
...****************...
20 Nov
Purwokerto, 13.27
Di dalam sebuah ruangan hanya terdengar sebuah keyboard. Terdapat tiga orang di dalam ruangan itu.
Klek.
"Huaaa, pasien IGD banyak banget hari ini" seru Iza yang langsung membanting tubuhnya keatas sofa di ruangan itu.
3 perawat yang sedang berada disana menatap Iza kesal, lalu kembali pada pekerjaan mereka. Tapi tidak dengan Alfi yang masih menatap heran Iza.
"Ayda mau pindah juga sih ya, makanya kau dipindahkan ke IGD"
Iza menjentikkan jarinya, "Benar, kau enak langsung dapet ganti. Aku?"
Alfi terkekeh pelan, "Tapi yang jelas aku akan rindu Aly dan Ayda sih"
Klek
"Apa nih? Kok ada kerangka jalan"
"Heh beruang kutub, diam kau ya"
"Heh Jalangkong, gak usah balikin ya"
Iza ingin melawan tapi sudah di cegah oleh Alfi yang bertanya pada David yang baru saja duduk di sebelah Iza itu, "Kalian gak ada kerjaan kah?"
"Aku sih udah selesai ya, tapi gak tau beruang kutub satu ini. Palingan minggat dari ruang pediatri" sindir Iza yang berakhir dengan tiga buah kue kering yang dipaksa masuk oleh David, "Liwhawt!" seru Iza yang tetap berusaha mengunyah dan menelan kue kering itu.
Alfi berbalik sambil menahan tawa karena tingkah keduanya. Saat dirinya akan kembali mengetik, tangannya tidak sengaja menyenggol kalung rantai milik Alfan yang selalu dia bawa.
"Jaga ini sampai aku kembali oke" perkataan Alfan masih di ingatnya lalu membuatnya kembali sedih.
David yang memperhatikan Alfi hanya bisa menghela nafas pelan. Iza tahu apa yang Alfi pikirkan dan bahkan dia juga tahu kenapa David menghela nafas pelan.
"Kau masih menyukainya?" tanya Iza yang berbisik agar Alfi tidak dengar.
David hanya mengangguk sebagai jawabannya, "Apa kau gak ada niatan buat nembak dia?" tanya Iza dengan berbisik lagi.
Kali ini David menggeleng, "Kenapa?" suara Iza mejadi keras setelah David menggeleng, tapi dengan sigap David membekap mulut Iza dan memberi isyarat agar dia memelankan suaranya.
"Suara kau tuh!" geram David dan Iza hanya mengangguk cepat, "Dia kan sudah ada yang lain. Aku gak mau merebut punya orang" ujar David yang terus memperhatikan Alfi yang masih berkutat di depan komputernya.
"Tapi kan orang itu sudah tiada" celetuk Iza yang memasang wajah berfikirnya.
"Kalaupun aku nembak dia, tapi gak bisa buat dia bahagia. Sama aja percuma kan?" jawab David yang menyenderkan tubuhnya di senderan sofa, "Sebuah hubungan itu dijalin dengan rasa sayang dan bahagia. Bukan tertekan atau terpaksa" jelasnya sambil terus memperhatikan Alfi, "Lagian melihatnya bahagia juga sudah buat aku ikut nahagia kok"
Iza menatap David dengan mulut terbuka, "Wow, beruang kutub kita ternyata sangat realistis sekali"
Klek
"David!"
Mendengar namanya di panggil dengan suara yang familiar, David langsung berdiri, "Dokter!"
"Jaga koh!"
__ADS_1
"Siap, Dok!"
Semua orang yang di dalam hanya bisa menggeleng melihat tingkah David dan Dokternya, Arif.
"Alf, Lysa minta kita bareng" ujar Arif yang lalu menutup pintunya setelah Alfi menjawabnya dengan anggukan pelan.
"Emang dasar beruang kutub" celetuk Iza yang kemudian tiduran di sofa ruangan itu.
...~...
15.17
Aly baru saja duduk di kursi sofanya setelah selesai membereskan barang-barang miliknya. Hari ini dia berencana untuk melakukan pesta kecil kecilan di taman belakang yang memang di persiapkan jika ada pesta kecil. Fox dan Leo juga membantunya dengan memindahkan beberapa barang disana.
Sudah banyak kenangan yang dia rajut di Purwokerto ini. Dari yang menyenangkan sampai yang menyakitkan. Teman-temannya yang sudah dia anggap keluarga, sampai kepergian Zakra yang baru dia ingat satu tahun ini. Aly menatap kalung Zakra yang sekarang dia jadikan gelang.
"Dan sekarang aku malah bersama sahabatnya" gumam Aly sambil melihat gelang kucing miliknya, "Seakan takdir memang sedang mempermainkan ku" celetuknya yang kemudian terbengong karena perkataannya sendiri, "Saat aku bersama dengannya aku merasa seperti sedang bersama Akra" gumamnya sambil memikirkan apa yang barusan dia katakan, "Atau aku hanya menjadikan dia pelampiasan?"
Saat sedang memikirkan hal itu Atha berteriak dari arah halaman rumah, "Kakak ada tamu!"
Aly menyeritkan dahinya karena dia merasa tidak memiliki janji di jam ini. Saat dia di depan Aly melihat Atha dan Tyno sedang berbincang 'santai' dengan Atha yang menodongkan gagang sapu yang sedang dia gunakan.
"Kalian sedang apa sih?" tanya Aly yang merasa eran dengan tingkah keduanya.
"Manusia ini tiba-tiba muncul tanpa di undang" jawab Atha sambil terus menodongkan gagang sapu pada Tyno.
"Kan aku dah bilang, kalau kakak mu itu punya janji sama aku" ujar Tyno yang berusaha menyakinkan Atha.
Aly menyerit heran karena dia merasa tak ada janji tapi sedetik kemudian dia mengingatnya, "Benar juga, aku lupa. Bentar aku ganti baju dulu" celetuk Aly yang berlari kedalam rumah.
"Kakak jangan lari-lari" tegur Atha yang menurunkan gagang sapunya, "Ayo masuk"
Tyno baru saja duduk di sofa tapi kemudian dia merasakan dinginnya sebuah pedang berukuran 30 centi di lehernya.
Tyno hanya mengangguk paham dengan perkataan Atha.
"Kak, sepertinya Kakak ku punya keraguan dalam hubungan kalian" celetuk Atha dengan wajah datar.
Tyno terdiam cukup lama lalu tersenyum tipis, "Kalau begitu aku akan buang keraguan itu" jawabnya dengan ringan dan santai.
"Walau Kakak ku berfikir kau hanya pelampiasannya saja?"
Senyuman Tyno berubah menjadi sinis, "Jika memang aku hanya dijadikan pelampiasan, lalu kenapa dia memandangku dengan tulus? Mau menerima ku tanpa memikirkan tentang masa lalu ku? Atau bahkan jatuh cinta padaku tanpa berfikir panjang?"
Atha menatap Tyno tidak percaya. Dia masih terkejut dengan semua jawaban Tyno barusan. Dia belum pernah melihat seorang pria dengan percaya diri mengatakan semua itu. Bahkan dirinya merasa jika dia se pengecut itu.
Atha tersenyum sinis, "Naif sekali pemikiran mu"
Tyno terkekeh pelan, "Naif? Bukan, ini adalah pemikiran seorang pria yang benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis yang berhasil menawan hatinya dengan pesonanya yang unik"
Tawa Atha terdengar menggema di rumah Aly. Semua jawaban Tyno barusan sudah diluar prediksinya.
"Jadi ini alasan Zakra memilih mu untuk bersama Kakakku" ujar Atha di tengah tawanya.
Mendadak wajah Tyno berubah serius, "Zakra? Bagaimana kau kenal dia?"
Atha yang baru saja menghentikan tawanya hanya bisa memandang remeh Tyno, "1…2…3"
"Ayo" celetuk Aly sambil menuruni tangga dengan cepat, "Kakak pergi dulu, nanti paling kalau Kakak belum balik suruh mereka mulai makan duluan aja"
__ADS_1
Tyno tetap menatap Atha serius sampai Aly menarik dia keluar rumah. Atha yang mengikuti mereka hanya melambaikan tangannya lalu tersenyum misterius.
"Dia memang baik"
"Sudah kubilang, dialah yang cocok untuk Lysa" ujar Zakra yang berada di belakang Atha.
"Sampai mana penglihatan mu itu?"
Zakra tersenyum lalu menghilang perlahan, "Rahasia"
...~...
Setelah sampai di Mall, Tyno langsung turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Aly. Selama perjalanan Aly memang hanya terdiam sampai saat Tyno membukakan pintu untuknya, dia juga hanya menatap Tyno tanpa ekspresi.
"Kau kenapa?" tanya Tyno yang berjongkok dengan bertumpu pada pinggiran pintu sambil menatap Aly.
Aly menatap Tyno dalam tanpa ekspresi, "Apa kau merasa hubungan ini ada yang janggal?"
Sebuah senyuman getir terlintas di wajah Tyno sesaat lalu senyuman itu berubah menjadi senyuman tulus nan hangat, "Apa kau sedang berfikir jika hubungan kita ini hanya pelampiasan bagi mu saja?"
Aly menyerit heran dan menatap Tyno dengan wajah terkejut, "Kau bisa membaca pikiran?"
Tyno tertawa pelan lalu mengambil kedua tangan Aly, "Atha juga bertanya yang sama tadi" Aly tidak menjawab dia hanya menatap Tyno penasaran, "Dan kau tahu jawaban ku?" Tyno menggenggam tangan Aly erat, "Aku akan buang keraguan itu, dan jika memang aku hanya dijadikan pelampiasan, lalu kenapa dia memandangku dengan tulus? Mau menerima ku tanpa memikirkan tentang masa lalu ku? Atau bahkan jatuh cinta padaku tanpa berfikir panjang?"
Sesaat Aly terdiam. Dia tidak bisa berkata-kata. Apa yang Tyno bilang memang benar adanya. Apa yang Tyno katakan, dia lakukan semua.
Aly balas menggenggam tangan Tyno erat, "Tapi bagaimana jika itu terus berlanjut?"
Tyno tersenyum lembut lalu memeluk Aly erat, "Aku akan terus bersama mu, dan membuktikan semuanya"
Mendengar itu Aly membalas pelukan Tyno, "Terimakasih, aku sangat berterimakasih"
Tyno menggosokkan hidungnya di tengkuk Aly, "I love you"
...~...
Ting…tong
Atha yang sedang memasang api pada panggangan barbeque menjadi merasa heran karena yang dia ingat Aly bilang kalau Arif dan Alfi datang jam 8. Atha melihat jam tangannya dan baru pukul 6.
"Fox!" teriak Atha tapi tidak ada jawaban, "Leo?!"
Atha berjalan menuju pintu depan dan mengintip di kaca jendela. Seketika Atha menempel pada tembok.
"Dia kan…"
Drrtt…Drrtt
Atha mengangkat telfonnya, "Hallo, Kek?"
"Jangan buka pintu. Iyas akan sampai disana"
Mendengar itu Atha terdiam sejenak lalu menutup telfonnya sepihak.
'Apa karena aku belum sehebat apa yang Kakek ingin kan?'
Tok…tok…tok
"Atha!" suara Iyas membuyarkan semua lamunannya lalu menggeleng keras.
__ADS_1
'Tidak! Aku juga Arikinan!'
...****************...