
...****************...
4 Agustus
Lombok 8.00
Aly tengah menyuapi Lisa yang sekarang sudah membaik, bahkan bisa di ajak bercanda. Sesekali Aly datang mengunjungi Lisa hanya untuk bercanda atau menceritakan sebuah cerita, bahkan Lisa juga sudah memberikan ciri-ciri ayah ibunya yang membuat mereka merasa dimudahkan.
"Kak, apa Ibu Lisa sudah datang?" tanya Lisa dengan mulut penuh.
Aly tersenyum dan membersihkan sisa makanan di mulut Lisa, "Umm belum, tapi kakak yakin dia akan datang"
Raut wajah Lisa berubah muram tapi Aly dengan otak cerdiknya membuat Lisa percaya apa yang dia lakukan, "Mau dengar mantra kakak?" tanya Aly lirih di telinga Lisa. Lisa yang notabenenya masih mudah dibohongi hanya mengangguk dengan semangat, "Ikuti kakak oke? Tuhan, tolong bawakan orang yang aku sayangi" setelah menyebut mantra itu Aly membuka matanya dan hal pertama dia lihat adalah sosok pria dengan tubuh lumayan tinggi, dengan kaos cokelat berbahan rajut dan berwajah dingin. Bukannya senang Aly malah menatapnya tidak suka.
"Ibu!" teriak Lisa pada wanita yang muncul dari balik pria itu.
"Lisa!" wanita itu menghampiri Lisa dan Aly yang paham situasi hanya mundur meninggalkan ibu dan anak itu.
Melihat itu Aly tersenyum senang, begitu pula sosok pria tadi. Pria itu menatap Aly dalam, dan membuat Aly merasakan risih dengan tatapan pria itu.
"Apa liat-liat?" tanya Aly acuh tanpa menatap pria itu.
Pria itu tersenyum kecil, "Ternyata kuntilanak tidak semenakutkan itu ya?" ujar pria itu dengan nada meledek.
"Heh! Dasar setan lombok tidak tau diri!" geram Aly walau masih tersenyum.
Tyno hanya terkekeh pelan, wanita tadi menghampiri keduanya bersama Lisa, "Terimakasih Pak Tentara dan Bu Dokter, karena kalian kami masih bisa bertemu"
Aly terkekeh pelan sambil menenangkan Ibu Lisa dan mengajak Lisa bercanda lagi. Sedangkan Tyno, dia melihat Aly dengan tatapan sulit di artikan dan meninggalkan mereka tanpa sepatah kata. Aly yang merasakan Tyno pergi hanya menatap punggungnya yang mulai tertutup oleh tenda darurat.
'Dasar pria aneh' pikir Aly sambil kembali bercanda dengan Lisa.
Tyno yang keluar dari tenda darurat tidak sengaja bertemu Alfan dan Afrizal yang sepertinya akan melapor.
"Kapten kenapa?" tanya Alfan yang memang paham dengan perubahan hati Tyno.
Tyno hanya menjawab dengan menaikan salah satu alisnya, "Kau lupa ya kalo kapten kita ini sedang jatuh cinta" ujar Afrizal dengan gaya dramatis.
Keduanya tertawa dan sebuah rangkulan membuat mereka terdiam, "Ckckck kalian suka sekali mengerjai kapten ya" celetuk pria yang merangkul mereka dengan aura tidak biasa.
Afrizal yang merinding langsung mengetahui siapa pria itu, "Brengsek ya Sak!" umpat Afrizal sambil melepaskan rangkulan pria itu.
Seorang pria dengan pakaian Tentara lengkap hanya tertawa kecil.
"Sakti, bagaimana bagian Lombok Timur?" tanya Tyno tanpa mengubah ekspresi dinginnya.
Sakti berdiri tegak dan memberi hormat pada Tyno, "Siap, sudah ada setengah korban yang nyatakan hilang dan mereka sudah di makamkan, laporan selesai" jelas Sakti formal sambil memberi hormat.
"Disini masih belum ada setengah sama sekali" gumam Tyno sambil mengusap wajahnya kasar. Walau dia bergumam tiga orang di depannya masih bisa mendengarnya juga memasang wajah sedih, "Jangan patah semangat, terus mencari!" titah Tyno dengan lantang sampai para Tentara di sekitarnya juga mendengarnya.
"Siap!" jawab semua Tentara yang mendengar perintah Tyno.
"Alfan" panggil Tyno sebelum dia meninggalkannya, "Kau fokus pada jaringan dan listrik terlebih dahulu. Aku lebih khawatir pada susulan selanjutnya" mendengar itu Alfan hanya mengangguk dan memberi hormat lalu meninggalkannya.
Tyno memejamkan matanya sesaat sambil mengadah ke langit, 'Perasaan apa ini? Kenapa rasanya begitu sesak? Aku khawatir terhadap sesuatu yang belum jelas?' pikir Tyno dan saat dia menatap lurus pandangannya tidak sengaja menangkap Aly yang sedang duduk di belakang tenda darurat sambil memijat kakinya, 'Aku takut mengkhawatirkan dia?' pikirnya sambil mendekati Aly perlahan.
Aly yang sedang beristirahat sambil memijit kakinya terdiam sesaat, "Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku khawatir pada Setan Lombok sialan itu?" gumam Aly sambil kembali memijit pergelangan kakinya.
Tanpa Aly sadari Tyno berada tepat di belakangnya saat dia mengatakan hal itu, "Umm begitu" mendengar suara itu Aly mundur beberapa centi dari tempat duduknya sampai hampir terjungkal, "Jadi anda takut kehilangan saya?" tanya Tyno polos.
Aly menatap Tyno tajam dan berdiri sambil membersihkan tangan serta celana creamnya, "Kau itu beneran setan Lombok apa ha?! Main datang gak pake salam dulu! Lagian jangan kepedean dulu ya!" kesal Aly sambil menunjuk wajah Tyno.
"Dasar kuntilanak hijau" celetuk Tyno dengan. ada datar.
"Apa kau bilang?!"
"Kunti Hijau"
"Dasar Tentara Geblek!"
"Kunti Hijau"
__ADS_1
"Setan Lombok sialan!" geram Aly sambil meremas angin. Sedetik kemudian Aly menghela nafas berat, "Berdebat dengan mu tidak akan selesai!" ucap Aly yang langsung meninggalkan Tyno.
Tyno hanya terkekeh sambil menatap kepergian Aly yang menuju tenda obat-obat, "Aku juga takut kehilangan" gumam Tyno yang masih memperhatikan tenda obat-obatan.
"Jadi perempuan itu yang berhasil mencairkan hati beku milik prince ice Tentara khusus?"
Mendengar suara wanita yang dia kenal Tyno hanya menghela nafas pasrah sambil berdecak pinggang, "Lagian dengan adanya dia, bisa jadi alasan aku untuk menjauh dari mu" celetuknya sambil tersenyum jahat.
Wanita itu memukul lengan Tyno cukup keras, "Perkataan mu barusan itu kejam, tapi ada benarnya juga" Tyno hanya mengendikkan bahunya, "Lucu juga sih"
Tyno yang sudah berbalik kembali mendekati Wanita itu, "Lucu kenapa?" tanyanya heran.
"Satu beauty satu beast" jawabnya dengan tawa riang dan meninggalkan Tyno yang menahan kesal.
"Sabar. Ekgita, tunggu!" teriak Tyno yang berjalan mendekati Ekgita.
Aly baru saja keluar dari tenda obat-obatan dan akan menuju tenda istirahat dokter. Tidak sengaja Aly menabrak seseorang, "Ahh maaf, saya tidak lihat"
"It's okay" wanita berjas dokter tetapi memakai pakaian tentara tersenyum ke Aly, "Oww iya, Aku Ekgita Misella"
"Alyssa Mustika…Aly. Anda ingin ke tenda istirahat?" tawar Aly sambil menatap Ekgita dengan tatapan sulit diartikan.
Ekgita mungut-mungut, "Boleh sekalian aku juga ingin makan, dan jangan formal"
Aly terekekeh, "Baiklah, ngomong-ngomong kau dari Divisi mana?"
"Jambi, Dokter Militer Jambi" jawab Ekgita.
"Berarti kau kenal Dokter Cecil?"
Mimik wajah Ekgita berubah seketika, "I…iya" jawabnya singkat seperti tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang Cecil.
Aly berhenti sesaat menatap punggung Ekgita lekat-lekat. Ekgita yang tidak merasakan seseorang di sampingnya juga berhenti dan berbalik mencari Aly. Yang dicari hanya tersenyum penuh arti.
"Kau ada masalah?" tanya Aly penasaran.
Ekgita tersenyum kecut, "Tidak" jawab Ekgita berat.
"Terus masalahmu dengan Miko?" mendengar nama itu Ekgita langsung tersentak dan mundur beberapa langkah, "Sebenarnya paling males kalo baca pikiran orang" gumam Aly sambil menatap arah lain.
"Hahahah, kau dengar ya?" tawa Aly canggung. Dia mendekati Ekgita, "Kalau kau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku" tawar Aly sambil tersenyum manis.
Ekgita menarik tangannya dan menatap tanah pijakannya, "Aku kecewa padanya" ujarnya setelah beberapa detik terdiam, "Dia membuat keluargaku malu. Tapi saat ayah bertemu Tyno, dia berusaha menjodohkan ku dengannya"
Aly hanya mengagguk angguk kecil sambil sesekali melirik Ekgita yang memasang wajah sedih, "Kau tidak suka pada Tyno, tapi sekarang kau melihatnya disini. Jika kau merasa kau sudah memaafkannya, cobalah sedikit dekati dia dan biarkan dia bercerita" ujar Aly yang semakin menyakinkan Ekgita jika dia bisa membaca pikiran miliknya.
Mendengar statement Aly yang tepat, Ekgita langsung mempercayai jika Aly adalah seorang mind reader, "Tidak, lebih baik aku per…"
"Kalian tidak jauh beda. Satu egonya besar dan satunya rasa kekecewaannya yang tidak kunjung hilang" celetuk Aly sambil menatap, "Kau tau satu hal" Ekgita menatap Aly penasaran, "Tanggal Miko meninggalkan mu itu sama dengan berpisahnya aku dengan kekasihku"
Ekgita mendelik terkejut dengan penuturan Aly, "Maaf, aku jadi membawa memori buruk" sesal Ekgita yang kemudian tersenyum, "Bisa kita jadi teman?" tanya Ekgita sambil mengulurkan tangannya.
Aly terkekeh dan menarik tangan Ekgita sambil kembali berjalan, "Tentu!".
Tanpa mereka berdua sadari terdapat empat pasang mata yang tertuju dengan niatan yang sama. Pria yang memilili badan sedikit kekar berdecih melihat kedua perempuan ity tertawa dan berjalan bersama. Sedangkan pria berbadan lebih kecil hanya terkekeh pelan.
"Sekarang apa?" tanya pria berbadan lebih besar itu.
"Sabar, lagian kau bukan eksikutor" ujar pria berbadan lebih kecil dan meninggalkan pria sebelumnya, "Ini menarik".
Pria berbadan kekar itu masih menatap arah dua perempuan itu yang sudah tidak terlihat, "Rasanya aku sedikit ragu" pria itu mengeluarkan sebuah koin dan melemparnya ke udara dengan cepat dia menangkap koin itu dan terlihat kepala. Dia hanya tersenyum miring.
"Haishh, Raven dengar ini ngamuk dia" seorang pria bertopeng beruang setengah wajah dari sebuah atap rumah yang masih berdiri kokoh.
Lombok, 14.00
Tentara yang dibantu tim relawan lainnya tengah membersihkan jalanan yang masih tertutup rerubtuhan bangunan. Ada juga yang masih mencari korban lainnya di bawah reruntuhan itu. Terdapat beberapa rumah yang masih berdiri walau terdapat beberapa kerusakan juga.
Cecil yang keluar dari tenda darurat langsung menghampiri gerombolan tentara yang sedang mengangkat puing-puing tidak jauh dari tenda darurat. Melihat Tentara lainnya pergi memindahkan puing-puing itu, seorang Tentara pria masih disana, melihat itu Cecil menambah kecepatan jalannya dan menepuk pundak Tentara itu, "Kau tidak lelah?" tanya Cecil pada pria bertumbuh lumayan tinggi itu.
Pria itu menengok kebelakang lalu tersenyum, "Sedikit, tapi jangan khawatir" ujar pria itu sambil tersenyum sambil memberikan kepastian agar Cecil tidak khawatir terhadap dirinya.
__ADS_1
"Iya sayangku iya. Ngomong-ngomong, apa kau melihat Miko? Sejak pagi aku tidak lihat dia" tanya Cecil sambil celingukan melihat sekeliling.
"Kalau tidak salah dia pergi tadi pagi, katanya mengambil cadangan makanan" jawab pria itu sambil mengambil beberapa beton yang lumayan besar untuk disingkirkan.
Cecil hanya mengangguk-angguk kecil dan tak sengaja melihat lengan pria itu yang digulung, "Astaga, Bayu kau terluka?!" seru Cecil yang menyambar kasar tangan pria yang dipanggil Bayu.
Bayu sedikit meringis sakit saat Cecil menarik paksa tangannya, "Hanya luka kecil, nanti juga sembuh sendiri" ujarnya sambil berusaha menenangkan kekasihnya itu. Cecil menarik sebelah alisnya dan meremas kuat tangan Bayu yang terluka, "Akhh sayang! Kau ingin menambah lukanya semakin dalam?!" Seru Bayu yang langsung menutup mulutnya dan mengusap kasar wajahnya, "Okeh maaf" sesal Bayu sambil tersemyum kecut.
Dengan cepat Cecil mengeluarkan kotak P3K mininya dari dalam tas medis yang selalu ia bawa. Dengan cekatan namun pelan dan halus, Cecil membersihkan darah kering di sekitar luka dan melihat kondisi luka Bayu dengan serius. Melihat luka Bayu yang tidak terlalu dalam Cecil menghela nafas lega.
Kisah cinta dua sejoli ini sebenarnya sedikit kuno. Cecil adalah anak Piatu yang dimana wasiat terakhir Ibunya agar dia mau dijodohkan dengan anak temannya yang ternyata seorang yatim piatu. Klasik memang, tapi perjodohan itu bisa lancar, bahkan sampai menumbuhkan benih cinta diantara mereka. Hanya dalam kurun waktu 5 bulan mereka sudah saling jatuh cinta. Dan kini hubungan mereka sudah menginjak 3 tahun.
"Kenapa kau bisa terluka seperti ini? Dan kenapa kau tidak langsung mengobatinya?!" kesal Cecil sambil menutupi luka Bayu dengan rapih.
"Sepertinya tadi tidak sengaja tergores besi yang melintang saat akan merobohkan tembok" jawab Bayu dengan lembut, "Jangan cemberut gitu dong, tadi aku berniat menuju tenda medis tapi terlupa" kekeh Bayu sambil menepuk pelan kepala Cecil, "Sudah jangan marah lagi" ujarnya sambil mengusap pelan pipi Cecil.
Cecil menunduk dan menatap Bayu. Air mata yang tak terbendung mengucur deras dari kedua matanya, bibirnya tersenyum lalu mengangguk yakin. Bayu tersenyum lalu memeluk kekasih yang sangat ia cintai ini.
"Shhh sudah, jangan menangis. Aku yang salah" sesal Bayu yang masih dengan senyuman lembutnya.
Cecil balik memeluk Bayu dan menyembunyikan wajahnya yang baru menangis itu di pundak Bayu.
Disisi lain Tyno yang tengah mengangkat sedikit sisa-sisa gempa dengan Tentara lainnya, tak sengaja melihat adegan berpelukan itu dan sedikit berdecih tidak suka.
"Oy oy kapten!" Seru Alfan yang berjalan bersama Afrizal menuju Tyno yang masih memperhatikan sepasang kekasih itu.
"Kenapa anda melihat mereka seperri itu, Kapt?" tanya Afrizal dengan wajah meledeknya.
Tyno memasang wajah sinisnya, "Mau sampai kapan mereka mempertunjukkan adegan Teletubbies itu?" ucapnya sambil memerintahkan Tentara lainnya untuk mengangkut sisa-sisa yang barusan dia selesaikan.
Alfan tertawa sangat puas, berbeda dengan Afrizal yang hanya terkekeh kaku, "Lebih baik kau cepat-cepat cari pasangan agar bisa merasakan pelukan hangat orang yang sangat kau cintai"
Tyno menyerit menatap Alfan yang tiba-tiba menjadi sangat bijak, "Memang kau pernah merasakannya?" ujar Tyno dengan tatapan dan nada yang sangat sinis.
Afrizal mengangkat kedua alisnya menunggu perdebatan kedua makhluk itu, "Bentar lagi bakalan dapet" ujarnya sambil membanggakan dirinya sendiri.
Afrizal dan Tyno saling bertatapan dan menyerit heran, "Memang siapa yang mau sama makhluk seperti kau?" tanyaAfrizal dengan nada tidak percaya.
"Heh! Aku sedang mendekati salah satu tim medis" jawab Alfan.
Mendengar jawaban Alfan, Tyno lalu mendekatinya sambil menatap tajam dirinya, "Eh? Anu…dia perawat…Bu…bukan Dokter kok. Dokter Aly untuk kau saja" jelas Alfan dengan vengiran polos tanda damai darinya.
"Brisik!" sentak Tyno yang kemudian berbalik hendak melanjutkan pekerjaannya.
Afrizal menggeleng pelan, "Semua orang disini sudah tau kalau kapten tengah membangun cinlok dengan dokter Aly" timpalnya yang memberikan kejelasan pada perkataan Alfan barusan.
"Nah kan, Afrizal aja tau. Apalagi dengan menggendong Dokter Aly sampai 2 kali, semakin memperkuat hipotesisku tentang perasaan Kapten" ujar Alfan yang menyetujui perkataan Afrizal.
Merasa geram Tyno menghampiri kedua pria yang tengah tertawa itu dan…
Dug.
Dia memukul keras kepala keduanya. Afrizal hanya meringis kesakitan sambil memegang kepalanya, sedangkan Alfan sudah berjongkok dan memegangi kepalanya.
"Kapten! Sakit!" seru keduanya bersamaan.
"Teruskan saja perkataan kalian itu, maka bukan hanya kepala saja yang akan kesakitan tapi seluruh tubuh kalian juga akan ku buat sakit" ancam Tyno sambil menggaruk lengannya, "Lagian aku juga punya rasa kemanusiaan"
"Anda manusia?"
Plak.
Pukulan kembali mendarat di kepala Afrizal, dan membuat dia menunduk meminta maaf.
"Bayangkan saja jika aku tidak membantunya mungkin dia sudah lebih parah keadaannya dari sekarang" bela Tyno sambil terus menggaruk tangannya, 'Sudah kuduga bukan semut' pikir Tyno yang langsung meninggalkan dua bawahannya itu.
"Kapten?" panggil Alfan yang heran dengan tingkah Tyno yang tiba-tiba menggaruk tangan dan kakinya.
Afrizal melihat kepergian Tyno dengan tatapan meledek, "Penyakitnya kambuh" bisiknya pada Alfan.
"Oh iya, Makan siang tadi makanan laut"
__ADS_1
"Sekalian modus" ledek Afrizal yang dibalas tawa oleh Alfan.
...****************...