
...****************...
"Sakti!" teriak Dhita saat melihat Sakti yang sedang mencengkram leher Aly dan menindih tubuh Tyno dengan kaki kirinya.
Merasa terpanggil Sakti hanya menoleh lalu tersenyum mengerikan. Dhita dan Miko yang melihat itu menjadi merinding.
"Matanya…hitam?" gumam Miko yang dapat melihat perubahan pada Sakti.
Sakti menekan kaki kirinya dan membuat Tyno mengerang kesakitan. Tanpa dia sadari seseorang tengah berdiri memperhatikan dia dari lantai dua tempat itu.
"King!" panggil Alfan yang langsung membantunya membawa Arif, "Semua bom sudah ku matikan"
"Kita harus bawa mereka dulu. Bawa mereka ketempat Goblin dan minta dia awasi ****** sialan ini" ujar Miko yang diangguki oleh Alfan.
Dhita terus meronta dan memanggil Sakti yang tidak menggubris panggilannya sama sekali. Saat mereka baru keluar dari kawasan rumah itu, Sakti tersenyum mengerikan dan mencekik Aly lebih keras.
"Sakti lepaskan mereka!" seru Miko dengan sikap waspada, "Lepaskan atau ku tembak!"
Sakti tidak menggubris Miko malah makin menambah kekuatan cekik kan pada Aly yang sudah mulai terlihat pucat. Merasa bahwa Sakti tidak akan mendengarkannya, Miko menarik pelatuk pistolnya dan akan menembak. Tetapi sebelum itu terjadi…
Bugh.
Sakti terlempar cukup jauh dan membuat cekikkannya pada Aly terlepas. Melihat celah Miko mendekati Tyno yang masih pingsan.
"Kapt!"
Orang yang menendang Sakti mendekati Aly tetapi sesaat kemudian tubuh Aly sudah berada dalam gendongan Sakti lagi.
"Brengsek! Kembalikan Kakak ku, Iblis!"
...~...
Alfan mengikat Dhita kuat-kuat di kursi sebelah kemudi.
"Kau tunggu sini, jaga dia" ujar Alfan yang menghilang dalam kegelapan hutan.
Bear yang ingin mengatakan sesuatu hanya bisa menggeleng pelan sambil menatap kepergian Alfan. Dhita masih terus meronta agar ikatannya terlepas.
"Sakti sudah dikuasai dia, jadi kalian akan binasa" gerutu Dhita yang terus berusaha meloloskan diri.
Bear menghela nafas lalu tertawa geli, "Kau pikir kami takut?"
Dhita menyerit dengan ekspresi Bear, "Apa yang lucu?"
"Kau pikir bersekutu dengan iblis bisa membuatnya getar?" ujar Bear lirih lalu menarik wajah Dhita agar mendekat, "Iblis bukanlah tandingan kami"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, dia melempar wajah Dhita kasar lalu membekamnya dengan lakban yang ia bawa, "Kau harus tau satu hal, Tuan muda, entah bagaimana, tapi aku bisa merasakannya, dia lebih kuat sekarang" ujar Bear sambil melempar lakban yang tadi ia pakai, "Arikinan itu memang misterius, mereka mendapat kekuatan itu saja sudah mengherankan, apalagi ini"
Srukk.
Suara semak-semak membuat Bear menjadi siaga, "Heran juga, kemana Bara pergi ya?" celetuknya sambil menutup matanya seperti berfikir, "Kau bisa menemui ku saat menjadi Bear, Bara"
Bara muncul dari dalam semak-semak dekat dengan pintu mobil Afrizal, "Matamu cukup parah sepertinya"
"Diam!" sentak Bara sambil melempar pisau yang tadi dilempar Aly dan berhasil merusak matanya, "Aku hanya ingin informasi tentang Mifta"
Afrizal tersenyum senang, "Tentu, tapi ada konsekuensi karena kau sudah berbuat jahat pada Arikinan"
...~...
Atha terus berfikir saat dia gagal mengambil Aly dari tangan Sakti. Entah seperti ada angin kencang atau bahkan pelindung ghaib yang tak bisa dia lewati. Kini dia hanya bisa mengatur nafasnya. Miko hanya bisa terdiam melihat apa yamg terjadi sambil terus mengecek tanda vital Tyno.
"Ha, menyebalkan" gumam Atha yang bangkit dan bersiap dengan kuda-kuda ya, "Bagaimana aku menghabisinya?" tanya Atha pada Arya yang terus membackingnya.
Arya menatap Sakti tajam, "Api atau air"
Atha menyerit lalu tersenyum tipis, "Air ya" gumamnya yang kemudian sebuah deburan ombak terdengar makin ganas, "Ursha" panggil lirih Atha yang kemudian bersiap menyerang kembali.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Tyno yang mulai sadar.
Miko membantu dia duduk, "Atha bilang dia sudah bukan lawan kita" jawabnya yang berdiri memperhatikan Atha yang mulai kehabisan tenaga.
"Kita bisa mendorongnya" ujar Miko yang mempersiapkan senjatanya.
"Tapi Alys…"
"Aku ada rencana, Kapt" celetuk Alfan yang tiba-tiba muncul sambil menyerahkan sebuah pistol pada Tyno, "Tapi rencana ini bisa membuat salah satu dari kita tiada"
Sebuah senyuman muncul di wajah Atha, "Tak apa, karena kalian tak akan mati semudah itu" celetuknya dengan senyuman kejamnya.
Sakti melihat keempat pria yang tengah berdiskusi itu dengan tatapan curiga. Tetapi sesaat kemudian dia mengarahkan tangannya ke jantung Aly. Teriakan Aly membuat Atha dan Tyno menjadi sangat geram.
"Sekarang!" seru Atha yang kembali berusaha menyerang Sakti.
Sakti yang melihat Atha yang kembali berusaha menyerangnya hanya tersenyum sinis. Tangan kanan Sakti terangkat ke depan mengarah kearah Atha. Tetapi tanpa dia sadari Miko sudah bersiap dengan snippernya. Atha mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik jaket yang ia pakai.
"Sekarang!" teriak Alfan dan Atha yang melompat bersamaan.
Dor.
Dor.
__ADS_1
Dor.
Dor.
Empat tembakan berhasil di keluarkan oleh Miko dan Tyno secara bersamaan. Miko berhasil mengenai kedua lengan Sakti, sedangkan Tyno berhasil mengenai dada kanan dan kaki kirinya.
"Arya!" seru Atha yang kemudian muncul sebuah keris berukuran sedang dengan aksen emas di tengah keris dan pinggiran keris itu bewarna putih.
Stab!
"Akhhh!" teriak Sakti saat Atha berhasil menusuk jantungnya.
Alfan yang melompat melempar Aly kearah Atha lalu mendorong Sakti ke arah jurang, tapi dia salah perkiraan. Sakti memegang kaki Alfan yang akan mendarat dan membuatnya ikut terjatuh.
"Alfan!" teriak Tyno dan Miko bersamaan dan langsung berlari kearah jatuhnya Alfan.
Miko menahan Tyno yang akan ikut melompat, "Alfan!" teriak Tyno yang terdengar sangat memilukan.
Atha menggendong Aly yang pingsan dan merapalkan sebuah kalimat, seketika Aly terbatuk keras dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Atha terduduk sambil terus memeluk Aly.
"Atha?" panggil Aly lirih lalu menatap Tyno yang tengah menatap jurang dengan air mata yang mulai menetes, "Anji?" tanya Aly pada Atha dan hanya membalas gelengan pelan olehnya.
"Istirahat lah Kak" ujar Atha yang mengusap pelan wajah Aly yang seketika membuat dia tertidur. Atha mendekati Tyno yang masih termenung sambil menggendong Aly ala bridal style, "Kak Alfan dia mengorbankan dirinya untuk kita"
Mendengar ucapan Atha, Tyno menjadi ke trigger lalu menarik jaket Atha.
"Apa? Mau memukulku?" tantang Atha yang menatap tajam Tyno, "Kakak ku sedang tertidur, jangan berisik" ujar Atha dengan wajah sinis.
Tyno memukul angin lalu berteriak kencang. Miko menatap sendu Tyno lalu menepuk bahu Tyno pelan untuk menguatkan dirinya.
"Miko" panggil lirih Tyno yang membuat dia menatapnya datar, "Alfan…gugur?" ujarnya sendu.
Miko terdiam lama, "Kita akan melapor nanti"
Atha menatap keduanya datar, "Raden, maaf" dia hanya menengok sedikit, "Bendara Gendrava disini"
"****" umpat pelan Atha, "Gatra?"
"Maaf, semua disini"
"Zakra?"
Arya menatap heran Atha, "Masih ditempat"
Atha hanya dapat menghela nafas pelan lalu berbalik dan menatap Arya tajam, "Katakan pada Ursha, ada tamu"
__ADS_1
"Baik, Raden"
...****************...