Hati Pengganti Sang Dokter

Hati Pengganti Sang Dokter
Part 25


__ADS_3

...****************...


Arif bersama Tio tengah memeriksa para pengungsi guna pemeriksaan rutin. Ada beberapa pengungsi yang mengeluhkan sakit ada juga yang mengeluhkan tempat pengungsian. Saat pasien mulai berkurang, akhirnya Arif mulai bisa menyenderkan punggungnya ke kursi yang terdapat tempat bersandar itu.


"Hai Dokter Tio, apa benar perawat Cici adalah istrimu?" tanya Arif tiba-tiba yang  membuat Tio yang tadinya mencatat sebuah resep untuk pasiennya menatapnya tajam, "Astaga santai lah, aku gak akan mengambil istri mu juga kali"


Mendengar itu Tio kembali mencatat obat dan berputar menghadap Arif, "Kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?"


"Tanya aja, bagaimana kalian bertemu?" tanya balik Arif yang membenarkan posisi duduknya.


Tio menatap arah langit-langit tenda seperti sedang berfikir, "Kami partner saja saat itu, tiba-tiba dia minta aku untuk menjadi kekasihnya saat itu untuk menghindari perjodohan. Tetapi malah menjadi saling mencintai beneran" cerita Tio sambil tertawa saat mengingat kejadian itu.


Arif ikut terkekeh geli mendengar cerita itu, "Kemudian apa orang tua kalian tahu cerita sebenarnya?"


"Ya tidaklah, gila saja kau!" Kali ini tinggal Arif yang tertawa terbahak-bahak karena ucapan Tio, "Hubungan kau dengan Dokter Aly?"


Arif berhenti tertawa dan menatap Tio santai, "Kami hanya teman satu kampus yamg kebetulan satu rumah sakit juga"


"Kau tidak ingin berpacaran atau melamarnya gitu?"


Arif menggeleng, "Aku…aku hanya tidak ingin menyakitinya saja" ujarnya sambil menatap langit-langit tenda, "Cukup satu kali saja aku melihat dia menderita" gumamnya yang dapat di dengar Tio.


"Kalau begitu lindungi senyumannya, jangan pudarkan. Walau nyawa juga taruhannya" nasehat Tio yang dibalas senyuman getir dari Arif.


"Kau benar"


"Arif" David tiba-tiba muncul sambil membawa clipboard miliknya, "Aly manggil kita buat briefing pagi"


"Baiklah, aku permisi dulu Dokter Tio" pamit Arif yang bangkit dari bangkunya.


"Tentu, lain kali mari berbincang lagi"


"Tentu"


Arif dan David jalan berdampingan sampai mereka masuk kedalam tenda cafetaria milik para Dokter.


"Lama" celetuk Iza yang mendapatkan tatapan tajam dari kedua pria itu.


Aly menggeleng pelan, "Baiklah, selamat pagi menuju siang semuanya"


"Pagi"


"Baik briefing kali ini, saya sebagai ketua umum Dokter Jateng merasa senang dan tenang karena ternyata para korban yang hilang sudah ditemukan" mendengar itu seluruh ruangan menjadi ricuh, "Tenang semuanya. Sebenarnya saya ingin kita pulang bersama tetapi karena keterbatasan ketersediaan pesawat, jadi kepulangan kita di bagi. Jadi, aku harus mendata siapa saja yang akan kembali"


Tenda kembali ricuh karena kabar bahagia itu. Seorang Dokter dari daerah Semarang mengangkat tangannya, "Kalo boleh tau tanggal berapa saja kepulangan kita?"


Aly mengangkat kedua alisnya dan tersenyum malu, "Good question, I forget to explain that. Kepulangan kita itu…" Aly melihat selembar kertas, "26 sama 30" ujarnya Aly sambil tersenyum malu.


Semua orang disana hanya tertawa melihat kesalahan Aly.


"Jadi saya sebagai Ketua Umum Dokter Jateng merasa bahagia karena bisa bersama teman teman sekalian, maaf jika selama ada disini saya melakukan kesalahan atau perkataan yang menyakitkan saya minta maaf"


Seorang Dokter dari Solo mengangkat tangannya dan berdiri, "Kami Dokter Solo sangat bersyukur kalau anda adalah Ketua umum kami. Dan setelah berdiskusi kami memilih tanggal terakhir untuk kepulangan kami karena saya dan beberapa teman saya masih ada pasien"


Aly mengangguk paham, "Dokter Banyumas juga memilih tanggal terakhir, berarti sisanya bisa memberitahu Alfi untuk pendataannya. Setelah ini…"


Brak!

__ADS_1


Cici yang masuk kedalam tenda secara terburu-buru tidak sengaja menabrak sebuah kursi, "Maaf semuanya tapi pasien Dokter Aly yang bernama Lisa Crystali tiba-tiba mengalami kejang!"


"Alfi apa ada tanda-tanda aneh saat pemeriksaan tadi?" tanya Aly yang berlari diantara kerumunan orang di luar tenda.


"Tidak ada masalah, tapi memang kata ibunya Lisa sempat bersin bersin semalam" ujar Alfi sambil melihat clipboardnya.


Saat akan sampai di Tenda Pasien Aly berhenti sesaat, "Ambilkan obat pereda kejang!" titah Aly yang langsung di kerjakan Alfi, "Bagaimana keadaannya?" tanya Aly buru-buru sambil memeriksa jantung Lisa dengan stetoskopnya.


"Tekanan darah tiba-tiba naik, demamnya juga tinggi" jelas Tio yang memegang tubuh Lisa yang terus kejang.


Aly menyerit heran lalu melepaskan stetoskopnya dengan paksa, "Siapa yang memberikan Vaksin pada Lisa?!" tanya Aly yang menatap setiap Dokter disana dengan tatapan tajam.


"Sa…saya" ucap Ibu Lisa.


"Dokter ini obat pereda kejang yang anda minta" Alfi menyodorkan sebuah mangkuk alumunium yang berisikan botol kecil dan jarum suntik.


Aly menyuntikkan obat itu sebanyak 2ml dan perlahan kejang Lisa mulai mereda. Tio, Cici dan Lilis yang memegang Lisa tadi mulai menghela nafas tenang . Aly menatap Ibu Lisa dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Darimana anda mendapat obat itu?" tanya Aly yang menahan amarahnya.


Ibu Lisa hanya menunduk dalam, "Lisa…semalam dia demam dan bersin-bersin tanpa henti. Saya pikir dia terkena flu, kemudian saya meminta obat ke Dokter Anji, tapi dia bilang jika Obat flu sedang kosong yang ada hanya obat Vaksin flu saja. Saya pikir itu sama saja, jadi saya memintanya" jelas Ibu Lisa yang tampak menahan tangis dan khawatir.


"Itu berbeda!" seru Aly yang menahan amarahnya, "Panggil Dokter Anji!" titah Aly pada beberapa Dokter disana.


Aly mengatur nafasnya yang sedang menahan marah itu. Anji masuk kedalam tenda pasien dan langsung diberi tatapan tajam dari setiap Dokter disama tak terkecuali Aly. Dia mendekati Anji yang masih mengatur nafasnya dan menunduk dalam seakan tahu kesalahannya.


"Eratkan gigimu!" bisik Aly pada Anji dan.


Bugh!


"Aly!" teriak Ayda yang ternyata juga datang bersama Anji tadi. Dia menarik Aly dan memegang pundak Aly agar tenang.


Aly menyingkirkan tangan Ayda lalu mendekati Anji yang masih tersungkur, "Kenapa kau memberikan Vaksin. Kenapa kau tidak lihat keadaannya dulu?! Jika tidak tahu kau bisa tanyakan padaku terlebih dulu!"


Anji hanya terdiam dan menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Aly.


"Lihat! Karena kesalahan mu kali ini, kau hampir membunuh seseorang!" seru Aly yang melempar tubuh Anji ke tanah, "Maaf sudah memukulmu" ujar Aly yang meninggalkan tenda pasien yang masih terasa menegangkan itu.


Aly berjalan menjauhi area pengungsian dan duduk bersandar pada sebuah pohon kelapa. Dia memejamkan matanya lalu sebutir air mata mulai mengalir. Dia melipat kakinya lalu bersandar disana sambil menunduk.


"Ya Allah" sebut Aly sambil mendongak dan mengibaskan tangannya ke arah pipinya yang terasa panas akibat menahan amarah.


"Jadi seperti itu caramu meredakan amarah?" Tyno muncul dari arah belakang Aly.


Aly tidak menjawab, melihat saja dia juga tidak. Dia masih mengibaskan tangannya di dekat pipinya, "Pergilah, tinggalkan aku sendiri" usir Aly tanpa melihat Tyno.


Tyno tersenyum sinis, "Kau sedang emosi" ucap Tyno yang berdiri di depan Aly.


"Maka dari itu pergilah!" amarah Aly seperti kembali seperkian detik.


Tyno terdiam sejenak, "Teriaklah" celetuknya.


"Pergi"


"Teriak"


"Ku bilang pergi!" teriak Aly saat emosinya benar-benar keluar dan bersamaan dengan telinganya yang berdengung.

__ADS_1


Tyno mendekati Aly dan memeluknya, "Lega bukan?" tanya Tyno lembut.


Aly tidak menjawab dia hanya membenamkan kepalanya di dada Tyno, tangisan miliknya kembali. Tyno makin mengeratkan pelukannya.


"Jika kau merasa sesak, teriaklah jangan di pendam"


Sebuah ingatan muncul dan membuat Aly makin menangis, "Akra" panggil lirih Aly.


Tyno tau perdalam dekapannya adalah perempuan paling rapuh yang berpura-pura tegar. Perempuan yang sama seperti dirinya yang sudah hancur, tetapi dia hanya ingin menyatukan kepingan pecahan itu agar menjadi satu lagi.


"Tenang, aku disini" ujar Tyno lembut.


...~...


Alfi Pov


Aku menghela nafas kasar didalam tenda obat-obatan. Aku memikirkan kejadian yang menimpa Aly tadi. Dan bagaimana Kapten Tyno menenangkan Aly tadi rasanya aku ingin bercerita padanya, tapi masih ada Arif dan David. Lagi-lagi aku menghela nafas kasar.


"Haishh berat emang" celetukku sambil memegangi kepala ku.


"Apanya yang berat?"


Aku terkejut mendengar suara yang familiar itu dan langsung mendongakkan kepala dan melihat Alfan yang menatapku heran, "Alfan? Sejak kapan kau disini?" tanyaku yang masih terkejut.


"Sejak kau termenung"


'Haha ketebak' pikirku yang langsung memikirkan apa yang sudah aku pikirkan tadi.


"Kau sedang kenapa?" tanya Alfan dengan nada lembut.


Saat aku melihat matanya tatapan khawatir terlihat sangat jelas disana, "Aku sedang memikirkan Dokter Aly" jawabku dengan lesu, 'Pikiran dan hatiku benar-benar kacau'.


Brak!


Aku menggebrak meja dan membuat dia terkejut, "Alfan aku benar-benar sudah tidak tahan untuk memendam ini"


"Memendam perasaan?" godanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Ihh Alfan aku mau serius ini" kesal ku yang sebenarnya menutup rasa malu ku ini.


"Mau diseriusin? Okeh!" katanya sambil mendekati ku dan saat di depanku dia berjongkok lalu mengambil tangan kanan ku, "Mau kah kau jadi kekasih ku?" tanya Alfan sambil tersenyum untuk menggoda ku.


"Ekhmm maaf mengganggu" intrupsi seseorang yang membuat aku buru-buru menarik tanganku dari genggaman Alfan, "Alfi kau dipanggil Ayda"


"Lagi-lagi dia" gerutu Alfan yang hanya dapat di dengar oleh ku.


"Aku duluan oke" pamit ku yang langsung meninggalkan para lelaki itu.


Alfi pov end.


David mendekati Alfan yang baru saja berdiri, "Mungkin kau sudah berhasil merebut hatinya, tapi bukan berarti kau sudah memeluk hatinya" ujar David yang terdapat nada cemburu dan menantang Alfan disana.


Alfan tersenyum sinis, "Kita lihat saja, kau atau aku yang akab memeluk hati itu" tantang balik Alfan pada David.


Tatapan kedua pria itu seperti sedang bersaing merebutkan posisi pertama. Tidak akan ada yang  akan mengalah, walau satu diantara mereka akan kalah nantinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2