..."
Deg!
Yuna sontak berdiri hawa tubuhnya terasa panas, tanpa mempedulikan Sean ia sontak masuk kamar dan menguncinya. "Perasaan apa ini Yun? kenapa suasananya sekarang beda!.."
Sean tersenyum menyeringai, Yuna mampu membuat lelaki dingin ini mabuk kepayang padahal Yuna tak melakukan apapun. "Oh God, bibirnya manis sekali!..."
Sementara itu, Yuna menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Pikirannya menerawang kemana-mana. "Apa bibirku saat tidur terasa hangat gara-gara Sean juga?..." Seketika Yuna menutup bibirnya. "Ya ampun jika iya apa maksudnya coba! masa iya harus menceritakan hal ini sama Kaira dan Sindy??.."
"Ah tidak-tidak!!..."
Pipi Yuna terasa hangat mungkin karena merona, ia bingung harus bagaimana, pasti berinteraksi dengan Sean sekarang akan canggung karena ciuman itu. "Lo pasti bisa Yuna, ayo lupakan seperti apa yang ia katakan!..."
...***...
06:17 pagi...
Sesampainya...
"Gandeng tanganku Kai!...." Suruh Arka saat keluar dari mobil.
Kaira menggeleng. "Pernikahan kita belum digelar juga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu, lain kali saja ya aku masih canggung dilihat orang-orang perusahaan..."
"Kita memang sudah menikah, kenapa malah mempedulikan orang lain biarkan semuanya tahu bahwa kau milikku Kaira!..."
"Aku mohon beri waktu jika mereka mengetahui pasti tidak lepas membicarakan kita itu pasti akan sampai ke telinga papa Ditama..."
Arka terdiam. "Oke, untuk sementara waktu saja ingat itu!..."
__ADS_1
"Iya..."
Sebelum keluar dari mobil, Arka mencium bibir lembut Kaira. Saat ciuman itu semakin memanas Kaira sontak mendorong dada suaminya takut kebablasan. "Sudah jangan lama-lama..."
"Oke...."
Kaira dan Arka keluar dari mobil, Arka berjalan duluan sementara Kaira nyusul di belakangnya.
Terlihat di lantai utama klien dari Jepang sudah tiba ia sedang berbincang dengan Ditama, di sana juga sudah ada Sean.
"Ini putraku!..." Ujar Ditama.
Arka bersalaman dengan klien itu sekaligus memperkenalkan diri.
Klien dari Jepang yang bernama Yuza tak berhenti menatap lekat wajah cantik Kaira yang berdiri di belakang Arka. "Siapa dia apa istrimu tuan Arka?..."
Arka sekilas tersenyum, ia sontak merangkul pinggang Kaira. "Ben!......"
"Bukan dia hanya putri sahabatku yang kebetulan dekat dengan Arka!!.." Potong Ditama.
Senyum Arka seketika memudar, Kaira terdiam mendapat pengakuan dari papa mertuanya itu. Tentu sakit sekali rasanya namun bisa apa dadanya terasa sesak.
"Padahal cocok sekali ya..." Timpal Yuza menyayangkan.
Ditama hanya terkekeh. "Baiklah kita akan membicarakan proyek ini di lantai 5, ayo Arka!..."
Perlahan Kaira menepis tangan kekar Arka dari pinggangnya, terlihat tatapan mata Arka berubah menjadi dingin.
"Pergilah..." Bisik Kaira.
Ditama menarik tangan Arka untuk menyusul langkah Yuza di depan, seketika Arka menepis tangan papanya itu lalu berjalan duluan. "Aku bisa sendiri!..."
__ADS_1
"Arka!!!..."
Bersambung.....