
...****************...
27 Sept
Jambi, 10.00
Ekgita POV
"Ummm" eluh ku saat aku melakukan streching ringan di atas bangku kebesaran ku di ruangan praktek ku. Aku bekerja di Rumah Sakit Tentara di Jambi. Disini aku bekerja sebagai Dokter Penyakit Dalam.
"Dokter baik-baik saja kan?" tanya Nabil yang memang Perawat andalan sekaligus seketarisku.
Aku menatap Nabil yang juga menatapku khawatir. Helaan nafas berat ku hembuskan. Nabil kembali menatapku dengan khawatir. Aku tersenyum lalu menyandarkan kepalaku dengan tanganku.
"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" Nabil mengangguk kecil, "Aku baik-baik saja, tenang oke" jawabku sambil melepaskan jas Dokter ku yang memang jam praktekku sudah selesai, "Ah iya Bil, kamu tahu Alyssa?"
Nabil terdiam sejenak dan memukul pelan dagunya dengan pena, "Dokter dari Purwokerto itu?"
Aku mengangguk pelan, "Kau punya nomor handphonenya?"
"Tidak, tapi aku punya nomor handphonenya Dokter Arif, teman Dokter Aly"
Aku menyerit dengan jawaban Nabil barusan lalu tersenyum usil, "Kau punya…nomor siapa?"
Nabil memukul pelan bibirnya lalu menggerutu tidak jelas. Itu memang kebiasaan dirinya jika sedang keceplosan. Maka dari itu, dia termasuk orang yang tidak pandai menjaga rahasia.
"Nanti akan ku kirim nomor milik Arif" ucapnya dengan buru-buru akan keluar ruangan ku.
Tapi sebelum dia keluar ruangan ku, aku mencegahnya dengan meledeknya, "Arif? Gak pake Dokter?" ledek ku yang berhasil membuat dia memerah karena malu lalu dia berlari keluar ruang praktek ku.
Aku tertawa senang karena berhasil mengusili seseorang. Aku bersandar pada kursi kebesaran ku lagi, lalu membuka handphone ku. Pertama yang kulihat dari handphone ku itu adalah wallpaper yang ku pasang dengan foto ku dan dia. Aku menatap handphone itu lalu menutupnya kasar.
"Kenapa kau meninggalkan ku dan mencampakan ku? Kenapa, Miko?!" gumam ku saat mendongak ke langit-langit.
Ekgita POV end.
Flashback 3 tahun lalu.
Segerombolan Tentara tengah melakukan long march di tengah hutan. Saat mereka sampai di sebuah pos pemeriksaan,seorang Tentara terlihat kelelahan membawa tasnya dan hampir terjatuh. Untung saat itu seorang Tentara lainnya dengan sigap meraih tubuhnya yang lalu mengambil alih tas temennya itu.
Kejadian itu di lihat oleh Ekgita yang menjadi penjaga pos pemeriksaan. Saat Tentara yang membawa dua tas itu lewat di depannya, Ekgita langsung mencegahnya.
"Kau gila? Kau kelelahan juga, jangan jadi sok jagoan" tegur Ekgita dengan wajah datar.
Tentara itu tidak menjawab malah melewati Ekgita begitu saja. Ekgita terkekeh kecut lalu meraih pergelangan Tentara itu.
"Kau mengacuhkan ku?"
Tentara itu menatap Ekgita lalu menghela nafas pelan, "Lepaskan. Kalaupun aku kelelahan, aku akan berhenti bukan membantu" ujar Tentara itu yang lalu benar-benar melewati Ekgita.
Ekgita berbalik dan menatap Tentara itu kesal.
1 minggu kemudian, Tentara itu tengah memakan makan sianganya di kantin Mess bersama Tentara lainnya. Saat dia baru akan menyuapkan sendoknya, sebuah gebrakan meja membuatnya mengurungkan niatnya dan melihat siapa yang mengganggu makan siangnya.
"Pas sekali itu kau" orang itu adalah Ekgita, "Kau memang orang yang tepat" celetuk Ekgita sambil melihat nametag milik Tentara itu, "Miko"
Kini mereka berdua berada di belakang Mess, "Jadi apa mau mu?"
"Kau harus bantu aku"
Miko menghela nafas berat, "Maksud mu?"
"Aku ini atasan mu loh!" tegur Ekgita yang mulai geram dengan tingkah pria di depannya itu.
"Mau kau pendeta sekalipun, aku tidak peduli" ujar Miko dengan acuh.
Ekgita mulai merasa geram, "Aku ingin meminta bantuan mu"
"Bantuan apa?"
"Jadilah pacar bohongan ku" Miko menyerit lalu berniat meninggalkan Ekgita, "Aku tidak ingin di jodohkan"
Mendengar itu Miko tiba-tiba berhenti sejenak lalu kembali berbali menghadap Ekgita, "Baiklah, apa yang harus ku lakukan?" ujarnya dingin.
...~...
__ADS_1
3 bulan berlalu.
Miko tengah berdiri di depan sebuah gedung Rumah Sakit. Dia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana bahan yang ia kenakan. Udara Jambi sedang terasa panas membuatnya malas memakai pakaian tebal. Bahkan yang ia kenakan kini hanya kaos berlengan pendek yang hanya di tutupi oleh kemeja hitam bermotif kotak kotak merah. Dia menatap Rumah Sakit itu dengan tatapan malas juga, tetapi saat seorang wanita berjalan menghampirinya sebuah senyuman tipis terpampang di wajah dinginnya.
Wanita yang sudah 3 bulan memberi warna dalam hidupnya. Wanita yang penuh dengan pemaksaan menurutnya tetapi begitu lembut dan kekanak-kanak sebenarnya.
"Kenapa senyum?"
"Gak boleh? Dan tau darimana kalau aku senyum?"
Wanita yang tak lain adalah Ekgita tersenyum miring lalu memainkan pipi Miko agar terlihat tersenyum, "Nah ini baru senyum"
Miko menggeleng dan menghempaskan tangan Ekgita darinya, "Menyingkirlah" ketus Miko.
Ekgita membuka mulutnya lalu memukuli Miko keras, "Jahat sekali kau dengan wanita ha!"
"Ah sakit Ekgi!"
Satu tahun berlalu.
Ekgita menghela nafas saat jam prakteknya. Nabil menatap Dokternya itu khawatir. Sudah 4 bulan dia begitu. Semenjak Miko mendapat tugas, Ekgita menjadi banyak diam dan lebih memperhatikan kalung nama Miko yang di titipkan ke Ekgita. Nabil tidak habis pikir dengan hubungan keduanya. Romantis tetapi terkadang Miko terlihat seperti bahan untuk kekesalan Ekgita saja.
Nabil menghela nafas pasrah lalu melihat keluar jendela lalu tak sengaja melihat seorang pria berdiri menatap tempat praktek Ekgita sambil memakai payung berwarna hitam. Nabil menyerit berusaha mengamati siapa yang menatap mereka lalu membelakan matanya setelah tahu siapa yang menguntit mereka.
"Dok, sepertinya anda harus segera pulang" ujar Nabil yang masih fokus pada pria berpayung hitam itu, "Ada yang sedang menunggu anda" lanjutnya sambil menatap Ekgita dan Ekgita juga menatap balik Nabil.
Ekgita menyeret kursi kebesarannya dan melihat pria berpayung hitam itu juga. Mengetahui siapa itu, Ekgita buru-buru mengambil tas dan kalung milik Miko lalu berlari keluar Rumah Sakit.
"Miko!" panggil Ekgita yang langsung melompat kedalam pelukan Miko. Membuat mereka berdua berakhir basah.
Kini mereka di dalam sebuah cafe. Miko masih dengan seksama mendengarkan semua cerita Ekgita. Mimik wajah Miko juga mulai berubah, yang biasanya dingin dan datar sekarang lebih suka tersenyum dan terkadang juga lebih banyak bicara.
"Jadi gimana tugas mu?" tanya Ekgita sambil menyeruput cokelat panasnya.
Miko tersenyum sambil mengaduk kopinya, "Lumayan, Kapten ku juga baik"
Ekgita terdiam mendengar kata Kapten, "Apa Kapten misi mu kali ini, Kapten baru itu?"
Miki menatap heran perubahan wajah Ekgita, "Ada apa?"
"Kenapa kau menolaknya?"
"Karena aku gak suka dengannya" jawab Ekgita ketus, "Dan di tambah sekarang kekasih ku kan kau!", Miko menghela nafas pasrah, "Kenapa? Gak berani dengan Tyno?"
"Kapten loh"
"Terus?" Ekgita menggebrak meja lalu berdiri, "Dengar,jika kau bertemu dengannya katakan kalau aku adalah kekasih mu, ingat!" ujar Ekgita yang lalu pergi meninggalkan Miko sendirian di dalam cafe.
Miko menghela nafas pasrah.
Tok…tok
Ketukan pada kaca membuat Miko menoleh pada kaca penghalang. Ekgita disana menggambar tanda senyum pada Miko. Miko tersenyum senang lalu menunjuk agar berfoto bersama. Lalu dia menggambar tanda hati di kaca itu. Ekgita ikut tersenyum dan menaruh telunjuknya di tempat dimana telunjuk Miko berada juga.
2 bulan kemudian.
Miko menjemput Ekgita seperti biasa di depan Rumah Sakit. Ekgita berlari pelan menghampiri Miko lalu seperti biasa memeluknya. Saat di mobil Miko menatap Ekgita yang tengah mengikat rambutnya dan yang ditatap mulai merasa risih.
"Kenapa kau menatap ku begitu?" tanya Ekgita yang mulai merasa risih dengan tatapan Miko.
"Tak apa, hanya tidak suka saja"
Ekgita menyerit lalu memukul pelan pundak Miko, "Dasar aneh"
"Ekgi aku ingin bicara serius" ujar Miko dengan nada serius.
Ekgita menatap Miko bingung, "Ada apa?"
"Aku ingin bersama mu selamanya" Ekgita semakin bingung melihat kekasihnya.
Tiba-tiba Miko berhenti dan turun begitu saja. Ekgita yang heran hanya dapat melihatnya mengikuti arah kemana Miko pergi. Miko membukakan pintu untuk Ekgita lalu menarik pelan tangan Ekgita. Mereka berhenti di tengah taman yang indah. Ekgita memandang kagum tempat itu.
"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" tanya Ekgita yang masih terkagum-kagum dengan pemandangan yang dia lihat.
Miko tersenyum lalu berjongkok satu kaki, "Miko?" Ekgita menatap Miko terkejut.
__ADS_1
"Will you marry me?"
3 minggu kemudian
"Miko apa?!" seru Ekgita yang menggema di rumahnya, "Om serius kan?!"
"Ekgi, tenang dulu nak" ujar Bunda Ekgita yang berusaha menenangkan anak satu-satunya itu.
Ekgita melepaskan tangan Bundanya dari pundaknya, "Ekgi, gak percaya Om"
"Tapi memang Miko tiba-tiba menghilang nak. Maka dari itu, Om milih buat batalin pernikahan kalian" jelas Ayah Miko sambil berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ekgita melempar vas bunga yang berada di meja, "Kalian jahat!"
Ekgita menangis dan berlari menuju kamarnya. Sampai malam tiba Ekgita masih menangis di balik pintu kamarnya. Kemudian dia mendoak memperlihatkan mata yang sembab. Dia berjalan keluar kamar dan mendekati orang tuanya yang berada di ruang tamu.
"Ekgi, Ayah sudah pernah katakan bukan. Tyno adalah pilihan yang tepat" ujar Ayah Ekgita tanpa melihat putrinya itu.
"Ayah, jangan bahas itu dulu" tegur Bundanya lembut.
Ekgita tidak menjawab tapi malah menyodorkan sebuah pamflet anggota UN, "Ekgi mau nenangin diri disana"
"Kau gila!' sentak Ayah Ekgita sambil melempar pamflet itu jauh-jauh, "Itu medan perang Ekgita!"
"Tanoa persetujuan Ayah pun, Ekgi akan pergi" putus Ekgita yang langsung pergi meninggalkan Ayah dan Bundanya di ruang tamu.
Flashback end.
Ekgita melihat foto di handphonenya lalu kembali menangis, "Kau jahat, Miko" ujar Ekgita yang memeluk gambar di handphonenya itu, "Aku masih sangat mencintaimu…bahkan hingga saat ini" tangisan Ekgita semakin deras, "Tapi…rasa kecewaku lebih besar…dari rasa cintaku"
Selama Ekgita menangis, seseorang membuka pintu ruangan Ekgita sedikit dan dapat mendengar semua aoa yang dia katakan. Pintu itu tertutup pelan. Miko berjalan tegas dengan wajah dingin meninggalkan Rumah Sakit itu. Setetes air mata jatuh saat di sudah sampai di tempat dimana mobilnya di pakirkan. Tubuhnya merosot di samoing mobilnya.
"Maaf kan aku. Maafkan aku, Ekgi"
...~...
Purwokerto, 10.00
Rumah Sakit
"Alys/Lysa!"
Arif dan Tyno menatap terkejut Aly yang baru saja selesai shift.
"Al ini tidak seperti ala yang kau pikirkan" ujar Tyno yang berusaha menjelaskan pada Aly tentang situasi sekarang.
Aly melihat perempuan yang tengah ribut dengan Tyno. Tiba-tiba perempuan itu mendekati Aly dan menatap Aly dari atas sampai bawah.
"Kenalkan, Dhita tunangan Tyno" ujar Dhita dengan nada di buat manja.
Aly menatap tangan Dhita beberapa detik lalu menyalaminya. Sebuah sengatan listrik bervolt rendah mengejutkan Aly lalu melepaskan genggaman itu dengan kasar.
"Saya permisi dulu" pamit Aly yang langsung lari meninggalkan loby.
Arif berniat mengejar Aly tetapi mengingat dirinya harus bersiap mengambil shift membuatnya mengurungkan niatnya, sedangkan Tyno juga ingin mengejar Aly tetapi di cegah Dhita dengan bergelayut lagi di lengan kiri Tyno.
Arif menatap Tyno dengan marah, "Kapten, ke ruangan saya sekarang" titahnya dengan nada geram, "Dan jangan bawa belatung itu"
Tyno mengangguk lalu menarik Dhita agar menyingkir darinya, "Dengar Dhita, kita udah selesai. Gue bukan tunangan lo, dan gue gak pernah terima pertunangan menjijikan itu. Camkan itu!" ujar Tyno sambil menunjuk wajah Dhita, "Laksa, buang jauh sampah ini"
"Baik!"
"Dasar tak tahu diri" celetuk Dhita yang membuat Tyno semakin geram.
Tyno yang merasa di rendahkan mengambil sebuah botol mineral di meja resepsionis lalu meminumnya sedikit. Dia mendekati Laksa yang sedang menarik Dhita dengan paksa.
"Kenapa? Mau memukulku? Menamparku?" tantang Dhita dengan nada meremehkan, "Kau itu pecundang yang tak tah…"
Currr.
Air dalam botol mineral itu mengalir tepat di atas kepala Dhita. Dhita yang tidak percaya apa yang Tyno lakukan hanya dapat membelakan matanya. Tyno mengambil tisu di meja resepsionis lalu mengelap wajah Dhita kasar.
"Pantes" gumam Tyno yang lalu tersenyum meremehkan, "Gak sadar diri, soalnya pake bedak tebel, jadi gak keliatan wajah aslinya ya?" setelah mengucapkan hal itu dengan keras Tyno pergi meninggalkan Laksa dan Dhita yang masih speechless dengan perlakuan Tyno yang menurutnya sudah menginjak harga dirinya.
"Malu sendiri kan" celetuk Laksa saat mereka sudah sampai di luar, "Jangan remehkan Arisakti, ******"
__ADS_1
...****************...