
...****************...
Drap
Drap
Drap
Langkah kaki yang terdengar keras dan cepat itu membuat siapa pun di depan mereka langsung menyingkir, "Bagaimana keadaan pasien?".
"Dari laporan ambulance tekanan darah sangat rendah, luka tusuk sedalam 5 centi, luka di kepala, dan patah tulang pinggul".
"Pasien dua mengalami syok hipovolemik, terdapat patah tulang iga yang menusuk paru-parunya".
"Dokter bedah aktif apa hanya aku?".
"Ada dokter Tata dan Dokter Katrina".
"Panggil Katrina, Tata baru saja shift malam".
"Baik Dok!" salah seorang perawat itu langsung berbalik dan berlari menuju ruangan dokter katrina.
"Alf siapkan ruang operasi".
"Baik Dok" Perawat berbadan kecil itu langsung berjalan cepat menuju tempat yang dokter itu katakan.
Setelah beberapa jam operasi pada dua pasien itu berlangsung, akhirnya dua dokter itu keluar dengan salah satu dokter berantakan dimana darah berada hampir diseluruh pakaian operasinya.
"Keluarga Tuan Faris?" panggil dokter perempuan dengan darah dimana-mana itu.
"Saya istrinya, bagaimana keadaannya dok?"
Dokter itu tersenyum, "Suami anda selamat, tapi masih perlu dipantau karena keadaannya yang masih belum stabil. Sementara kami akan menempatkan Tuan Faris di ICU guna memantau keadaannya. Jika anda masih ingin bertanya bisa di ruangan saya" jelas dokter perempuan itu seraya menunduk, "Saya permisi" pamitnya sambil memakai jas dokternya.
"Wah hebat juga kau bisa menyelamatkan nyawa yang mustahil itu ya, Aly?" celetuk dokter cantik, sambil menatap Dokter yang dipanggil Aly tadi dengan tatapan tidak suka.
"Aku hanya menjalankan tugasku, kau urus saja pasienmu, Katrina" balas Aly seraya meninggalkan Katrina yang kesal dengan jawaban acuh Aly.
Diruangannya Aly menatap sebuah kalung dan foto sampai terbengong, "Jadi pahlawan lagi hm?" suara seorang laki-laki membangunkan Aly dari kegiatan melamunnya.
Aly POV
Aku menatap tajam pria yang bersandar di ambang pintu ruangan ku. Jika saja dia bukan teman ku, sudah ku hapuskan dia dari dunia ini.
Dia berjalan dan duduk di sofa ruanganku, "Lys, dengar kau jan…"
"Jika kau kemari hanya untuk berbicara seperti itu lebih baik pergi saja" potong ku sambil berjalan meninggalkan dia.
Ah iya perkenalkan nama ku Alysa Mustika Arikinan. Biasanya aku di panggil Aly atau Lysa. Seperti yang kalian lihat, aku seorang dokter bedah dan hebatnya aku baru menginjak umur 20 saat aku sudah bekerja sebagai dokter seperti sekarang. Kini aku tinggal sendiri di kota yang bisa dibilang sedikit terpencil. Ini dikarenakan aku mengambil tugas sebagai dokter bedah cadangan di rumah sakit ini. Tadinya ada 4 dokter bedah di rumah sakit ini, tetapi sekarang hanya ada 3. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Adik pertamaku masih kuliah dia hanya berbeda satu tahun dariku. Dan yang satunya baru berusia 10 tahun.
Dokter berbadan cukup besar dengan kacamata tadi bernama Arif. Dia adalah sahabat sekaligus teman satu kampus ku dulu di luar negeri. Tapi seperti yang kalian lihat, dia sedikit menyebalkan.
"Oh, lihat siapa yang ada disini?" celetukkan seorang perempuan berkerudung biru lengkap dengan stetoskop yang di kalungkan di lehernya, bersama seorang perempuan berpakaian suster dengan rambut di cepol satu.
"Wah ku kira ada Zombie di rumah sakit ini" timpal suster itu yang di akhir tawa dan di ikuti dokter bertubuh sedikit tambun itu.
Aku hanya melihat mereka datar, "Puas menghinaku?".
__ADS_1
" Tapi memang wajahmu terlihat mengerikan" aku menatap tajam perawat yang bersama ku dengan tatapan tajam dan menusuk, "Kenapa?"
"Kau itu berniat membelaku atau menjatuhkan ku?"
Suster itu tertawa kecil, "Aku netral aja deh, daripada punya masalah sama kamu"
Mendengar jawabannya, dua orang di depan ku juga ikut tertawa puas. Ah iya Dokter tambun itu bernama Ayda, dia adalah teman baik ku di rumah sakit ini. Di sebelahnya adalab Iza, dia Suster andalan Ayda dan juga sahabatnya sejak SMA, entah bagaimana bisa mereka terus bersama sampai sekarang. Si kecil dan mini di sampingku ini Suster andalan ku, Alfi namanya. Walau begitu kami bisa dibilang sudah seperti sahabat yang mengerti satu sama lain.
Setelah puas mengejek diriku, kami berpisah karena berbeda ruangan kontrol pasien.
"Aly, kau ingin pergi ke ruangan sekarang?" tanya Alfi sambil melihat data pasien kami.
Aku yang tadi sedang mengecek handphone menjadi menatapnya bingung, "Ho'oh, paling abis itu langsung pulang juga. Ada apa?"
"Sepertinya kau harus terus memantau handphone malam ini, pasien yang bernama Bakhtiar sedikit meresahkan dari pagi tadi" jelas Alfi sambil menyerahkan data pasien tadi.
Aku mengangguk dan memberikan Alfi data-data tersebut, "Katakan pada residen yang jaga untuk tetap pantau dia" Alfi mengangguk dengan semua perkataanku.
Baru saja aku menidurkan kepalaku di meja ruanganku, pintu terbuka dengan paksa. Aku berdecih pelan dan menatap Ayda yang tersenyum manis.
"Tau gak tadi aku ngeliat cowok keren banget, ditambah dia keliatannya seumuran sama aku, terus…" aku tidam mendengarkan semua perkataan Ayda dan memilih memejamkan mata, "Ditambah dia keknya…Ly? Astaga Aly, kamu gak dengerin aku ya?!"
Aku hanya bergumam dan melanjutkan tidurku yang tadi terganggu, "Aly!" teriak Ayda tepat di telingaku dan membuatku terkejut, sehingga…
Bugh.
Aly pov end.
Klek.
"Lys, kita di panggil…kalian sedang apa?" Arif terdiam mematung sambil memegang handle pintu dan melihat dua manusia bergender perempuan itu seperti sedang adu gulat.
"Aku kan cuma mengagetkan dirimu saja!"
"Ya Hyang Widi, Lysa Ayda please jangan kek anak kecil"
"Diam!"
"Dah" Ujar Arif sambil melewati dua perempuan itu dan mengambil Ice Cream dari dalam kulkas Aly, "Atasan manggil kita, katanya ada hal penting" lanjutnya sambil menyekop Ice Cream kedalam mulutnya.
"Ice Cream ku!"
"Oh maaf, Ice creamnya manggilin sih"
"Arif!"
...****************...
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
__ADS_1
...****************...
......To Be Continue......