
...****************...
Aly baru saja selesai membereskan obat-obat dan melihat clipboardnya untuk mengecek ketersediaan obat lainnya. Setengah Dokter sedang beristirahat karena mendapat shift malam dan setengah tengah berjaga di tenda darurat serta tenda pasien.
"Astaga aku harus memeriksa pasien" ujar Aly yang menepuk dahinya pelan.
Sebuah tangan menepuk bahu Aly, "Bisa bantu aku?" bisik seseorang tepat di telinga Aly.
Aly langsung berbalik, "Kyaa! Kau?!" sentak Aly yang memukul lengan orang itu, "Kau itu memang setan Lombok kah?!" omel Aly yang menatap garang orang yang tak lain adalah Tyno.
Sebuah gerangan kucing kembali terdengar di kepala Tyno saat melihat wajah Aly yang kesal karena ulahnya. Rasanya dia ingin tertawa tapi rasa gatal di kedua tangannya membuat dia lebih memilih menggaruknya, "Kau memiliki obat gatal?"
Aly memiringkan kepalanya dan melihat lengan Tyno yang sedang digaruk, "Astaga. Kenapa bisa semerah ini? Apa nyamuk di tenda Tentara sangat ganas sampai membuatmu seperti ini?" ledek Aly yang hanya di balas tatapan datar dari Tyno, "Pfftt, baiklah baiklah. Duduk disitu" perintah perempuan itu sambil menunjuk salah satu kursi, sedangkan dirinya berbalik untuk mencari obat yang akan digunakan.
'Sebentar. Barusan aku diperintah olehnya? Sejak kapan aku mau dengar perkataannya? Mungkin benar otakku sudah kacau karenanya' pikir Tyno sambil terus memperhatikan Aly yang tengah mencari obat.
Aly mendekati Tyno tetapi dia belum membawa satupun obat, "Kau habis makan sesuatu?" tanyanya sambil menatap Tyno.
"Aku alergi beberapa makanan seafood, tapi udang dan cumi bisa aku makan" jawab Tyno sambil menggaruk tangan dan kakinya.
Aly menghela nafas pelan, "Apa kau ada alergi obat?" tanya Aly lagi.
"Tidak" jawab Tyno tegas.
"Sini, biar aku lihat area gatalnya!" titah Aly.
Tyno menggulung sweater yang dia pakai dan celana tentaranya sampai sebetis, Aly bersimpuh sambil melihat area gatal itu.
"Mau suntik atau oles?" tawar Aly sambil menaik turunkan alisnya.
Tyno menatap mata Aly dan langsung berpaling, "Lebih baik oles saja"
Aly menahan tawanya dan pergi mengambil sebuah salap lalu kembali bersimpuh, perlahan dia mengoles salah satu kaki Tyno yang dia taruh di lututnya.
"Apa kau akan meracuni ku?" tanya Tyno sambil memperhatikan Aly yang mengoleskan salap itu dengan teliti.
"Kita lihat saja nanti, kau mati tidak setelah dipakaikan ini" balas Aly yang masih fokus mengoleskan salap itu, "Eh sebentar" Aly menghentikan kegiatannya itu sesaat, "Firasatku saja atau memang sejak tadi kau bicara santai tidak kaku seperti biasanya?"
"Hmm benar juga, aneh bukan?" ledek Tyno yang membalas ledekan Aly sebelumnya dan Aly hanya menatap datar dirinya sambil kembali mengoleskan salap pada kakinya.
Tyno tersenyum tipis dan membungkukkan tubuhnya dengan lengannya bertumpu di atas kedua kakinya. Perempuan itu adalah perempuan yang membuatnya tersenyum kembali. Perempuan yang berhasil mengaturnya, 'Bau yang berhasil membuatku candu' pikir Tyno saat jarak antara dirinya dan kepala Aly hanya tinggal sejengkal, 'Sepertinya memang aku jatuh cinta padanya' pikir Tyno lagi sambil tersenyum lebar.
"Okeh sekara…" saat Aly mendongak wajahnya hampir saja bertabrakan dengan wajah Tyno yang hanya tinggal selisih sejengkal, "Kau!" geram Aly sambil memundurkan tubuhnya bahkan sampai dirinya terjatuh, "Apa-apaan kau?!".
Tyno tertawa pelan dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Aku hanya sedang melihat kau mengobati diriku itu benar atau asal-asalan".
Aly berdecih dan menarik tangan Tyno dengan kasar dan kembali mengoleskan salap pada area gatal dan merah.
__ADS_1
"Hai! Kau ingin mematahkan tanganku?!" protes Tyno.
"Apa tanganmu itu lego?" kesal Aly sambil menatap wajah Tyno, "Sekarang diam dan jangan banyak protes jika ingin sembuh" omel Aly yang kembali mengoleskan salap.
Tyno terus memperhatikan Aly dan kembali tersenyum, "Sepertinya aku rela tidak sembuh demi bisa bertemu dengan Dokter seperri dirimu" celetuk Tyno.
Aly memutar bola matanya malas, "Percuma jika kau gombalin aku"
"Kenapa?"
"Karena aku kebal dari serangan hidung belang macam kau"
"Kau sama kan aku dengan pria hidung belang?!" protes Tyno yang tidak terima dirinya disama-samakan dengan pria kotor seperti itu.
"Lagian gombal mu itu receh, jika ingin gombal, gombalin saja tuh Perawat ku dia pasti bakal teriak bahkan pingsan mungkin"
"Memang kau tidak seperti itu?"
"Ku dah bilangkan, aku kebal"
Tyno mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, "Berarti aku bisa menggodamu terus-terusan ya?" ujarnya yang membuat Aly langsung melihat Tyno kesal.
"Ini obat untuk meredakan rasa gatalnya, 2 kali sehari" ketus Aly yang menyerahkan dua klip plastik berisikan obat tablet.
"Caramu kesal, benar-benar lucu. Cocok dengan image aneh mu" celetuk Tyno yang membuat Aly mendelik kesal, "Lihat, kau sudah tertarik dengan perkataan ku"
Tyno tersenyum dan memperbaiki lengan sweaternya, "Silakan, saja, aku tidak takut dengan Kaptennya Kuntilanak hijau" gumam Tyno yang berjalan keluar dari tenda obat-obatan.
...~...
4 Agustus
Purwokerto, 15.30
Bima yang sudah menyelesaikan tugasnya sebagai Dokter, sekarang tengah mengendarai mobilnya dan berhenti di sebuah cafe yang terlihat lumayan besar. Pengunjung cafe itu juga relatif ramai. Bima menghela nafas pasrah dan turun dari mobilnya.
"Mau pesan apa Mas?" tanya sang Kasir yang juga yang menyiapkan menu.
Bima membaca sebentar menunya dan tak sengaja melihat orang yang memang sedang ia cari. Senyuman tipis terlihat di wajahnya, "Ice Latte, dan brownies cokelat. Dan bisa, tolong diantarkan oleh dia" bisik Bima sambil menunjuk seorang laki-laki bertubuh sedang yang tengah menyiapkan kopi.
"Baik Mas"
Setelah membayar, Bima memilih untuk duduk di pojokan sambil memakai earphonenya menunggu pesanannya datang.
"Kau tahu, aku tidak berani mendekatinya"
Sesosok perempuan yang memakai dress putih dengan bordiran bunga lotus dan kardigan berwarna hitam. Sosok itu memiliki luka di kepala dan perutnya. Dia adalah sosok yang selama ini bisa Bima suruh-suruh. Bukan karena perjanjian atau kekuasaan, tapi untuk rasa berterimakasih dan rasa bersalah. Bima tidak mengenal sosok itu, tapi jika bukan karena Bima yang menemukan jasadnya, dia tidak akan menjadi 'pesuruh' Bima.
__ADS_1
"Selisih kekuatan dan kekuasaan kalian jauh. Lagian dari auranya saja sudah terlihat" celetuk Bima yang menatap handphonenya yang menampakkan beberapa data pasien. Handphonenya tidak memutar lagu, dia memakai earphone hanya agar orang-orang tidak menganggap dia gila.
"Kau menghina ku" ujar makhluk itu datar.
"Hahaha. Iya, aku menyindir mu"
"Pesanan anda" seorang pelayan membawakan nampan berisikan pesanan Bima dan menaruhnya di meja.
Bima menatap pria yang sebenarnya seorang barista itu tajam, "Tyas Rengganing Arikinan" celetuk Bima yang berhasil membuat pelayan itu berhenti dan menaruh brownies yang dia pesan sedikit kasar.
Iyas menatap Bima tajam, "Siapa kau? Mau apa?" tanya Iyas yang langsung siaga.
Bima tersenyum kecil dan menyuruh Iyas untuk duduk di sebrangnya. Saat Iyas duduk sosok perempuan tadi 'berdiri' tepat di belakang Bima. Sedangkan Iyas yang melihat sosok itu hanya menatap sinis dirinya.
"Hahaha santai, dia teman ku" ujar Bima sambil menyeruput minumannya, "Hum~ Ternyata buatan mu enak juga"
Cring.
Tanpa Bima sadari seseorang sudah berada di belakangnya sambil mengacungkan sebuah senjata di lehernya.
Bima POV.
'Gila! Dari kapan ada orang di belakang gue?!' pikir ku yang panik tetapi aku masih memasang wajah yang santai, jangan sampai buat mereka curiga dan berfikirkan aku lawan.
"Siapa kau? Dan tahu darimana nama asli ku?" tanya Tyas yang juga tak kalah tenangnya, "Jangan khawatir, dia gak akan memenggal kepala mu sampai aku memerintahnya"
Aku berusaha tersenyum dan duduk dengan tenang, "Nama ku Bima Zarion, bisa di bilang aku seniornya Lysa dan teman dekatnya" ujarku mempekernalkan diri, "Ya setidaknya sebelum kejadian mengenaskan itu" gumamku yang masih tersenyum.
Aku melihat Tyas menaikan tangannya dan seketika orang dibelakang ku ini menyingkirkan senjatanya dan kembali menghilang, 'Ini sih gue masuk kandang harimau' teriakku dalam hati.
"Jadi kenapa kau ingin menemui ku dan kenapa juga kau tau nama keluarga ku?"
Aku tersenyum kikuk, "Aku butuh akses informasi tentang Lysa" jawabku yang menyendokkan brownies yang ku pesan tadi, "Dan untuk informasi tentang dirimu aku bertanya lewat 'mereka'"
"Kenapa kau butuh akses informasi tentang Alys?"
Aku menatap Tyas dengan tatapan datar, "Bukan Info terdahulu, tapi Info terkini" ujarku yang mulai serius, "Ayu. Jelaskan padanya apa yang mungkin sedang terjadi disana"
Bima POV End.
Mendengar cerita yang Ayu dan Bima katakan membuat Iyas sedikit gusar, "Selain info dari…Ayu?…Aku punya info lainnya" ujar Iyas yang sudah duduk seperti halnya Tuan Muda, "Alys sedang di mata-matai oleh musuh yang sama"
Bima sedikit terkejut dengan perkataan Iyas, "Musuh yang sama?"
Iyas mengangguk dan berdiri, "Karena urusan kita sudah selesai…" Iyas mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Mau bekerja sama?" tawar Iyas.
Bima ikut tersenyum, "Lysa adalah pesan terakhir Zakra, jadi…" Bima menyambut tangan Iyas, "Mari saling menggila"
__ADS_1
...****************...