Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 2


__ADS_3

...****************...


Tok…tok…tok


"Masuk" seru seorang dari dalam ruangan yang Arif ketok.


"Maaf bu"


"Ah kalian, ayo masuk" celetuk seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bersandar di hidung kecilnya.


Aly dan yang lainnya masuk dan langsung duduk di sofa ruangan Kepala Rumah Sakit. Kepala Rumah Sakit mendekati mereka sambil membawa tiga amplop berwarna putih.


"Bagaimana keadaan kalian? Masih baik kan?" ujar Kepala Rumah Sakit sambil duduk di single sofa dan menelfon seseorang.


"Baik, dan…"


"To the point, Mama tersayang" Ayda menyikut perut Aly yang membuatnya sedikit merintih, "Apa salah kah aku?"


Arif hanya bisa menggeleng melihat salah satu sahabatnya itu dan memijit pelan pangkal hidungnya.


Klek


"Eh sudah terkumpul semua kah?" seorang pria dengan tubuh yang perfectionist dan berkepala plontos masuk kedalam ruangan yang membuat tiga dokter muda jitu merasa terheran-heran.


Ayda terdiam terpana dengan wajah pria itu, "Ay kau kenal dia?" bisik Aly dan berhasil membuat senyum Ayda menghilang seketika.


"Kau itu kebiasaan gak dengerin orang sih" bisik Ayda dengan geram.


"Wah ternyata anak-anak disini sangat bersemangat ya"


Aly menatap pria itu malas, tapi tiba-tiba kepalanya berdenyut cukup keras, "Lys?" panggil Arif yang melihat Aly tadi kesakitan.


"Kenapa kita dikumpulkan kemari?" tanya Aly to the point.


Pria tadi baru saja duduk merasa terkejut dengan pertanyaan Aly barusan, "Wow, slow girl. Pertama, perkenalkan aku Bima Zarion, seniormu dari Bunda Feni dan Dokter Bedah pusat yang dikirim untuk menggantikan Lysa sementara".


Aly menatap pria itu marah, "Dengar yang boleh memanggilku Lysa adalah orang-orang tertentu saja!" kesal Aly sambil merasa ngos-ngosan dan memegang kepalanya yang kembali berdenyut, 'Bima Zarion?' pikir Aly sambil menekan kepalanya agar tidak merasakan sakit lagi.


"Sabar Alys, begini Bima ini dikirim pusat untuk membantu rumah sakit ini selama kalian pergi".


"Pergi?" tanya Arif dan Ayda bersamaan.


Kepala rumah sakit bernama Fenilia Yurdaka sedikit tersentak dan mengelus dadanya pelan mengingat umurnya yang sudah berkepala 5 dan dikejutkan dengan teriakan 2 anak muda di depan kanannya itu.


"Memang kami akan kemana?" tanya Aly sambil masih memijit pelan pelipisnya. Feni memberikan amplop yang tadi dia bawa kepada mereka, "Wah apa ini bonus bulan ini?" tanya Aly dengan excited dan seakan langsung melupakan sakit kepalanya.


"Gaji kita sudah turun kemarin, ada yang aneh" curiga Arif sambil menatap Bima tajam.


"Wow tenang dulu, lebih baik kalian lihat ini dulu saja" kata Bima sambil menyodorkan handphonenya.


Video diawali dengan seorang anak kecil yang tengah bernyanyi sambil menggoyangkan tubuhnya dengan sang Ayah yang ikut berjoget. Tak berselang lama barang-barang didekatnya mulai berjatuhan dan video pun berakhir. Feni menyalakan televisinya dan memperlihat sebuah berita yang tengah menyiarkan sebuah tempat dengan penuh puing-puing dan dapat terlihat juga beberapa orang menangis disana. Aly masih sangat syok dengan menutup mulutnya, Ayda sudah menitikkan air matanya, dan Arif dia mengusap kasar wajahnya.


"Isi amplop ini adalah tugas kami untuk menjadi relawan medis disana kan?" tanya Arif dengan wajah frustasinya.


Bima mengangguk mantap, begitu juga Feni, "Kalian akan berangkat besok pagi, tugas kalian disini akan diambil alih dokter lainnya. Selain itu kalian juga bisa membawa asisten atau perawat andalan kalian untuk membantu".


"Mama jangan khawatir, koas-koas itu juga akan membantu. Kalau begitu kami pamit untuk menyiapkan segalanya" pamit Aly.


Ayda, dan Arif duluan keluar baru disusul Aly. Tapi Aly berhenti di ambang pintu, "Aku memang tidak bisa menginggat jelas siapa dirimu, tapi…".


"Lys, aku Bima sahabat…".


"Kau punya alasan lain bukan untuk berada disini?!" teriak Aly yang memotong perkataan Bima.


"Kau sudah ingat diriku bukan?" Bima tersenyum kecut, "Syukurlah, aku hanya…".


"Cukup!" lagi-lagi Aly memotong perkataan Bima, "Aku harus pulang sekarang, permisi"

__ADS_1


Setelah pertengkaran singkat itu Bima hanya terus mengutuk dirinya dan mengusap pelan wajahnya. Feni yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya menghela nafas kasar dan kembali duduk di kursi kebesarannya, "Mungkin kau bisa cerita kenapa Alys bisa terlihat sangat emosi tadi" celetuknya sambil kembali melihat data rumah sakit.


Bima terdiam dan terlihat tidak ada keinginan untuk mengatakannya, "Kau jangan terlalu memaksa dia untuk mengingat suatu kejadian atau memori lama dulu. Kalau terus dipaksakan bisa-bisa dia collaps" lanjut Feni sambil terus memperhatikan data-data ditangannya.


"Aku permisi" pamit Bima yang terlihat sangat putus asa.


...~...


Sebuah mobil SUV berukuran cukup kecil berhenti disebuah pemakaman. Seorang perempuan muda turun dari mobil itu dan mendekati seorang ibu penjual bunga, "Eh cah ayu, arep tuku kembang?". (Eh anak cantik, mau beli bunga?).


"Iya bu, bisa sekalian air mawarnya?"


"Tentu, jadi 32 ribu nggih cah ayu".


Perempuan itu menyerahkan uang 50 ribu, "Kembaliannya buat ibu" celetuk perempuan itu sambil meninggalkan ibu itu dengan uang 50 ribu yang tadi diberikan perempuan itu.


Perempuan itu mencari blok pemakaman dan terus berjalan sampai akhirnya dia berhenti kala melihat nisan di sebuah makan yang sudah dibangun dengan bahan granit itu. Perempuan itu tersenyum dan menaruh kacamata hitam yang tadi dia pakai kedalam tas gendong kecil yang selalu ia bawa.


"Kalau kau masih hidup, aku yakin kau akan senang dan langsung memelukku"


Perempuan itu bersimpuh di dekat batu nisan itu, "Kau pasti juga heran mengapa aku bisa ada disini, padahal tak ada yang memberitahukan ku dimana keberadaan mu" perempuan itu mencabut rumput yang tumbuh disekitaran makam itu, "Karena…kedatangan Bima membuatku mengingat mu dan akhirnya aku harus ke kantor polisi untuk mencari tahu dimana makam mu".


Perempuan itu menitikkan air matanya dan langsung menghapusnya, "Sebenarnya apa yang terjadi sampai kita harus terpisah seperti ini?" getaran handphone milik perempuan itu membuatnya harus segera mengangkatnya, "Hallo Alf, ada apa?".


"Kau sudah di rumah? Aku hanya ingin bertanya tentang kepastian surat yang baru aku baca ini".


Perempuan itu buru-buru mengatur nafasnya agar tidak diketahui teman karibnya itu, "Aly kau masih disana kan?".


"Iya, besok pagi kita akan berangkat. Kau siapkan saja mental dan bawa pakaian yang cukup. Aku masih dijalan jadi nanti hubungi lagi saja ya, Assalamualaikum" Aly langsung menutup telfonnya dan mengusap pelan nisan itu, "Sepertinya aku harus kembali sekarang, semoga kau tenang disana" ujar Aly lagi yang menyiramkan air mawar serta menaburkan bunga ke makan itu lalu pergi, tapi tanpa dia sadari kalung dia pakai terjatuh di dekat nisan.


Aly sedikit membungkuk saat bertemu dengan ibu-ibu itu lagi. Baru beberapa detik Aly pergi sebuah motor sport berhenti di depan pemakaman itu. Seorang pria berpakaian kasual turun dan menaruh helmnya di atas motor. Pria itu mendekati si ibu penjual bunga tadi, "Assalamualaikum bu, saya boleh beli bunga sama air mawarnya?".


"Nggih cah bagus" sahut ibu itu sambil menyiapkan pesanan pria tadi.


(Iya,anak tampan).


"32 mas"


Pria tadi mengeluarkan satu lembar 50 dan memberikan pada ibu itu, "Kembaliannya buat ibu aja"


"Matur suwun Mas". (Terimakasih mas).


Pria itu mengangguk dan meninggalkan si ibu tadi. Kini pria itu berdiri di depan sebuah makam yang sudah bersih bahkan ada taburan bunga dan terlihat tanah itu yang basah karena siraman air mawar.


"Look, there are still people who still remember and pray for you" Pria itu bersimpuh disisi lain makam itu, "Ada hal yang harus aku selesaikan di kota ini" celetuk pria itu.


Tapi sebuah senyuman licik terukir di wajah pria itu, "Tapi boong" pria itu tertawa keras dan mengusap nisan makam itu, "Aku sedang liburan di kota ini, kasian rumah gak dipake lama kan?".


Pria itu mulai menaburkan bunga diatas makam itu, "Aku ada tugas dan kau tahu kan…dengan resiko yang besar" pria itu tersenyum dan mulai berdoa.


Saat menyirami makam itu dengan air mawar, tak senja mata pria itu melihat sebuah benda berkilau saat air menghilangkan tanah dari benda itu. Pria itu mengambilnya dan tiba-tiba jantungnya terasa berdegup kencang. Pria itu melihat sekeliling dan memilih berdoa terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi dari makam itu.


"Sudah selesai Mas?" tanya ibu-ibu penjual bunga tadi saat pria itu datang menghampirinya lagi.


Pria itu tersenyum, "Sudah, eumm kalau boleh tau apa tadi ada orang lain yang kemari? eumm seorang wanita mungkin?". Ibu itu menatap curiga si pria, "Tenang saja, saya hanya ingin bertanya tentang ini" pria itu menyodorkan kalung bermotif kucing berwarna hitam, "Mungkin saja si pemilik merasa kehilangan nanti".


"Wah pasti punya cah ayu tadi, tapi saya juga gak tahu".


Pria itu tersenyum kecut dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kalau gitu saya bawa saja deh".


"Bisa saja itu nanti jadi jodohnya mas".


Si pria tertawa ringan, "Mana ada yang seperti itu, kalau begitu terimakasih bu, saya pamit".


...~...


Aly baru sampai di rumah pada pukul 7, dia keluar dari mobil dan membawa beberapa kantong belanjaan. Saat dia baru akan membuka kunci pintu dia merasakan kalau pintu sudah tidak terkunci. Merasa curiga bahwa ada maling, dia langsung menurunkan belanjaannya dan mengeluarkan sebuah knuckle dari balik jaket yang dia pakai.

__ADS_1


Klek


Sebuah siluet seseorang di dapur membuat Aly semakin waspada. Aly menghentakan knucklenya dan seketika sebuah pisau yang terselip diantara knucklenya muncul. Saat dia sudah dekat, dia langsung menyerang orang tersebut.


"Wei!" sentak orang itu.


Dengan cepat orang itu membuang knuckle milik Aly dari tangannya dan mengunci pergerakan Aly, "Kak ini aku, Atha!".


Aly yang mendengar suara adiknya itu langsung berusaha melepaskan kuncian itu, dan balik melumpuhkan serta mengunci orang yang mengaku sebagai adiknya, "Sedang apa kau disini?".


"Lepaskan!".


"Salah siapa yang masuk rumah orang gak permisi, mana gak ngabarin dulu lagi".


Aly POV


Aku melepaskan kuncianku pada adikku yang satu ini, dan langsung memukulnya tepat diperut. Dia merintih sakit, aku berjalan menuju pintu depan dan mengambil semua belanjaanku yang sempat tadi aku tinggalkan.


"Kak, kakak marah kah?" aku menghiraukan perkataannya dan mulai membereskan bahan makanan yang tadi aku beli, "Maafin aku ya" ujarnya yang memandangku sok imut.


Aku menatap datar dirinya dan menoyor kepalanya pelan, "Apa tujuanmu kemari?" tanya ku sambil menaruh makanan kedalam kulkas.


"Aku ambil praktek disini, ya sekitar 4 atau 5 bulan" jawabnya sambil memakan apel yang tadi aku taruh ditempat buah.


Aku mendengus kesal dan berjalan kelantai dua, "Kak, jangan bilang Mam ya".


Mendengar itu aku menyerit heran dan melongok kelantai satu tempat dia tengah berdiri, "Kenapa? Jadi kau ngambil praktek disini karena sebenarnya kamu juga sedang kabur dari Mam, Pap, dan Kakek" ujarku yang membuatnya tersenyum lima jari.


Aku tersenyum jahat lalu mengambil handphoneku yang berada di saku celana jeans yang kupakai. Sebuah nada dering tersambung membuatku cepat-cepat melaoudspeaker, "Halo Nenek, Assalamualaikum" aku dapat melihat Atha yang menatapku terkejut.


"Waalaikumsallam nak, ada apa?"


"Ah tidak ada apa-apa, hanya ingin memberi kabar" Atha menyilangkan tangannya dan memberi isyarat seperti memohon, "Kalau…" Atha memberikan isyarat lagi yaitu sebuah gambar jam tangan yang tengah aku incar. Aku menggeleng dan dia menunjukkan lagi sebuah gambar sepatu, jam tangan, dan sebuah tas gendong, aku memasang wajah berfikir.


"Kenapa sayang?"


"Tidak Nek, hanya aku hanya ingin kasih kabar kalau aku akan ada tugas keluar kota" ujarku yang meninggalkan Atha dengan wajah leganya.


"Kalau begitu hati-hatilah di sana ya nak, Assalamualaikum"


"Iya Nenek, aku akan hati-hati disana. Iya sampai jumpa, Waalaikumsallam" aku mematikan sambungan telefon lalu mengambil sebuah koper berukuran sedang dari dalam lemari ku. Saat aku tengah memasukan pakaian kedalam koper Atha membuka pintu kamarku.


"Kakak memang mau kemana?" tanyanya sambil menyeruput mie yang seperti dia buat saat aku baru sampai tadi.


"Kan tadi kamu dengar apa yang aku bilang ke Nenek" ujarku sambil mengepak semua barangku kedalam koper dan sisanya berada di dalam tas gendong yang berukuran lumayan besar.


"Tugas di mana emangnya?" aku menghela nafas dan memberikan dia handphoneku yang langsung menampilkan keadaan Lombok yang porak poranda, "Kakak mau kesana?!".


Aly POV end.


...~...


Seorang wanita tua tengah duduk dan mengesap teh yang tadi sempat dituangkan oleh wanita dibelakangnya, "Iyas, kamu kerumah Alys sekarang. Sepertinya Atha akan butuh kamu".


Seorang pria bertubuh kecil yang dipanggil Iyas itu menatap wanita tua itu heran, "Atha? Bukannya dia di Jakarta ya Ma?".


"Dia disini, dirumah Alys. Ah iya Alys akan pergi tugas luar kota jadi kau urus rumahnya dulu".


Iyas mendengus kesal, "Pasti dia kabur dari rumah" gumam Iyas gemas, "Septi jaga Mama, aku pergi dulu, Assalamu'alaikum" pamit Iyas yang langsung menuju rumah Aly.


"Dasar anak-anak muda".


"Nyonya, tuan telfon" Septi yang dibelakang wanita tua itu menyerahkan sebuah handphone padanya.


Wanita itu hanya menghela nafas kesal dan mengangkat telfon itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2