Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 14


__ADS_3

...****************...


"Aku tidak pantas dipanggil Dokter" Anji menahan tangis sesalnya.


"Sudah ku katakan! Kau adalah Dokter! Jadilah profesional! Ini bukan uji coba tapi kenyataan!" kesal Aly ingin mendekati Anji lagi.


Tapi Arif dengan sigap menarik Aly kedalam pelukannya, "Kau sudah melukai dirimu sendiri, jangan buat darah berharga itu jatuh ke tanah dengan sia-sia" bisik Arif sambil menepuk pelan bahu serta kepala Aly.


Aly yang menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arif hanya terdiam dan mengatur nafasnya secara perlahan. Merasa dirinya sudah tenang, Aly melepaskan pelukan itu dan duduk di sebelah Anji.


"Kau sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang Dokter" ujar Aly yang memberikan semangat pada Anji dengan menepuk bahunya pelan.


Anji menatap Aly yang sedang menatap lurus ke depan, lalu kembali menunduk, "Ini bukan berarti aku menjadi seorang pembunuh kan?"


Aly menggeleng, "Kita hanya Dokter yang membantu mereka kembali sehat, bukan Tuhan yang dapat mengambil nyawa pasien" Aly menatap Anji yang tengah menatap dirinya juga, "Dengan kata lain Dokter hanya membantu dan Tuhan lah yang memutuskan. Kau mengerti kan?"


Anji mengangguk lemah lalu menggenggam tangan Aly yang sudah terbalut perban karena terluka tadi, "Terimakasih Dokter Aly, kau memberiku semangat dan motivasi untuk kembali" ujarnya sambil tersenyum.


Melihat senyum Anji, Aly pun ikut tersenyum. Anji yang melihat senyuman Aly terdiam terpaku.


"Kau terlalu berlebihan" celetuk Aly sambil terkekeh yang malah membuat Anji semakin terpana.


"Ekhem, permisi. Saya juga perlu motivasi dan semangat dari Dokter Aly" celetuk seseorang dari arah samping Aly.


Aly menatapnya dengan malas dan berdiri, "Belajar lah untuk lebih profesional lagi Dokter Anji, saya permisi" Aly langsung pergi keluar tenda Darurat di susul Tyno dibelakangnya.


"Hei! Kenapa kau malah meninggalkan ku?" seru Tyno yang masih mengejar Aly dan kemudian berhasil menangkap tangan Aly,  "Aku sedang berbicara denganmu"


"Apa mau mu sekarang?" tanya Aly malas sambil menarik tangannya dari genggaman Tyno.


Tyno bersidekap dan menatap dalam Aly, "Terimakasih Dokter Aly, kau memberiku semangat dan motivasi untuk kembali" ucapnya yang menirukan apa yang Anji katakan tadi saat bersama Aly.


Aly mendelik terkejut, "Kau menguping?!"


"Sejak awal" ucapnya tanpa nada sesal bahkan dia mengendikkan bahunya, "Bukannya itu fungsi dari telinga?"


"Kau! Benar-benar akan ku laporkan kau pada Kapten Divisi umum!" Aly melihat sekeliling dan berjalan menghampiri seorang Tentara yang sedang memperhatikan kinerja Tentara lainnya, "Hey kau! Kemari!"


"Ya Dokter?" Tentara itu menghampiri Aly. Baru akan memberi hormat pada Tyno yang berada di belakang Aly, Tyno menggeleng agar tidak memberi hormat. Merasa aneh Tentara itu memberikan isyarat dengan kepalanya, tapi Tyno tetap menggeleng.


"Dimana Kapten Divisi Umum, umm…" Aly berusaha melihat nametag Tentara itu yang tertempel di baju Tentaranya, "Afrizal?"


Afrizal menaikan salah satu alisnya karena bingung, "Tap…" belum sempat dia meneruskan kalimatnya, Tyno memberitahu dengan isyarat jika Aly belum tau tentang Pangkatnya. Tapi Afrizal masih bingung dengan isyarat itu.


Aly menengok belakang ke arah Tyno, "Jangan pedulikan dia. Dia sakit jiwa!"


Afrizal menatap Aly dan membuka mulutnya yang mulai mengerti keadaan Aly dan Tyno, "Tapi orang yang dibelakang anda itu…"


"Sudah kubilang, abaikan saja Pria gila itu! Dia menggangguku, makannya aku ingin melaporkannya. Jadi dimana Kapten mu?!" desak Aly dengan kesal.


"Orang itu ada dibelakang anda" ujar Afrizal dengan senyum simpul.


Aly buru-buru memutar tubuhnya dan menggeser kasar tubuh Tyno, "Dimana?"


Kekehan Afrizal terdengar di telinga Aly, "Kau mempermainkan ku?!"


"Tidak. Dia ada di samping anda"


Aly menatap Tyno yang berada di sampingnya. Sedangkan yang ditatap hanya menatap Aly heran.


"Hah?! Kau bercanda?! Dimana Kapten mu?!" tanya Aly dengan kesal yang masih belum percaya perkataan Afrizal.


Afrizal menunjuk Tyno dengan jempolnya,  "Dia Kapten Pusat sekaligus Kapten Divisi Umum disini" jelas Afrizal sambil tersenyum.


Aly menganga tidak percaya. Kedua mata Aly melebar saat Tyno memasang balok pangkat di bahunya serta memakai baretnya.


"Jadi bagaimana? Apa aku sudah menjadi semangat dan motivasi mu sekarang?" goda Tyno yang masih menyinggung Anji.


Aly tidak menjawab. Dia kesal. Dia menghentakkan kaki kirinya dan menggembungkan kedua pipinya. Dengan kasar dia menggosok kedua pipinya, lalu melesat pergi. Tyno yang melihat itu tertawa pelan karena dia seperti mendengar suara anak kucing kesal di dalam kepalanya.


"Kau sudah melupakan hal itu?" tanya Afrizal hati-hati.


Tyno yang tadi tertawa langsung merubah wajahnya menjadi serius, "Aku sudah melupakan Fina, dan perkataan mu barusan seperti sedang menyamakan dia dengan ****** sialan itu?" tanya Tyno dingin.


Afrizal meneguk ludahnya sendiri, "Aku tidak menyamakan Dokter Aly dengan makhluk rendahan itu…aku hanya…" jelas Afrizal sambil melirik Tyno yang menatapnya seperti hewan buas. Merasa atmosfer di tempatnya mulai menggelap Afrizal memberi hormat lalu pergi dari sana.


...~...


Jakarta, 15.00


Seorang pemuda sedang menatap handphonenya sambil tersenyum.


"Astaga aku tidak sabar bertemu dengannya!" serunya yang sangat antusias.


Dia tidak peduli jika dirinya menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, wajah eropa, bahasa Latin dan dua bodyguardnya yang terlihat sangat mencolok.


"Tuan" seorang pria bertubuh sedang menghampiri pemuda tadi, "Nona muda Alyssa tidak ada di Jakarta"

__ADS_1


"Apa?!"


Pria itu menutup matanya sesaat dan mengulangi perkataannya barusan.


"Dimana dia sekarang!?"


"Lombok, tempat bencana gempa dan Tsunami"


Pemuda itu melemparkan handphonenya kearah pria itu, "Bodoh! Kau ke sana dan bawa dia kepada ku, atau…"


"Baik tuan!" pria itu langsung pergi dari hadapan pemuda itu.


Pemuda itu mengatur nafasnya, "Ambilkan aku minum!"


Sebuah botol terpampang di depan wajahnya. Tapi saat dia akan mengambil botol itu, orang yang berniat memberikan padanya menariknya kembali. Merasa di permainkan, pemuda itu mendongak. Bukan bodyguard atau butrel yang dia bawa, tapi seorang pria dengan kacamata hitam bertengger di ujung hidungnya membuat mata hijaunya terlihat dari balik kacamata hitam itu.


"Hahaha, lama tidak berjumpa ya. Sebastian Garvain" ujar pria itu sambil tersenyum licik.


Sebastian merinding sesaat saat dia menatap mata hijau itu, "Haha, cepat sekali ya Iyas" ujarnya dengan kikuk.


"Mau tahu?" Iyas menarik wajah Sebastian kencang, "Karena kami Arikinan!" tegasnya sambil tetap tersenyum manis namun terdapat atmosfer mengerikan disana.


Dua bodyguard Sebastian berdiri tidak berdaya, karena masing-masing dari mereka terdapat 2 orang dengan senjata masing-masing. Seorang bertopeng singa menyodorkan pedang kecil dan seorang bertopeng elang menodongkan pistol tepat di belakang mereka.


Purwokerto, 15.30


"Sudah ketemu?" tanya Enda pada Santi yang baru saja memberikan laporan.


"Iya Nyonya"


Enda tersenyum lega, "Bawa dia kemari, aku yang akan mengajarkan padanya untuk lebih sopan nanti" titahnya yang langsung di kerjakan Santi. Enda memandang langit biru kota Purwokerto dari lantai dua rumahnya.


"Setelah ini hanya akan ada luka" gumamnya sambil mengambil sebuah kartu tarot dari tangannya. Melihat gambar pada kartu itu, Enda menyerit dalam dan kembali mengacak kartu-kartu itu dan hasilnya tetap sama. Merasa tidak beres Enda kembali mengacak kartu-kartu itu dan mengambil 6 buah kartu secara random.


"Apa-apaan ini?" gumam Enda yang sekarang terasa lebih berat, "Semuanya Mayor Arcana!" sentaknya sambil mengambil salah satu kartu, "La Maison Dieu, sudah keluar 3 kali"


"Nyonya" panggil Santi yang berhasil membuat dirinya tersentak membuat tumpukan kartu di atas meja berhamburan, "Tuan Atha dan Monty berada dibawah sekarang" jelas Santi yang memberikan laporan.


Enda masih terdiam dan berdiri, "Buatkan teh, dan bawakan cemilan" titah Enda yang langsung melenggang pergi, 'Kedepannya ada sesuatu yang menarik akan terjadi' pikir Enda sambil tersenyum bahagia.


...~...


Lombok, 18.00


Cecil berjalan menuju tenda pemeriksaan, dan tak sengaja berpapasan dengan Ekgita yang juga baru akan masuk kedalam tenda pemeriksaan.


"Cecil?"


Cecil menatap heran Ekgita yang seperti terkejut, "Kenapa? Gak boleh aku deket sama Adik Ipar?" tanya Cecil dengan wajah polos.


Ekgita ingin menjawab tapi dia juga enggan membahasnya lagi. Ekgita hanya menggeleng lalu tersenyum palsu, "Tidak, Kakak boleh melakukan apa yang Kakak mau"


Mendengar kata Kakak dari mulut Ekgita, membuat mata Cecil sedikit berkaca-kaca, "Nah karena kamu disini. Bantu aku cek kesehatan para Tentara ya" ujar Cecil yang berhasil membuat Ekgita membuka mulutnya.


Tak berselang lama Bayu dan Miko masuk kedalam tenda pemeriksaan.


"Kebetulan sekali!" Seru Cecil yang langsung mendekati dan merangkul lengan Bayu, "Ekgi kau periksa kesehatan Miko ya" ujarnya sambil melenggang pergi menuju sisi tenda pemeriksaan lainnya.


Ekgita terdiam dan menatap kepergian Cecil dengan kesal, "Mari…"


"Saya tidak butuh untuk di periksa" ucap Miko yang memotong perkataan Ekgita.


"Maaf tapi ini sudah tugas saya" ujar Ekgita datar sambil mendorong Miko ke ranjang lipat di belakang Miko.


Bayu menatap gerak gerik Ekgita dan Miko dengan mengintip dari tirai, "Sayang, apa gapapa kita biarin mereka berdua? You know lah, mereka kan…lagi kurang baik" tanya Bayu pada Cecil yang juga ikut mengintip.


"Umm biarkan mereka saling meluruskan masalah mereka masing-masing. Lagian mereka cuma masih gengsi buat saling minta maaf" jelas Cecil yang menarik Bayu ke ranjang.


"Sekarang diam dan perhatikan saja!" ujar Ekgita tegas.


Miko menatap wanita itu dengan tatapan kosong tanpa ada ekspresi datar. Selama pemeriksaan tidak ada satu kata pun terucap dari keduanya. Ekgita masih sibuk mengecek tekanan darah dan jantung Miko.


"Apa kau membenci ku?" tanya Miko yang akhirnya memecahkan keheningan diantara mereka, "Aku akui aku salah. Meninggalkan mu disaat hari ba…"


"Diam. Kau tahu kau salah, tapi apa kau ada usaha untuk menemuiku menjelaskan apa yang terjadi?"


"Tapi kau juga melakukan hal yang sama bukan?"


Ekgita menarik nafas dengan rakus dan menghembuskannya dengan berat. Tak ada jawaban darinya. Ekgita memilih diam sambil membereskan peralatannya.


"Tugas saya selesai. Saya permisi" celetuk Ekgita sambil melengos meninggalkan Miko.


Tapi Miko mencegahnya dengan menahan tangan Ekgita, "Dengarkan aku dulu", Miko berdiri dan menatap Ekgita dalam, "Aku mencintai mu. Aku meninggalkan mu karena aku harus menyelesaikan masalahku…Aku koma selama 2 bulan Gi" ujar Miko lirih dan menunduk.


Ekgita yang mendengar penjelasan itu hanya bergeming. Sorot matanya mengisyaratkan kebingungan. Ekgita menarik tangannya dari cengkraman Miko dan menatap Miko tajam.


"Apa maksudmu? Koma?" tanya Ekgita dengan nada bergetar.

__ADS_1


Miko mendekati Ekgita dan menyentuh kedua bahunya, "Aku menghilang karena aku koma, sayang. Reverse menyerangku dan hampir membunuhku saat aku ke Jakarta. Jika Tyno tidak datang…entah aku masih bisa hidup atau tidak" jelas Miko yang berkaca-kqca, "Please trust me and forgive me. I know aku salah, saat aku sadar dan berlari ketempat mu. I'm late" lanjutnya sambil memeluk Ekgita erat.


Ekgita melepaskan pelukan itu, "Kembalilah bekerja" titahnya dengan tatapan kosong.


Miko ingin membantah tapi seseorang berdekhem, "Kalian sudah selesai bicara?" ujar orang itu sambil bergantian menatap mereka, "Kalo masih sibuk say…"


"Ada apa Bara?"


Bara menatap Miko dingin, "Kapten manggil"


Miko ingin protes tetapi iru perintah Tyno, "Ayo"


Setelah kepergian Miko dan tidak melihat bayangannya lagi, tubuh Ekgita terduduk lemas diatas tanah. Air mata Ekgita perlahan menetes, "Hal besar seperti ini, kau rahasia kan?" gumam Ekgita yang kemudian cepat-cepat menghapus air matanya dan meninggalkan tenda darurat. Saat baru melangkahkan kakinya keluar tenda, Ekgita tidak sengaja hampir menabrak seseorang, "Dokter Aly? Kenapa kau terlihat terburu-buru?"


"Aku lupa jika harus mengecek obat-obatan" jawab Aly dengan tatapan khawatir.


Ekgita terkekeh pelan, "Bagaimana jika aku ikut?" tawar Ekgita yang membuat mata Aly berbinar.


"Tentu"


Mereka berjalan bersebelahan, dan tanpa disadari empat pasang mata menatap mereka. Satu menatap mereka sendu dan satu lagi menatap mereka penuh keheranan.


"Ayo pergi Bara" titah Miko yang membuat Bara berhenti menatap dua wanita itu.


"Kau tahu. sedang beredar gosip tentang dirimu di kalangan Militer" celetuk Ekgita memulai topik pembicaraan mereka saat perjalanan menuju Tenda obat-obatan ringan yang merupakan cafetaria juga untuk para Dokter. Tenda obat yang merupakan cafetaria hanya berisikan obat luar dan yamg berbentuk botolan, sedangkan obat penting berada di medicube.


"Kok mengerikan ya. Emang gosip apa?" tanya Aly yang memang bingung, "Perasaan aku sama saja dengan Dokter lainnya"


Ekgita menggelemg pelan, "Tentang kau dan Kapten Tyno" jelas Ekgita dengan wajah usil.


Aly menganga tidak percaya, "Jadi dia beneran seorang Kapten?" gumamnya sambil memukul kepalanya dengan clipboard di pelukannya walau dia memukulnya pelan tetapi tetap terasa sakit.


...~...


Lombok, 18.45


Tyno yang baru saja memerintahkan bawahannya untuk membersihkan sisa gempa. Tiba-tiba merasakan sebuah getaran besar dari bawah tanah.


"Semuanya, bantu para pengungsi untuk tetap tenang dan menuju daerah lebih tinggi" seru Tyno memberikan perintah pada bawahannya.


Tapi siapa sangka, kekuatan gempa menjadi lebih besar dan membuat para pengungsi dan pasien berlarian keluar. Tyno langsung masuk ke tenda pasien dan mengevakuasi para pasien. Sedangkan Miko membantu para Dokter di tenda darurat.


"Semuanya cepat! Cari tempat yang lebih tinggi!" seru Tyno yang berusaha tenang agar para pengungsi tidak terlalu panik.


Para tim medis dibantu oleh tim relawan dan tim Tentara segera membawa pasien yang kondisinya baik ke tempat yang lebih tinggi. Alfi yang sedang memapah seorang Nenek tidak tahu jika sebuah rak obat-obatan akan terjatuh tepat padanya.


Brakk.


Alfi menatap David terkejut, "David?!" serunya saat melihat David menahan rak tersebut.


"Cepat!" teriak David yang langsung dilakukan oleh Alfi.


Gempa belum juga reda, Tyno berputar menatap pasien. Dokter dan Relawan yang melintasi di depannya. Lelaki itu tengah mencari Aly ditengah kekacauan. Padahal dia melihat Arif yang membantu Ibu Lisa dan David yang menggendong Lisa.


"Dimana dia?" gumam Tyno sambil masih berputar.


"Sepertinya aku tahu dimana dia" celetuk Miko yang muncul entah darimana dan langsung berlari menuju tenda obat-obatan. Tyno yang langsung paham, mengikuti Miko dibelakang.


Sedangkan disisi lain, Ekgita dan Aly tengah bersembunyi dibawah meja guna melindungi diri.


"Kalo kayak gini terus lebih baik kita lari keluar" usul Ekgita yang menggenggam tangan Aly.


"Lari?! Tapi aku…"


"Ayo" ujar Ekgita yang langsung menarik Aly keluar dari tenda itu.


Aly menyadari jika salah satu rak di dekat mereka mulai bergoyang dan…


Brugh.


"Aly!" seru Ekgita saat melihat Aly tertimpa rak yang cukup besar itu. Aly mendorong Ekgita agar tidak tertimpa tapi malah mengenai dirinya.


Ekgita sedikit meringis saat tangannya mulai mengeluarkan darah. Tanpa disadarinya rak di dekatnya mulai bergoyang juga.


Bragh.


Ekgita meligat siapa yang menangkap rak tersebut, "Miko?!"


"Mana Aly?!" teriak panik Tyno.


Ekgita menunjuk rak yang sudah terjatuh, "****!" umpat Tyno yang langsungmembantu Aly.


Miko menggendong Ekgita untuk keluar dari tenda itu,sedangkan Tyno masih menyingkirkan rak itu dan menemukan Aly yang sudah tidak sadarkan diri.


"Alyssa!" panggil Tyno yang langsung memeluknya dan menggendongnya keluar dari tenda itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2